DEVANORA

DEVANORA
11. Barbeque membakar hati


__ADS_3

Berhasil mengantongi bukti, kedua kalinya Bram bertandang ke kantor polisi. Disana sudah ada Moza dan Ferdy yang didampingi orang tuanya untuk melakukan penyelidikan.


Ferdy mengaku, akan tetapi Moza terus menerus mengelak. Ia tak terima dikait-kaitkan dengan aksi nekad bunuh diri Arin.


"Pikiran Arin aja yang terlalu sempit," ungkap Moza dengan wajah ngototnya.


Namun, bukti yang dimiliki Devano cukup kuat hingga mampu memasukkan dua sejoli itu mendekam di balik jeruji.


Keputusan sidang ketuk palu menetapkan Ferdy menerima hukuman paling tidak sepuluh tahun penjara. Berbeda dengan Moza, ia hanya mendapat hukuman ringan maksimal tiga tahun dan denda sekitar 70 juta bila ingin bebas.


Namun, hal itu tak cukup membuat Bram puas, karena meski mereka dihukum berat, Arin-nya tak akan pernah kembali.


"Nggak mau! Mam, aku nggak mau dipenjara, aku nggak salah!" Moza berteriak frustasi.


Papa Moza berusaha bernegoisasi dengan Bram.


Kendati putrinya salah, sekali lagi Arin meninggal karena bunuh diri, bukan karena dibunuh.


"Tolonglah, Pak! Kita sama-sama orang tua," mohon Papanya Moza.


Bram tak bergeming, hanya menatap datar petugas polisi yang saat ini sedang memohon padanya agar sang anak diberikan pengampunan.


Merasa tak mendapat respon, lantas ia maju beberapa centi agar lebih dekat lalu berbisik, "atau anda ingin seluruh murid di SMA tahu bahwa pemiliknya adalah seorang mantan napi, dengan kasus pengedar obat haram. Otomatis,---"


"Jangan mengancam saya, karena saya tidak takut sama sekali! Apa bedanya dengan anda yang berpangkat tapi rela merendahkan diri demi seorang kriminal seperti Moza!" kekeh Bram.


Lelaki berambut tak lagi hitam itu memijat pangkal hidungnya sembari menatap Bram kesal.


"Orang yang anda maksud itu adalah anak saya!" sengaknya.


"Kalau begitu, lakukan semampu anda untuk membelanya!" Bram yang merasa urusannya sudah beres pun meninggalkan kantor polisi.


"Ma, tolongin Moza! Moza gak salah," rengeknya.


Ayu hanya bisa menatap getir putrinya, "Mama akan usaha cari pinjaman untuk menjamin kamu sayang!" Ayu memegang tangan Moza berusaha menenangkan gadis itu.


"Papa gimana sih, bisa-bisanya biarin Moza ditahan!" gerutunya tanpa mengindahkan napi wanita lain yang saat ini sudah menatap tajam ke arahnya.


"Maaf, Bu! Waktu Ibu sudah habis, silahkan datang lagi besok. Mulai malam ini saudara Moza ditahan," ujar petugas meminta agar Ayu segera pergi.


"Ma, jangan tinggalin Moza," rengeknya histeris.


"Maaf sayang!"


***


Beberapa hari kemudian, tepatnya hari minggu. Devano sudah benar-benar pulih dan sehat, hidungnya pun tak lagi diperban. Namun, masih terlihat jelas memerah bekas luka dan itu butuh waktu lama untuk memulihkannya seperti sedia kala.

__ADS_1


"Ada acara nggak?" pesan Devano ia tunjukkan untuk Keyra. Harap-harap cemas ia menanti balasan dari wanita itu.


"Ada, hari ini gue mau keluar sama Aron!" Tak butuh waktu lama untuk Keyra membalas pesan Devano, dan tak butuh waktu lama juga Devano menelan rasa kecewanya.


Ah andai Arinnya masih ada, atau andai Keyra itu adalah Arin. Mungkin Devano tak akan merasakan sakitnya sebuah penolakan. Baru kali ini ada wanita yang menolaknya, ia pun lantas menghubungi Emily. Belakangan, wanita itu hilang bak ditelan bumi.


Benar saja, nomer Emily pun tak lagi aktif dan Devano merasa wanita itu sedang menghindarinya.


"Mau kemana, Mom?" tanya Devano.


"Mau ke rumah Om Divine, ikut?" tawar Keyra. Tak berselang lama, sang Papa menyusul dengan tangan melingkar posesif di pinggang momy-nya.


"Boleh deh!" jawabnya terpaksa.


Sambutan ramah menanti mereka di depan pintu rumah mewah dua lantai. Satria tersenyum sumringah melihat kedatangan sang adik dengan Aron.


"Dunia berasa sempit kalau lihat kalian berdua," ujar Satria.


