
Definisi kangen versi Devano itu datengin Keyra, meski sejauh Jakarta-Jogja, Video call atau bertukar pesan. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Keyra saat dilanda gegana karena ulah Devano. Ponselnya tak aktif sejak pulang sekolah tadi membuat si gadis ini uring-uringan tak jelas.
"Ini kemana sih? Kok dari tadi gak bisa dihubungi?" gerutu Keyra. Berulang kali mengecek ponselnya.
Bram yang melihat wajah kusut putrinya mendekat, "kenapa? Kok marah-marah sama ponsel?" tanya Bram tanpa sengaja memergoki Keyra sedang mengomel sendiri. Meski tebakannya sudah pasti karena Devano, akan tetapi Bram merasa lucu dengan gadis satunya itu.
"Emang kalau kangen bakalan nyampe kalau kamunya uring-uringan gitu, Key?"
"Nggak kangen, Pa! Apaan, aku tuh cuma khawatir. Beda lho kangen sama khawatir. Lagian masih kecil udah kangen-kangenan, nggak mungkin Papa sayang!"
"Yaudah kalau nggak kangen! letakkin ponselnya, kita jalan-jalan? Nonton mau?" tawar Bram. Sudah lama sekali ia tak mengajak putrinya quality time berdua. Selain sibuk setelah masa pemulihan ia juga tahu akhir-akhir ini putri kesayangannya sedang berusaha belajar semaksimal mungkin.
"Boleh, Papa tunggu bentaran. Aku mau siap-siap dulu ya?" pinta Keyra. Bram mengangguk setuju. Setelah setengah jam bersiap di kamar, Keyra turun dengan outfit casual lengkap dengan tas slinbag di pundak.
"Sudah siap, Pa?" tanya Keyra saat melihat Bram sudah menunggunya dengan pakaian rapi.
"Sudah dong, ayo!" ajak Bram menggandeng putrinya.
Sejak menikah dengan Zahira, Bram perlahan mulai berubah, mulai bisa meredam emosinya hingga waktu ke waktu ia berubah menjadi laki-laki, suami sekaligus ayah terbaik untuk anak-anak dan istrinya.
__ADS_1
Namun, meski Zahira telah berpulang lebih dahulu tak membuat Bram berpikir menikah lagi. Apalagi sekarang ia sudah berumur, sebagian rambutnya sudah mulai memutih mengingat usianya sudah menginjak kepala lima.
Mobil Bram melaju kecepatan rendah, mereka ke mall diantar oleh mang Rud.
Hingga sampai di pelataran mall, Bram dan Keyra turun.
"Mau ikut, Mang?" tawar Bram meski tak yakin kalau sopirnya itu mau ikut ke dalam.
"Silahkan, Pak! Saya nunggu di foodcourt saja," tolak Mang Rud.
Bram mengangguk, ia menggandeng Keyra masuk ke dalam mall. Mereka langsung naik lift ke lantai paling atas dimana bioskop XX1 berada.
"Ada film bagus loh, Pa! Mau lihat yang horor, kalau Papa mau sih," usul Keyra. Mereka sempat melewati depan cabang karaoke milik artis tanah air.
Devano masih terus berusaha menghubungi Keyra di seberang sana.
"Tara..." Bram datang menenteng dua pop corn dan minuman. Tak berselang lama giliran mereka masuk ke dalam studio bioskop.
Bram dan Keyra memilih film M3GAN, film yang menceritakan Seorang insinyur robotika di sebuah perusahaan mainan membuat boneka yang penampilannya seperti gadis kecil dan diprogram agar menjadi teman sekaligus penjaga bagi anak-anak. Sampai petaka dimulai saat boneka M3gan ternyata mulai hidup dan meneror penciptanya.
__ADS_1
Selesai nonton film, Keyra dan Bram bermain game sebentar sebelum ke stand food court untuk makan malam.
***
Merasa tak mendapat balasan dari sang kekasih, Devano nekad pergi ke rumah Keyra. Tak biasanya sang kekasih spam chat bahkan panggilan telepon siang tadi. Namun, Devano baru menyadari tak membuka ponselnya hingga ia kelabakan sendiri.
'Quality time with my first Loveđź’—'
Mungkin kalau Devano punya jenggot, ia sudah kebakaran karena melihat story weha milik Keyra. Gegas menstater motornya menuju rumah sang kekasih.
Sepi, senyap tak ada kehidupan. Berulang kali mencoba menelpon sang kekasih akan tetapi tak ada jawaban. Setelah hampir satu jam nunggu, Devano memilih pulang.
Satpam rumah Keyra bahkan tak tahu kemana perginya sang Tuan.
"Kamu dimana, Key?" percayalah khawatir sekaligus cemburu disaat sedang bucin-bucinnya itu tak mengenakkan.
**
Hari pembagian raport pun tiba, Keyra sudah siap dengan seragam. Namun, terkejut saat melihat Devano sepagi ini sudah sampai di depan rumahnya dengan wajah kusut, lebih kusut dari jemuran kemarin yang belum kering.
__ADS_1
Bram paham kenapa Devano terlihat kusut hari ini, mungkin berkaitan dengan putrinya. Namun, Bram tak ingin mencampuri kisah asmara mereka dengan keingintahuannya.
Siang nanti, Bram harus ke yayasan, selain mengambil raport ia juga akan memberikan hadiah bagi siswa teladan tahun ini sebagai wakil dari pemilik yayasan.