
Satu bulan kemudian,
Cahaya kuning keemasan menerobos masuk jendela kamar milik Keyra, menandakan hari sudah pagi dan sekolah siap menanti. Setelah kondisinya pulih total, Keyra berniat mulai kembali masuk ke Sekolah. Kemarin beberapa temannya datang ke rumah menjenguk. Citra dan kawan-kawan juga menginfo kalau Maysaroh alias Moza menghilang dari Pelita Harapan. Bagi Keyra, wajar saja jikalau Moza memilih pergi, Moza pasti tertekan oleh ulah Citra dan yang lain.
"Yakin sayang mau masuk hari ini?" tanya Bram. Memastikan sekali lagi kondisi putrinya. Meski ada bekas jahitan di pelipis dan kepala.
Keyra mengangguk, sudah satu bulan mangkrak tak sekolah. Kini ia masuk dan langsung menghadapi tes kenaikan kelas.
"Kalau aku nggak nekat nanti nggak naik kelas, Papa sayang."
"Biar Mang Rud yang anter!"
Keyra mengangguk, "Vano ada kesini lagi nggak, Pa?" tanyanya.
Bram menggeleng, "Vano sekarang nyambi kerja!"
"Dimana?" tanya Keyra. "Bukannya emang sambil bantu mamanya di toko, ya?"
"Nggak sih, Papa denger dia nyambi ngedesain! Dan kamu tahu nggak? Kemarin dia habis buat desain rumah model selebgram siapa gitu, lumayan banyak yang tertarik sama hasil desain Devano."
"Ohh gitu ya!"
"Semoga kamu sukses ya, Dev!" batin Keyra. Ada rasa bangga mendengar kabar baik Devano, ada juga rasa rindu menggebu.
"Aku berangkat, Pa!"
***
Keyra turun dari mobil, ia berjalan memasuki gerbang Dirgantara dengan dada berdegup kencang. Keyra gugup terlebih untuk menghadapi Devano.
"****, gara-gara naik mobil jadi telat!" gumamnya mendesyah pelan.
Keyra menemui wali kelas lebih dulu, barulah Pak Rayyan memintanya masuk ke kelas.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantungnya berdetak cepat saat masuk ke dalam kelas apalagi saat matanya bersitatap dengan Devano.
"Keyra, kamu duduk disana!" tunjuk Pak Guru di bangku depan Devano. Padahal tempat duduk sudah acak karena ulangan, tapi memang dasar nasibnya selalu dekat dengan Devano. Karena terlambat, ia harus menyelesaikan ulangan dengan waktu kurang dari satu jam di mata pelajaran awal.
Tempat duduk baru membuat Keyra kesusahan tuk meminta bantuan pada Maya.
Sementara Devano, ia hanya bisa menatap punggung Keyra dengan perasaan entah.
Jam istirahat Maya mendekati Keyra.
__ADS_1
"Key, lo gak apa-apa kan? Lo masih inget gue kan?" cerca Maya. Keyra mengangguk, "inget lah masak enggak!"
Devano melewatinya begitu saja, sebenarnya ia juga tak tahan untuk tak menyapa Keyra tapi akhir-akhir ini Devano mulai lelah dengan dirinya sendiri.
"Dev tunggu," panggil Keyra.
"Bentar ya, Mae! lo tunggu gue di kantin sama yang lain."
Maya mengerutkan kening, bukannya mereka baik-baik saja? Kenapa sekarang jadi perang dingin.
Maya yang tak tahu apapun memilih menunggu Leon.
"Le, Aldo sama Devano mana?" tanya Maya celingukan saat tahu kekasihnya seorang diri menunggu di salah satu sudut meja kantin.
"Aldo ke perpus sama Devano, kayaknya nggak makan lagi deh itu anak orang!"
"Oh, gitu." Maya mengangguk.
"Pesen apa, Ay? Biar aku pesenin?" Leon menyunggingkan senyumnya.
"Apa aja deh, mie goreng juga gak apa-apa!"
"Oke siap Tuan putri!" Leon beranjak. Maya teringat sesuatu, akan tetapi Keyra belum menampakkan batang hidungnya, alhasil ia tak jadi bilang pada Leon.
Sementara Keyra mengikuti Devano, ia diam-diam memperhatikan si ketos itu. Rupanya, Devano tengah menyibukkan diri dengan membaca. Sementara Aldo yang melihat keberadaan Keyra sontak mendekat ke arah Keyra.
Keyra sontak melotot tak percaya, "emang bocil dijagain?"
