
Sepulang sekolah, mereka berencana ke Mall. Tiga cowok ganteng bersama Keyra dan Maya akhirnya jalan bersama untuk pertama kalinya.
"Ish, kenapa sih kita gak ganti baju dulu? Berasa jadi anak nackal keluyuran pake seragam sekolah. Mana tulisan SMA Dirgaantaranya keliatan." Keyra mendumel sebab diantara mereka, cuma dia yang tak memakai jaket.
"Pakai punya gue aja." Dengan sigap Devano melepas jaketnya dan menutupkan di tubuh belakang Keyra.
"Cie, ehm! Udah move on nih," goda Leon.
"Sttt...Masalalu biarlah masalalu," ujar Aldo menginterupsi Leon agar tidak kelepasan. Mereka sepakat tak ingin merusak momen pedekate sahabatnya.
"Apaan sih kalian! Cie melulu, cari pacar sana."
"Gak mau?" tanya Devano melihat Keyra tak tergerak menyambut jaketnya.
"Kalau nggak mau, gue..."
"Mau!" Potong Keyra langsung mengenakan jaket kebesaran milik Devano.
Aroma wangi maskulin khas cowok menusuk indra penciumannya dan entah kenapa Keyra sangat menyukai wangi itu.
"Keyra sama siapa?" tanya Maya.
"Udah pasti sama gue, lo bonceng motor Aldo atau Leon."
Keyra menghela napas panjang, resiko jadi cewek yang gak pernah bawa motor ke sekolah dan sekarang ia harus naik ke boncengan Devano.
Lain Keyra yang langsung naik ke boncengan Devano, Maya harus lebih dulu mendapat penolakan dari Aldo barulah naik ke boncengan Leon.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya meninggalkan SMA Dirgantara dan menuju mall tedekat.
"Guys! Kita ikuti mereka?" tanya Andin meminta pendapat Dina. Saat ini mereka sedang dijemput supir dan Dina ikut sekalian mengingat rumah mereka masih satu komplek.
"Ck! Kurang kerjaan banget ngikutin mereka. Mending ke rumah Moza yuk, mastiin aja sih itu princess kemana, batang hidung gak keliatan."
"Oke deh! Pak ke rumah Moza bentar ya," ujar Andin.
Sang sopir mengangguk lantas mengantarkan mereka ke kediaman Moza.
***
"Udah waktunya jam makan siang, kita jajan dulu baru jalan-jalan gimana?" tanya Devano.
"Yups, gue laper!" decak Maya.
"Makan mulu itu otak, yaudah gak apa-apa," ujar Aldo.
Keyra terkesiap, kemudian mengangguk saja. Ia bahkan sama sekali tak melawan saat tangan kekar Devano meraih telapak tangan mungilnya dan menggandengnya begitu turun dari motor.
"Key sama gue aja! Devano posesif banget masa iya, biarin gue dan kedua temen lo kaya nyamuk." Maya hendak meraih tangan Keyra akan tetapi Devano malah menariknya hingga wajah Keyra jatuh di dada bidang Devano.
"Wangi juga ni cowok," batin Keyra tersenyum dalam hati.
"Keyra sama gue! Lo kan bisa gandeng Aldo, nganggur tuh! Atau Leon, dia juga jomblo," kelakar Devano.
"Yah ini mejanya cuma tiga kursi, gimana mau gabung jadi satu! Kekecilan!" protes Maya kesal saat mereka berada di area foodcourt lantai tiga.
__ADS_1
"Yaudah gue sama Keyra, kalian bertiga. Mau gabung juga malah menuhin jalan sempit gini." Devano tersenyum lebar.
"Gue sama Maya aja sih," ujar Keyra merasa tak enak atas sikap Devano sedari tadi yang mendominasi dirinya.
"Sama gue! Ada banyak hal yang mesti gue omongin dari hati ke hati."
"An jim! Udah mulai pake hati yah guys," kelakar Leon.
"Mae sama gue aja, biar Aldo sendirian."
"Asyik, wlekkk denger sendiri kan! Kalau pesona Mae disini juga dipertaruhkan," ujarnya menyunggingkan senyum mengejek ke arah Aldo. Pasalnya laki-laki itu terus menolak pesona Maya dari kemarin.
Membiarkan mereka bertiga berdebat, Devano mengajak Keyra duduk dan memesan makan juga minum.
"Pesan apa?" tanya Devano.
"Ini sama ini, dan ini! Makan gue banyak, yakin mau dibayarin?" ujar Keyra seolah sengaja ingin membuat Devano ilfill padanya.
Namun, laki-laki itu malah tersenyum penuh arti menatapnya.
"Gak papa, lagian lo terlalu kurus. Jadi perlu nutrisi banyak, asalkan bukan junk food, it's oke gue gak keberatan!"
Keyra memutar bola matanya jengah.
"Yaudah pesenin!" ujar Keyra akhirnya.
Devano meminta pelayan mendekat, lantas memesan beberapa menu makanan dan dua cappucino latte untuknya dan Keyra.
__ADS_1
"Key..." Devano menggenggam tangan Keyra.
"Hm?"