
Begitu melihat notif kalender di ponselnya, ia gegas menyusul Keyra di kantin.
Rupa-rupanya gadis itu sedang bercanda tawa dengan Maya.
"Eh mau kemana lo?" tanya Leon.
"Mau ke kantin, nyusul kalian! Aldo mana?" tanya Devano melihat Leon sendirian.
"Tuh!" tunjuk Leon pada antrian padat di kantin.
"Lagi pesen dia, yok!"
"Sini ajalah, gue mau mantau Keyra!" pinta Devano pada Leon agar duduk di meja tak jauh dari tempat Keyra berada.
"Oke siap! Gimana kalau gabung aja sekalian?" ide Leon.
"Bilang aja mau pedekate," cibir Devano.
"Iya lah, emangnya lo doang yang boleh haha! Udah move on beneran nih kayaknya, pandangan lo aja gak lepas sedetikpun dari wajah ayunya!" kelakar Leon.
"Sok tau!" ketus Devano. Meskipun yang dikatakan Leon benar adanya. Ia selalu menatap Keyra akhir-akhir ini baik di kelas maupun saat di kantin. Bagi Devano, Keyra memiliki sisi cantiknya sendiri apalagi saat gadis itu marah-marah, aura cantiknya semakin terpancar.
"Betewe hari ini ada acara gak? Keluar bareng lagi yok? Kita ngemall," ajak Leon.
"Bilang aja mau ketemu Mae, cari ide lain lah! Bosen ngemall terus, pemborosan ck ck!"
"Tapi uang jajan lo aman-aman aja tuh!"
"Aman lah gue!" sarkas Devano. Aldo kembali dengan wajah kusut, hal itu membuat kedua temannya mengernyit heran.
"Paijo emang!"
"Kenapa lo? Kusut banget kaya muka cewek pms?" tanya Leon.
"Noh!" tunjuknya pada antrian kantin yang sudah mirip antrian sembako.
Tak berselang lama, pesanan mereka datang.
"Lama weh!"
"Ya maaf! Namanya juga antri, aku kan profesional," gerutu Rindu meninggalkan meja Aldo dengan kesal.
Selesai makan, Devano mendekati Keyra.
"Pulang sekolah bareng gue, yuk?" ajaknya.
"Kemana?"
"Jalan-jalan, liat senja yang katanya gak lebih cantik dari lo." modus Devano.
"Ck ck ck, gombal Dev! Jangan mau Key, palingan diajak muter-muter ngabisin bensin," ujar Maya.
"Serah lo, Mae! Gue ngajak Keyra weh. Hari ini kan dia ulang tahun." Devano menyunggingkan senyum, senyum modus pastinya.
"Boleh deh, kebetulan Papa juga sibuk hari ini! Kayaknya ide lo bagus, gimana kalau kita ke pantai?"
__ADS_1
"Seriusly?" tanya Devano.
"Yess, udah lama gue gak ke pantai!" jawabnya antusias.
Maya terdiam melirik keduanya, lalu menghela napas.
"Pengen ikut tapi hari ini gue ada acara keluarga."
"Gue gak nawarin lo, orang gue mau dua-duaan sama Keyra!" salak Devano.
"Ish! Dev mah nyebelin."
Keyra terkekeh melihat raut wajah sebal Maya, akan tetapi hal itu tak berlangsung lama saat Andin dan Dina datang merusuh mereka.
Syurrr!
Suara air membasahi seragam milik Keyra, sontak ketiganya melotot sempurna dan terkejut melihat amukan dari kedua sahabat Moza.
"Apa-apa sih kalian? Gak ada otak ya?" ketus Devano.
"Lo yang apa-apaan! Moza dipenjara gara-gara elo kan? Hah!" bentak Andin menunjuk Keyra.
Devano langsung bangkit berdiri dan menjadi tameng bagi Keyra. Ia tak akan membiarkan dua teman Moza melukai gadis pujaannya.
"Pergi gak lo! Atau mau gue laporin ke Pak Reyhan?" ancam Devano.
"Gue gak takut!" ketus Andin maju mendekat.