"Ish Abang Sat! Aku kan terpaksa nebeng Aron karena Papa nggak bisa datang tepat waktu." Keyra menghambur memeluk abangnya.


"Ayo masuk, langsung aja ke taman belakang! Abang nunggu Om Rafael!" titah Satria.


"Ron, titip si bawel ini," ujar Satria.


"Siap bang!" Aron tersenyum simpul lantas menggandeng tangan Keyra dan mengajaknya ke belakang."


"Bang!" sapa Devano mengangguk sopan. Satria membalasnya dengan senyum lalu menyapa Keyra dan Rafael sebentar.


"Dimana party-nya?" tanya Rafael. Biasanya dulu, ia si paling repot saat Divine mengadakan acara. Namun, sekarang tugasnya hanya untuk urusan kantor bukan lain-lainnya.


"Belakang Om, langsung saja!"


"Ish Om doang nih, anak sulung tega bener nyuekin tante."


Satria tersenyum, "silahkan Tante sayang!"


Devano tertegun, ia melihat keberadaan Keyra disana. Dengan laki-laki, ah Devano sedang berusaha mengingat siapa laki-laki itu. Sepertinya memang Keyra sering bersamanya.


"Dev!" sapa Alina.


"Kak!" Devano tersenyum.


Keyra yang sedang asik berbincang dengan Elen dan Aron sontak menoleh, keduanya bersitatap lama hingga akhirnya Keyra memalingkan wajahnya cuek.


"Ayo, Ra! Cicipi kuenya," pinta Elen.


"Wah, Tante tau gak? Ini kue favoritku lho! Soalnya Papa sering beli, dan Abang Sat sering bawa," ujar Keyra semangat.

__ADS_1


Devano memilih duduk di samping Alina demi mendengar obrolan Keyra bersama Tante Elen dan laki sebayanya.


"Itu dia yang buat, Mamanya Devano!" Elen melebarkan senyumnya menyambut kedatangan sang sahabat.


Keyra hampir tersedak demi mendengar ucapan Tante Elen. Mendadak, kue yang sangat nikmat susah ia telan seolah tersangkut di tenggorokan bersama rasa syok tak terkira.


Uhuk...


Keyra sampai terbatuk, dengan sigap Aron dan Devano menyodorkan minum ke hadapannya.


"Aduhhh cieee, ehm!" Alina tersenyum menggoda melihat kelakuan tiga remaja di hadapannya.


Belakangan Devano gencar mengirimi Keyra pesan. Namun, Keyra masih enggan merespon segala bentuk perhatian Devano. Lantas, Keyra memilih gelas yang berada di tangan Aron.


Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah Aron, ia menang satu langkah dari Devano. Keakraban mereka dari kecil memang nilai plus dalam bersaing mendapatkan hati Keyra. Aron menyimpan perasaan cintanya untuk gadis itu hingga saat ini.


"Makasih, Aron!" Keyra tersenyum sementara Devano hampir menekuk wajahnya. Mengumpati Keyra dalam hati karena berani sekali menolak dirinya terang-terangan.


Devano langsung menepi, akan tetapi Alina langsung menyusul pemuda tampan itu.


"Galau ya?"


"Eh, Kak Alin. Enggak!" elaknya kemudian memilih kembali menyesap rokok dalam-dalam lalu menyembulkannya hingga asap putih mengepul menutupi wajah tampannya.


"Ck! Kebanyakan gengsi ni anak. Gini ya, kalau kamu suka tinggal bilang Om Rafael, beres! Papamu kan serba bisa, kakak yakin Keyra bakalan jadi milik kamu," ujar Alina.


"Caranya gimana?"


"Cie kepancing, jadi beneran nih tebakan kakak?"


"Hm, nggak juga! Aku cuma penasaran aja sih, beda nggak rasanya!"


"Kam pret! Rasa apa?" Alina malah dibuat terkejut dengan alasan Devano.


Laki-laki itu hanya nyengir kuda menatapnya.


"Rasanya pacaran sama Arin dan Keyra, apakah sama?" batin Devano.


"Jadi gimana caranya kak?" tanya Devano.


"Ya kamu minta aja dijodohin sama Keyra, beres!"


"Wait? Hanya itu?" tanyanya sekali lagi tak percaya.


Alina mengangguk antusias.


Acara barbeque ulang tahun Satria di rumah Divine terasa ramai. Doa dan ucapan terlantun untuk pemuda usia matang itu.

__ADS_1


Divine secara langsung juga mengumumkan rencana pertunangan Satria sebentar lagi. Bram datang terlambat, akan tetapi doanya tak mau kalah untuk sang putra. Dengan bangga memeluk Satria bersisihan dengan Divine dan hal itu berhasil membuat semua yang disana terharu.


__ADS_2