
Cahaya remang malam tak menyurutkan langkah Devano begitu turun dari taksi online. Ia menatap bangunan rumah sakit tiga lantai yang sudah sepi, mungkin sebagian penghuninya sudah istirahat karena sakit yang dideranya.
Devano mengirim pesan ke nomor ponsel milik Keyra, dan tak berselang lama Satria keluar.
"Abang Sat!" panggil Devano.
Satria menoleh, wajahnya kusut tak terawat karena harus menjaga Keyra dan Bram dua hari ini.
"Oii, Dev! Ini, kamu pake ini. Udah makan? Soalnya abang gak ada sedia makanan di dalem," ujar Satria.
"Gak lah bang, masih kenyang! Pengen langsung lihat kondisi Keyra," ujar Devano. Ada rasa lega menyeruak bisa datang ke Jogja, Devano harap kedatangannya akan membuat kondisi Keyra lebih baik. Devano sangat merindukan senyum si bar-bar imutnya.
Devano memakai kartu jaga dengan mengalungkannya di leher, lantas beriringan masuk rumah sakit bersama Satria.
Sepi, itu yang Devano rasakan saat melewati koridor demi koridor RS. Hingga sampailah mereka di ruangan VIP milik Bram, sebab Devano bilang ingin melihat kondisi Om Bram lebih dulu barang sebentar baru akan menemui Keyra dengan puas.
"Kondisi Papa udah jauh lebih baik, cuma masih belum bisa jalan!" jelas Satria.
"Separah itu bang?" tanya Devano. Satria mengangguk, tak ada senyum yang membingkai wajahnya. Sungguh, Satria terlihat sangat kusut karena banyak pikiran.
"Lalu Keyra?"
Satria menghela napas, "ayo, kamu lihat sendiri."
Mereka berjalan ke ruang yang agak jauh. Begitu Satria meminta Devano memakai baju pengaman, hatinya semakin cemas, "apakah Keyra kondisinya lebih parah?" batin Devano dalam hati.
Deg.
Tubuhnya membeku begitu masuk ke ruangan Keyra. Sungguh, ia ingin menjerit akan tetapi lidahnya kelu.
"K-e-y," lirihnya dengan suara bergetar menahan syok juga tangis.
__ADS_1
"Maaf, Abang terpaksa bohong!" aku Satria.
Devano terduduk lemas di kursi samping ranjang Keyra, menggenggam erat tangan gadis itu yang tertempel selang infus juga beberapa alat medis lainnya.
"Tapi Abang gak nyangka kalau kamu dan Om Rafael bakal nyusulin kesini," ujar Satria.
"Jadi..." Devano tak sanggup berkata-kata.
"Keyra koma, benturan di kepalanya menyebabkan gegar otak."
Tubuh pemuda itu merosot lemah ke lantai menatap kosong brangkar dimana Keyra berada. Entah, mendengar fakta dari Satria nyatanya telah menghantam sesak dadanya.
"Titip Keyra bentar, aku mau ke Papa dulu bisa, Dev?" Satria mengusap pundak Devano.
"Ah, bisa Bang!"
Sebenarnya Satria bukan hanya ingin kembali ke ruangan Papanya, ia hanya ingin memberi waktu pada Devano agar bisa bicara dengan Keyra meski mustahil Keyra akan bangun. Paling tidak di alam bawah sadarnya, ia mendengar dan tahu kalau Devano datang.
"Sayang." Devano menggenggam lembut jemari Keyra, ia menatap wajah putih pucat sang kekasih yang terpejam.
"Aku fikir kamu lupain aku karena sibuk dengan abangmu! Maafkan aku, yang!" Devano menunduk, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah cincin titanium, bukan cincin emas atau cincin mahal, akan tetapi Devano meminta desain khusus pada pembuat cincin itu hingga pengerjaannya butuh waktu hampir seminggu.Devano memasangnya di jari manis Keyra, cincin itu sangat cocok untuk kulit sang kekasih.
"Aku ke Jogja nyusulin kamu! Bandel ya emang, tapi kamu sayang kan! Namanya juga cinta, kemanapun kamu pergi aku bakal cari bahkan jika itu ke lubang semut sekalipun," gombalnya.
"Aku bawa kado ulang tahun buat kamu lho, aku pesen khusus meski bukan barang mahal seperti yang diberikan CEO-CEO pada kekasihnya. Hanya cincin mungil penanda kalau kamu punya aku!"
"Kalau kamu denger aku ngomong cepet bangun ya, banyak yang nungguin kamu terutama Aku dan Bang Satria. Dia sampai lupa ngurus diri karena kamu, jagain kamu. Key kamu dengerin aku kan?"
Satria hanya mematung di luar ruang melihat Devano begitu menyayangi adiknya. Bahkan pemuda itu sampai rela Jakarta - Jogja demi melihat Keyra.
__ADS_1
"Key," gumam Devano menatap jari-jari Keyra yang mulai sedikit tergerak.
"Key kamu dengerin aku?" tanya Devano berbinar, ia lantas keluar mencari Satria.
"Bang tangan Keyra gerak bang!" serunya.
"Iya kamu tetep jagain ya? Abang cari dokter yang nanganin Keyra dulu," pinta Satria. Devano pun mengangguk dan kembali ke ruangan Keyra.
Dokter masuk, dengan segera memeriksa keadaan Keyra, lalu menatap Devano dan Satria.
"Pasien telah melewati masa kritisnya, hanya saja kita masih perlu menunggu ia benar-benar sadar. Semoga respon Nona Keyra menjadi pertanda baik."
Dokter meminta Satria ikut ke ruangannya, sementara Devano yang tak kuasa menahan haru hanya bisa memberikan kecupan singkat di kening gadisnya.
"Aku sayang kamu bar-bar imut, cepet bangun ya! Kamu nggak kangen makan mie receh sama aku?" gumam Devano.
Ia memutuskan bermalam di kamar Keyra sampai pagi.
Keesokan harinya, Rafael tak menemukan sang putra di kamar saat bangun tidur. Segera ia mencari Aldo dan Leon di kamar mereka. Namun, nihil karena dua teman Devano itu masih lelap.
'Pa, aku udah di rumah sakit.' pesan Devano saat teringat dirinya belum mengabari Papa dan sahabat-sahabatnya. Ia bersama Satria sedang sarapan bersama dengan bekal yang dibawa oleh Ema.
"Makasih sayang, kenalin ini Devano adik ipar kamu!" ujar Satria mengenalkan Devano pada sang kekasih.
"Hai," sapa Ema senyum.
Devano mengangguk sopan, apalagi Ema dan Satria jauh lebih tua darinya.
"Abang aku balik kesana dulu ya," pamit Devano.
"Hati-hati, kalau mau pulang, pulang aja! Biar Keyra Mbak Em yang jaga, kamu bisa pulang bebersih dulu."
__ADS_1
Devano mengangguk, akan tetapi baru saja ia ingin melangkah kembali, Rafael sudah datang ke rumah sakit bersama dua temannya.
"Ck! Anak bandel. Udah ditemenin ke Jogja malah masih nekad nyelinap keluar." Fael menjewer telinga putranya meski tak keras.