"Dia lagi galau berat tuh, lo masa gak inget sih sama pacar sendiri."
Keyra terdiam memegangi kepalanya, bukan pura-pura sakit ala sinetron tapi respon Aldo justru yang berlebihan.
"Kalau gak inget gak usah dipaksa." Aldo berlalu, sementara Keyra masuk dan duduk di samping Devano tanpa laki-laki itu sadari.
"Al, kalau dipikir-pikir gue nyerah aja kali ya! Lagian Keyra juga gak inget gue, gak ngeliat gue kaya gimana gue! Lo tau kan pura-pura gak perduli sama orang yang kita sayang itu kek gimana? Ini baru setengah hari loh," gumam Devano. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi perpus, tak lupa sebuah buku yang dibaca hingga menutup wajahnya tanpa melihat sosok Keyra disana.
"Gue tahu kok, makasih ya!" jawab Keyra.
"Eh, ini gue gak halusinasi kan, Al? Kok mendadak ada Keyra?"
"Nggak, coba turunin buku lo!"
Devano meringis, "lo istirahat disini juga? Gue cari Aldo dulu, deh!" pamitnya mencoba menghindari Keyra.
"Sorry, atas sikap childish gue! Harusnya gue bersyukur lo susah-susah dateng ke Jogja demi gue, demi liat gue dan bahkan lo semalaman jagain gue, Dev!"
Keyra menghembuskan napas kasar.
"Gue gak lupa kok soal kita, gue cuma,--"
__ADS_1
"Cuma apa? Cuma ngetes gue? Apa lo masih belum percaya kalau gue beneran sayang? Look at me, Babe! Gue emang breng sek dari bayi. Jadi kalau emang kebersamaan kita gak bikin lo nyaman mending udah aja, kita jalan masing-masing! Gue gak akan maksa lo lagi, kalaupun lo lebih nyaman sama Aron, it's oke."
"Dev! Bukan gitu."
"Terus karena apa?"
"Gue sa,--"
"Disini ternyata! Huh, gue tungguin juga!" Maya menghempas tubuhnya di samping Keyra, disusul Aldo dan Leon.
"Ups, kayaknya kita datang disaat yang gak tepat karena matahari udah meninggi dan gue lupa bawa cincin," kelakar Leon.
"Somplak lo!" cibir Aldo.
"Vampir gilak," decih Devano.
Suasana tegang perlahan menghangat dengan datangnya Leon, Maya dan Aldo. Mereka sengaja memutus kecanggungan Devano dan Keyra agar tak berkepanjangan.
"Kalau gue vampir, Mae si pemilik darah suci dong!" sahut Leon.
"Gue serigala ganteng," ujar Aldo jumawa.
"Kalau kalian?" Mereka bertiga serentak menanyai Devano dan Keyra.
"Gue kang cilok!" gerutu Devano.
Keyra hanya terkekeh pelan.
"Key, gimana itu kepala? Masih lupa-lupa ingat nggak?" tanya Maya tak sabaran.
"Curang ih, masa pada nyusulin cuma gue yang gak diajak," keluhnya.
"Kan kita juga gratisan dari Om Rafael," jawab Aldo sontak mendapat pijakan kaki dari Devano hingga mengaduh.
"Sakit ogeb!"
"Coba ayang Mae bisa masuk kantong doraemon, pasti gue ajak!" Leon tersenyum, Maya pun meleleh dibuatnya.
Aldo memilih minggat sementara sepasang kekasih mode canggung itu hanya saling tatap, bicara lewat isyarat.
***
Pulang sekolah, Keyra dijemput sopir. Devano hanya menatap mereka dari jauh sambil menghela napas. Ingin rasanya ia mengantar Keyra tapi tak tahu harus memulai lagi darimana.
Devano pun memilih pulang ke rumah.
Jalanan lenggang membuat Devano hanya butuh waktu lima belas menit sampai, merebahkan diri diatas ranjang lalu menatap langit-langit kamar.
"Kalau kamu mau terlihat dewasa dimata Keyra, kamu harus menunjukkan kalau kamu bisa diandalkan, kamu bisa jadi laki-laki hebat yang pantas untuknya! Mulai sekarang, tekuni hobi yang katamu sepele ini, yakinlah kamu bisa sukses di bidangmu asal usaha keras dan terus berusaha!" wejangan Rafael kala itu mengusik kepala Devano. Lantas ia segera bangun, mengganti seragamnya lalu mulai mengotak atik laptop.
__ADS_1