"Lo pikir gue main-main hah? Mending lo berdua pikirin nasib sendiri dari pada ngurusin Moza. Lo gak tau kalau cewek yang lo singgung barusan adalah anak Pak---"
"Gue gak papa kok, lagian wajar kalau mereka masih belain Moza! Namanya juga temen sejati," sindir Keyra.
"Dan harusnya sebagai teman sejati lo ikutan membusuk di penjara!" balas Maya telak membuat keduanya terdiam kesal.
"Ck! Kalian ini," kesal Andin dan Dina melengos pergi.
"Hama kaya gitu mesti diilangin dari sekolah kita," kesal Devano.
"Baju lo basah, ayo ke ruang Osis!"
"Ngapain?" tanya Maya terlebih saat Devano menarik Keyra menjauh darinya.
"Tukeran baju," jawab asal Devano.
"Ish gue ditinggal kan!" keluh Maya cemberut hingga saat menoleh tak sadar ada Leon yang menatapnya tanpa kedip.
"Ck! Gue kira patung!" gerutunya sebal.
Setelah lagi-lagi mengganti seragamnya, langkah kaki mereka berjalan menuju kelas. Meski sedikit aneh karena baju seragam yang besar hal itu tak membuat pesonanya hilang dimata Devano.
"Dev? Soal itu apa ucapan lo masih berlaku?" tanya Keyra.
"Tentu masih! Gue kan udah bilang bakal ngejar lo!" Devano mengulum senyum.
"Tapi..."
__ADS_1
"Nggak mesti lo jawab sekarang, gue gak sedang buru-buru nyari status! bagi gue, cukup lo kaya gini aja udah seneng," balas Devano.
"Dev..." panggil Keyra sekali lagi.
"Hm?"
"Makasih ya," ujar Keyra tersipu.
"Sama-sama, meskipun gue gak tau lo bilang makasih buat apa!"
***
Devano tersenyum lebar saat melihat Keyra memakai jaket kebesaran miliknya.
Gadis itu semakin cantik entah karena dia yang menyukai Keyra atau memang pada dasarnya gadis itu cantik. Yang jelas, Keyra cantik dimata Devano dan wanita lain tak boleh protes.
Butuh satu jam lebih untuk Devano sampai di pantai.
Pemandangan sore kala itu menjadi teman terbaik menemani kencan pertama mereka.
Kencan? Bisakah saat ini Devano dan Keyra dianggap berkencan? Seragam sekolah masih melekat meski berbalut jaket sebagai penutup. Segarnya es kelapa muda dan bakso menjadi menu pilihan sore mereka.
"Ternyata hal sederhana kaya gini tuh nikmat banget!” gumam Keyra menyipitkan matanya sebab kilau emas matahari menerobos gasebo pinggir pantai tempat mereka duduk.
"Jadi kita mesti sering-sering ya!" kelakar Devano.
"Hahahah, ya boleh kalau gue gak repot dan elo gak jadi milik cewek lain."
"Gak akan kali! Eh gue ke toilet bentar, mau ikut?" tanya Devano.
"Kalau gue disini aja gimana?"
"Yaudah titip tas ya!" ujar Devano.
"Hm, oke! aman lah."
Sepeninggal Devano, Keyra memilih menatap hamparan ombak di pantai. Cahaya jingga mulai kemerahan pertanda senja datang menjadi penutup sore sebelum berganti malam.
"Sampai sini, gue mulai yakin sama lo! Lo emang laki-laki beda meskipun awal perkenalan kita buruk," gumam Keyra.
Ia menatap ponsel Devano yang tergeletak di dekat tasnya. Getar ponsel pertanda pesan masuk membuat layar itu menyala seketika.
Deg
Deg
Deg
Jantung Keyra berdetak semakin cepat, ia syok, terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Arin, dia melihat foto Arin terpampang di wallpaper layar ponsel Devano.
"Arin? Devano siapanya Arin? Gak mungkin kan kalau mereka..." menutup bibirnya, kemudian mengusap wajahnya kasar. Keyra bahkan sampai beberapa kali memastikan foto itu bahkan memelototinya seolah tak percaya.
"Jadi siapa yang wanita yang lo sukai? Arin atau gue? Atau sebenernya lo dah tau kalau gue saudara kembarnya Arin jadi lo deketin gue?" batin Keyra bertanya-tanya.
__ADS_1