DEVANORA

DEVANORA
42. Nyore


__ADS_3

"Sudah-sudah, nanti kan bisa belajar lagi! Papa bakal suruh Vano belajar bareng sama kamu, gimana? Atau mau Papa panggilin guru privat?" tawar Bram.


"Guru aja, Pa! Gak mau aku sama Devano." Keyra bersedekap, ia masih kesal melihat Devano jalan sama Tiara. Meski hanya sebatas jalan melewati koridor ruang guru sampai kelas. Tak mungkin juga Devano mengantar Tiara sampai ke kelasnya, tak mungkin!


Bram menghela napas, mang Rud menghentikan mobilnya karena di depan lampu merah menyala.


"Mang, antar ke rumah Elen!" perintahnya.


Keyra mengernyit heran, "kok?" tanyanya menatap Bram.


"Abangmu mau menikah bukan, jadi Papa harus kesana! Barusan Om Divine dan Abang minta Papa dateng," ujar Bram.


"Apa boleh aku pulang aja, Pa?" tanya Keyra.


"Boleh , yaudah Papa anter kamu pulang dulu."


***


Brum brum...


Deru motor milik Devano memasuki pekarangan rumah Keyra. Tak ada mobil disana, akan tetapi Devano yakin Keyra sedang ada di rumah sekarang. Devano melihat jendela kamar atas terbuka, kamar yang mungkin Devano tebak adalah kamar Keyra.


Ting tong...


Bi Sumi datang membuka pintu, "Mas Devano? Nyari Non Keyra, ya?" tanyanya.


"Iya, Bi. Ada kan?" tanya Devano tersenyum sumringah. Namun, senyum itu pudar kala mendapat jawaban gelengan kepala dari Bi Sumi.


"Nggak ada, Mas! Anu..." Bibi kebingungan, pasalnya Keyra hanya menyuruh untuk bilang tidak ada tanpa menyertakan alasan kemana perginya. Padahal gadis itu sedang berada di kamarnya sedari siang.


"Anu apa, bi?"


"Emh itu Mas," bibi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sambil harap-harap cemas takut ketauan kalau bohong.


"Yaudah, bi. Kalau gitu aku pulang! Salam buat Keyra nanti tolong sampein," ujar Devano akhirnya.


Namun, baru beberapa langkah keluar rumah itu. Keyra sudah lebih dulu mencegahnya pergi. Memang dasar, hati sama otak tak singkron.


"Tuh kan! Pake acara minta bibi bohong! Dosa tau," ujar Devano balik lagi menghampiri Keyra.

__ADS_1


Gadis itu masih menekuk wajahnya sebal, "ayo jalan." pintanya.


"Siyap dong! Mau nyore kemana?" tanya Devano. Ia memang sudah rapi dengan penampilannya memakai jeans dan kaos oblong serta jaketnya.


"Keliling! Bentar aku siap-siap," ujar Keyra diangguki kepala oleh Devano.


Selang sepuluh menit Keyra turun, dengan wajah masih ditekuk menghampiri Devano.


"Kenapa sih, cemberut terus?" tanya Devano.


"Mau es krim!" kekehnya tak mau jujur.


Motor Devano kembali melesat menyusuri pertokoan, cafe-cafe dan beberapa kedai yang berjejer di sepanjang jalan yang terlewat. Rona merah cahaya jingga menemani sore mereka. Tak ada momen romantis, bagaimanapun mereka adalah sepasang anak manusia yang tau akan batasan.


Namun, dengan adanya batas itu kasih sayang dan ketulusan mereka benar-benar diuji satu sama lain.


"Di mall aja ya," pinta Devano.


"Boleh, aku pengen es krim roll."


***


Sambil ditemani es krim roll sesuai keinginan Keyra.


"Kamu ngambek? Gara-gara aku senyum sama Tiara?"


"Nggak!" elak Keyra.


"Tapi kata Maya, kamu cemburu sampai nangis-nangis ngadu ke Om Bram."


Keyra membulatkan mata tak percaya, hampir saja ia tersedak es krim yang saat ini masuk ke mulut.


"Bohong tuh Maya!"


"Yakin" tanya Devano.


Keyra mengangguk, selesai makan es krim mereka keliling mall bahkan nonton juga. Kali ini film romance jadi pilihan Keyra dan Devano. Duduk di kursi paling ujung dengan tangan terus bertaut.


Apalagi saat lagu yang Keyra sukai menjadi sountrack film itu.

__ADS_1


Dari kejauhan tergambar cerita tentang kita


Terpisah jarak dan waktu


Ingin kuungkapkan rinduku lewat kata indah


Tak cukup untuk dirimu


Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata


Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu


Dan apabila tak bersamamu


Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin


Sederhana tertawamu sudah cukup


Lengkapi sempurnanya hidup bersamamu


Jika hari kulalui tanpa hawamu


Percuma senyumku dengan dia...


***


"Lanjut makan!"


"Nggak ah kenyang," ujar Keyra.


"Ay, tapi kamu belum makan lho! Gak gak, pokoknya kita makan." kekeh Devano.


Akhirnya Keyra hanya bisa pasrah. Pukul tujuh malam, mereka pulang. Namun, saat sedang ambil motor di parkiran tanpa sengaja Devano melihat Aron bersama Moza.


"Kayaknya aman nih, udah gak ada Aron Aron-an lagi," batin Devano.


"Ngapain ay? Malah bengong?" tanya Keyra yang memang tak melihat keberadaan Aron.


"Tuh!" tunjuk Devano dengan dagunya.

__ADS_1


"Astaga! Moza dan Aron?"


__ADS_2