DEVANORA

DEVANORA
46. Kisah cinta anak SMA


__ADS_3

"Tau nggak apa yang bikin aku tiap hari makin cinta sama kamu? Kamu itu fotocopy-an Momy aku banget! Kayaknya bener kata Om Bram, kalau kita sebel sama seseorang nanti anak-anak kita bakalan mirip!"


"Kok jadi belibet banget, Ay! Gak romantis," cibir Keyra.


"Hahaha, kan emang aku bukan cowok romantis! This is Devano, cowok cool se-Dirgantara!" Ucap Devano dengan jumawa.


"Ck ck ck, cool is dingin, jadi kamu itu kayak kulkas berjalan! Iya kan?" Keyra terbahak.


Mereka tengah menikmati es teh manis di kantin. Yang kata Devano, rasanya nggak lebih manis dari Keyra.


"Dih, kulkas kan datar! Nah aku cakep gini jangan disamain dong!" Devano menggerutu.


"Heh, duo bucin!" Aldo ikut duduk di sisi Keyra.


"Hus hus, lo jangan deketan sama ayang gue!" usir Devano.


"Kalau mau sini jejeran, jangan sebelahan sama Keyra!" protes Devano tak terima.


"Santuy aja kali Ay, lagian sekarang dia udah jadian tau sama someone."


"Siapa siapa?" tanya Devano. "Eh, lo bisa-bisanya punya pacar gak konfirmasi sama gue, lo anggap gue ini apa?" protes Devano nyolot.


"Keyra ember banget weh, gue bukan jejadian! Gue dijodohin!" dumel Aldo.


Keyra ngakak.


"Jangan banyak ketawa, bokap lo udah sehat?" tanya Aldo berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun, Devano terus menanyai dirinya bak wartawan dadakan.


"Si Citra Ay, dijodohin sama dia! kebetulan banget kan, mana nikahnya bentar lagi." Mimik wajah Keyra berubah serius.


"Kok bisa? Jadi lo mau merr!" Aldo sudah mencubit keras tangan Devano. Ia bahkan pindah tempat duduk di samping Devano agar suara sahabatnya itu tak membuat heboh seisi kantin.


"Gue harus merried sama Citra, itu sih! Rencana-nya kalau umur Citra udah 18 tahun." Aldo mengecilkan suaranya.


"Cih 18 tahun udah nikah," gumam pelan Devano.


"Bokapnya sakit parah men! Dan dia jadi dititipin ke keluarga gue, gak nyangka kan. Gue aja kaget! Untung good looking, jadi gue iyain."

__ADS_1


Sontak Keyra menginjak kaki Aldo keras, hingga pemuda itu memekik sakit.


"Sakit Key, astaga."


"Awas kalau lo sakitin sahabat gue," ancam Keyra melotot.


"Buaya!" makinya lagi kali ini dengan wajah serius.


Leon dan Maya kemudian ikut bergabung, suasana makin rame oleh ulah mereka berlima. Sementara Dina dan Andin masih menjadi orang paling benci dengan mereka. Kali ini, alasannya bukan Aldo. Melainkan Moza yang sekarang berada di kubu Devano sejak menjadi kekasih Aron.


"Sia lan. Gak ridho gue lihat mereka ketawa ngakak, di depan kita!" Andin menggeram. Tangannya mengepal kesal, menatap sengit ke arah genk Keyra berada.


"Udah lah gue nyerah, lagian wajar sih kalau dia happy gitu! Salah kita juga gegabah bully Moza di caffe, kan dia jadi ditolongin temen-temennya Keyra. Lo gak pikun kan, kalau Moza sempet pindah ke Pelita Harapan." Dina mengeluarkan unek-uneknya.


"Tapi gue masih gak rela, sumpah! Ih kesel banget."


"Tobatlah!" keluh Dina.


"Kita ini tinggal berdua jadi rival mereka, dan lo tau? Sekolah ini milik bokapnya Keyra kalau lo gak lupa. Ndin, kita udah kelas tiga. Emang gak capek apa?" Dina mulai jengah menjadi orang yang jahat.


"Lo jadi bikin gue tambah eneg tau gak!" Andin menggebrak meja lalu meninggalkan Dina.


Tentu hal itu memancing Keyra dan Maya menoleh ke arah mereka.


"Ck! Gak jelas banget deh mereka," gumam Maya.


"Biarin aja, bukan urusan kita!" Keyra tampak cuek.


***


Tak terasa mereka sudah kelas tiga, dimana cepat atau lambat hari kelulusan akan tiba. Dan perpisahan sudah pasti akan terjadi.


Hari ini, Devano lepas jabat, menyerahkan jabatan Ketua OSIS pada kandidat pilihan berdasarkan voting anggota.


Meski begitu, ia tetap ditugaskan membimbing junior sebelum benar-benar lepas dari keanggotaan.


"Akhir-akhir ini, nilai kamu bagus lho! Jadi makin bangga sama kamu," puji Devano.

__ADS_1


Keyra melebarkan senyumnya.


Ia bersyukur bisa menyusul semua ketertinggalannya bahkan, bisa berjarak dikit bawah Devano.


"Berkat kamu juga. Nah gini yang aku mau, kamu ajarin aku banyak pelajaran. Bukan kasih jawaban yang instan."


"Iya iya, jadi dong besok jalan-jalan?" tanya Devano.


Besok adalah hari minggu, jadi tak ada salahnya mengajak Keyra keluar.


"Kemana?" tanya Keyra.


"Ya, yang namanya jalan-jalan sudah pasti jalan kaki yang," Canda Devano.


"Ish ish ish, jahatnya. Masa ngajak jalan kaki, mau ngukur aspal?" seloroh Keyra.


"Hahah, ada deh besok. Pokoknya aku jemput pagi kalau nggak kesiangan. Kamu izin dulu sama Papa," pinta Devano.


Minggu yang ditunggu pun tiba, setelah meminta izin pada Bram. Mereka akhirnya pergi menaiki motor Devano.


"Kemana nih?" tanya Keyra masih penasaran. Selain kepo, dia juga takut salah kostum. Karena saat ini ia hanya menggunakan kaos, celana jeans dan balutan jaket semi levis yang melekat di tubuhnya. Dan anehnya, hari ini mereka menggunakan warna kaos senada tanpa rencana.


"So sweet banget ya kita hehe, baru juga mau bilang pake kaos putih. Kamu udah pake, kayaknya hati kita itu punya feeling yang sama."


"Iya!" Tanpa sadar Keyra melingkarkan tangannya di perut Devano. Bahkan kepalanya bersandar di punggung laki-laki itu meski ia mengenakan helm.


"Jangan molor yang, bentar lagi sampai! Jalanan tumben banget lenggang."


Tak ada sahutan, saat melirik spion. Devano mengulas senyum melihat Keyra merebahkan diri di punggungnya.


Hingga sampailah mereka di pantai, bedanya kali ini mereka pergi pagi. Tak seperti waktu Keyra ulang tahun. Dimana mereka hanya menikmati singkatnya senja.


"Sampai tuan putri," panggil Devano.


Keyra membuka mata, lalu melebar karena melihat lautan luas terpampang di hadapannya.


"Amazing, kita kesini lagi!" pekiknya antusias. Seperti mendapat kejutan dari Devano.

__ADS_1


__ADS_2