
"Al, gue butuh bantuan lo! Keyra dirawat, nyokap pasti gak bakal ngizinin gue nyusulin kesana sendiri," keluh Devano di sambungan teleponnya. Hari masih sore, langit senja cerah nan indah akan tetapi tidak bagi Devano.
Mendung bergelayut manja di mata laki-laki itu sejak mendapat kabar dari abangnya Keyra pagi tadi.
"Gue harus gimana? Apa kita kesana bertiga?" tanya Aldo.
"Yups, sebenarnya begitu! Tapi gue ragu lo sama Leon bakalan mau." Devano menghela napas berat, sejujurnya ia tak ingin merepotkan dua sahabatnya.
"Gak ada yang ngrepotin disini, kita sahabatan udah dari jaman bayik. Jadi, kalau lo mau kesana ya kita bakal temenin."
"Tapi gue,--"
"Gak ada tapi-tapian! Lo nganggep gue temen lo gak? kalau lo masih punya rasa sungkan sama gue itu artinya kita beneran bukan sahabat."
"Oke-oke, kita ke Jogja!" Devano kembali meloloskan napas berat, antara sesak juga ragu. Apakah Papa dan Momy-nya akan memberi izin?
Baru tiga puluh menit, wajah kedua sahabatnya sudah nongol di rumah macam jal*ngkung.
"Asem, gue belum mandi! Mana momy gak ada."
"Yaudah buruan, mumpung masih sore! Aman lah kalau lewat toll, atau lo mau ngajakin kita naik pesawat?" Aldo menaik turunkan alisnya.
"Kalau naik pesawat, kita bisa berangkat tapi gak bisa balik!" ujar Devano.
"Kalian mau disini apa nunggu di kamar gue? Gue mau mandi bentar," seru Devano.
"Ikutlah, ini rumah gak ada ART yang bisa bikinin gue es jeruk atau apa gitu?" ujar Leon.
"Gak ada!" seru Devano dan Aldo barengan.
Leon memang jarang ke tempat Devano, akan tetapi tidak dengan Aldo. Selain sekelas, Aldo paling sering main ke rumah Devano bahkan sampai menginap jadi ia tahu seperti apa kehidupan Devano dan orang tuanya.
"Iya iya, tapi gue haus, Dev!"
Aldo langsung menoyor kepala Leon, "gak tau orang lagi prihatin, dah buat sendiri sana! Jangan manja, Jangan bikin mood Devano makin kusut kaya jemuran emak. Sekalian ya, bikinin buat gue!"
Leon tersenyum masam, meski begitu ia tetap melangkahkan kakinya ke dapur rumah Devano.
Keyra baru saja pulang dari toko, ia melihat seseorang di dapur akan tetapi dilihat dari gestur tubuh jelas itu bukan putranya.
Plakkkk...
__ADS_1
"Eh ampun-ampun." Leon berseru saking terkejutnya.
"Eh, Nak Leon! Kirain siapa, Vano mana?"
"Di kamar, Tante!"
Leon berpikir sejenak, "Oiya Tante, kami kesini mau minta izin sama Tante ajak Devano ke Jogja."
"Jogja?"
Leon mengangguk, "iya, Tante! itu pacarnya Devano lagi dirawat," ujar Leon berterus terang.
"Hah? Bentar-bentar Tante coba telpon Papanya Vano dulu."
Katanya kalau bohong itu dosa, jadilah Leon berinisiatif jujur dan berkata apa adanya.
Ia membawa nampan berisikan minum ke lantai atas.
Sementara Keyra dibuat terkejut dengan penuturan Leon lantas menghubungi suaminya.
Rafael buru-buru pulang, sampainya di rumah ia melihat Devano bersama tiga temannya sedang menunggu.
"Ay, mereka udah dewasa! ayolah!" Kali ini Rafael membela Devano. Bukan karena ia setuju anaknya bepergian jauh apalagi ia masih SMA. Tapi Rafael memiliki sudut pandang sendiri, barangkali kehadiran putranya bisa membantu memulihkan kondisi Keyra disana. Bukankah kekuatan cinta kadangkala sangat dasyat, meskipun cinta mereka adalah cinta masa remaja, cinta monyet tapi Rafael pikir Devano sama sepertinya, tipe manusia yang cukup sekali dua kali jatuh cinta.
"Makasih Momy terbaik," ujar Devano.
"Nanti Papa transfer! bentar Papa kabarin om Divine dulu, bisa izin nggak! semoga kedatangan dan niat baik kalian membuahkan hasil."
Sebenarnya Rafael tahu kondisi Keyra akan tetapi ia tak ingin membebani perjalanan sang putra dengan rasa khawatir setelah mendengar jikalau kekasihnya koma. Rafael hanya berharap, putranya memiliki hati dan kesabaran yang luar biasa. Rafael juga berharap kehadiran Devano mampu membuat Keyra segera sadar.
"Makasih banyak, Pa, Mom!"
"Bentar, tunggu lima menit ini Om Divine bilang Papa ikut! Boleh kan Mom? Kasian mereka kalau tanpa pengawalan. Biar nanti Oma Idha kesini nemenin kamu."
"Iya ya, yaudah. Nanti biar aku aja yang ke rumah mama, Ay! Kamu anter anak-anak."
"Papa yakin ikut?" tanya Devano. Pasalnya Papanya itu paling susah pisah sama Momy-nya.
"Yakinlah!"
***
__ADS_1
Perjalanan dari Jakarta ke Jogja tak butuh waktu lama jika memakai pesawat, dan Devano bersyukur papanya adalah orang yang sangat pengertian.
"Makasih, Pa!" Bisik Devano. Rafael hanya membalas ucapan putranya dengan mengusap lembut kepala bocah itu dan tersenyum.
"Papa salut sama kamu!" gumam Rafael.
"Ya, Pa?"
"Kamu manusia yang tulus, kalau dipikir-pikir usia kamu aja baru delapan belas tahun. Tapi pengorbanan kamu buat Keyra bukan main-main. Bukan kaya anak-anak cinta monyet yang satu gak ada terus manfaatin dengan cari yang lain."
"Aku udah pernah kehilangan Arin, Pa! Dan aku gak mau kehilangan orang yang aku sayangi untuk kedua kali," jawab Devano.
"Papa sama Om Bram sepakat merestui kalian, kalau misal mau nikah muda juga gak masalah! Asal kamu sudah bisa menghasilkan uang sendiri." Rafael menatap Devano. "Kira-kira apa rencanamu?"
"Aku pengen nyoba desain, Pa! Siapa tahu bisa diajak kerja sama CEO."
"Bagus itu, sukses itu gak harus jadi CEO."
Kurang lebih satu jam dua puluh menit sampailah mereka di bandara Adi Soecipto Jogja. Rafael memesan taksi online yang akan membawa mereka ke penginapan. Bukan hotel melainkan rumah sewa paket lengkap.
Tak tanggung-tanggung demi putranya ia mengeluarkan uang yang tak sedikit.
"Jogja demi cinta! Dasar memang," gumam Rafael menatap putranya. Ada rasa bangga memiliki bocah seperti Devano, juga bangga putranya memiliki teman-teman yang sangat perduli bahkan mau menanggung repot bersama-sama. Memikirkan hal itu membuat Rafael teringat masa abu-abunya bersama Divine, Rafael berharap persahabatan anak-anaknya langgeng sepertinya sampai punya istri dan anak, sampai tua bahkan sampai bercucu nanti.
Devano menatap jam di pergelangan tangannya, ia ingin tidur tapi tak bisa. Setelah makan malam bahkan Papa dan dua sahabatnya sudah pulas karena lelah perjalanan.
Devano mencoba menghubungi nomor Keyra, barangkali Keyra mengangkatnya dan Devano akan bertanya prosedur masuk rumah sakit.
'Hallo, Dev?' Lagi-lagi suara Satria bukan seperti harapan Devano bahwa ia akan mendengar suara sang kekasih.
'Bang! Boleh ngobrol sama Key?' tanya Devano.
'Key-nya baru aja tidur.' Satria mende sah pelan. Lama-lama ia merasa semakin berdosa terus berbohong pada Devano.
'Kalau aku kesana gimana bang? Apa bisa, ini udah malem.'
'Kamu di Jogja?' tanya Satria tak percaya.
'Iya bang, sama Papa! Sama temen-temen juga,' jawab Devano.
'Yaudah kalau kamu mau kesini, ke rumah sakit Adie sucipto, nanti abang jemput di depan karena jam besuk habis jadi nanti abang bawain kartu jaga.'
__ADS_1
Devano mengangguk, perlahan ia keluar rumah sewa dan mencari taksi online. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di rumah sakit tempat Keyra dirawat.