
"Yaudah kamu elap aja, toh cuma elap sepatu kan?" titah sang Manager. Pembeli adalah raja, tapi bagaimana jika pembelinya serese' Andin dan Dina? Apakah Moza harus menganggap mereka raja? Sungkem lemah lembut bin nurut?
Ia masih bertahan berdiri tanpa gerakan, dengan dada bergemuruh menahan emosi, Moza berjongkok hendak mengelap sepatu mantan sahabatnya itu dengan tisu yang ada di meja.
"Stop!" cegah seseorang yang berhasil membuat Moza, Andin sekaligus Dina menatap ke arah siapa yang datang.
"Anda siapa?" tanya Manager itu terkejut.
"Moza berdiri saja, jangan dilanjutkan."
"Kak Aron," lirih Moza.
Ia lantas kembali berdiri dan mundur.
"Ini?" Aron menyodorkan rekaman ponselnya. Kebetulan ia sedang ada disana bersama Citra.
Sebelum datang menolong, Aron sempat berdebat kecil dengan Citra. Gadis itu enggan menolong Moza karena dia pernah membully Keyra. Namun, tidak dengan Aron yang malah sengaja merekam kejadian itu. Ingin menunjukkan pada Keyra barangkali video yang direkamnya berguna.
"Kalian ini? Jelas-jelas sepatunya kalian sendiri yang mengotori? Kenapa menuduh karyawan saya?" bentak Manager caffe.
"Ck!" Andin berdecak.
"Santuy lah, Pak! Kan kita cuma bercanda. Lama nggak ketemu teman lama, candaan dikit kami rasa gak masalah," elak Dina.
"Dasar sinting! Kalian kira ini tempat bercandaan, hah? Hampir saja caffe saya mengalami kerugian karena ulah kalian, dikira karyawan saya gak punya attitude sama pembeli," desis Manager itu tak terima.
Moza bernapas lega meski terus menunduk apalagi melihat Citra dari kejauhan menatap kesal ke arahnya karena Aron, Aron yang menyelamatkan dirinya.
"Ganti rugi, saya minta ganti rugi!" ketus Manager.
"Ya gak bisa gitu dong, Pak!" kesal Andin.
"Bisa aja, kalian udah bikin karyawan saya tremor! Lihat sampai pucat pasi, ganti rugi atau saya panggil polisi."
Mau tak mau, Andin dan Dina patungan memberikan uang jajan mereka untuk manager caffe kemudian bergegas pergi.
"Lain kali kalau ada yang nindas kamu, lawan!" ujar sang manager. Lalu menyodorkan uang dari dua bocah tadi ke arah Moza.
"Nih, buat kamu saja! Lanjut kerja lagi." Manager berlalu.
Moza berulang kali membuang napas kasar, matanya menatap kosong uang merah tiga lembar itu.
__ADS_1
"Are you okay?" tanya Aron.
Moza mengangguk, "makasih banyak, Kak!"
Sungguh, Aron merasa Moza telah berubah drastis. Tak ada lagi sikap buruknya dan itu terlihat manis di mata Aron.
"Sama Citra?" tanya Moza.
"Iya, yaudah gue kesana dulu, Moza!"
Lagi-lagi Moza mengangguk, kali ini sambil menyunggingkan senyum. Namun, senyum itu pudar kala gemericik air terdengar, pertanda hujan turun dari langit.
Setelah Aron kembali ke mejanya, Moza segera membereskan pekerjaan kemudian pulang.
***
"Gimana mau pulang, hujan gini!" gumamnya pelan. Tangan Moza mengadah ke arah hujan, ia sedang berdiri di emperan depan caffe menunggu hujan reda.
"Sampai kapan lo mau liatin dia terus?" ketus Citra. Dari awal, ia memang tak menyukai Moza ditambah kini Aron malah terus memperhatikannya dari dalam mobil.
"Gue kasian sama dia!" gumam Aron.
"Lo suka sama dia, Ar?" tebak Citra.
"What the hell, mandi bareng! Waktu kalian bayik, dasar!" decih Citra.
"Di mobil gue ada payung, lo pinjemin dia kek kalau kasian!" Ujar Citra kemudian.
"Mana?"
"Tuh!" tunjuk Citra pada payung hello kitty yang ia simpan di jok belakang. Dengan segera Aron mengambilnya, merangkak lewat sela tengah antara kursi kemudi dengan kursi Citra.
"Not bad, perjuangan pertama," desis Citra.
Meski mengelak, bisa Citra tebak kalau Moza adalah kandidat yang akan menggantikan posisi Keyra di hati seorang Aron.
Aron turun, penampilannya yang rada-rada mirip badboy akan membuat orang lain tertawa saat melihatnya berjalan ke arah Moza menggunakan payung pinky-pinky hello kitty. Sungguh ingin sekali Aron merutuki Citra saat ini karena berhasil membuat sisi badboynya lenyap luruh terbawa hujan.
***
"Kok hujan sih, moga aja Devano gak kehujanan!" gumam Keyra menatap langit dimana hujan deras mengguyur beberapa menit setelah Devano pulang dari rumahnya.
__ADS_1
Khawatir, sudah pasti apalagi Devano menaiki motor.
Apakah ia membawa mantel hujan? Atau berteduh lebih dulu? Sungguh, ia mulai mengkhawatirkan hal-hal kecil tentang Devano.
Namun, kemuramannya pudar kala mendapat pesan dari yang terkasih di seberang sana.
"Aku sampai, ay! Basah semua, mandi dulu."
Pesan singkat yang mampu membuat Keyra lega sekaligus sedih, apakah Devano akan baik-baik saja setelah kehujanan?
"Papa?" Sapanya pada Bram yang baru pulang.
"Kehujanan nggak?" tanya Keyra meraih jass tas yang dibawa oleh Bram sepulang kerja.
"Nggak kan Papa bawa mobil, kenapa hm?" tanya Bram.
Keyra menggeleng, "aku buatin teh bentar! Cuaca lagi dingin banget." Keyra berlalu ke dapur. Bram senang sekali Keyra sangat perhatian, mendadak ia menjadi sedih karena putrinya semakin hari akan semakin bertambah dewasa.
Keyra menyeduh teh di dapur. Kebetulan Art-nya bi Sumi sudah pulang sebelum hujan tadi.
"Gimana sekolah kamu?" tanya Bram sambil menyesap teh hangat buatan putrinya. Aroma wangi melati menguar bersama asap mengepul karena teh yang masih sedikit panas.
"Baik, Pa! Tapi aku nggak yakin bakalan dapat nilai sesuai harapan Papa, maaf!" cicitnya pelan.
"Tak apa, mau berapapun nilaimu yang penting kan sudah usaha. Papa tetap bangga sama kamu."
Bram mengusap lembut kepala putrinya, lalu mendaratkan ciuman di kepala.
"Anak Papa pasti hebat," pujinya.
"Aku insecure sama Vano, Pa! Dia pintar dalam segala hal," ujar Keyra lebih mirip gumaman.
Pintar dalam segala hal? Apa termasuk bikin anak Papa jatuh cinta?" goda Bram.
Keyra merengut tapi juga tertawa, "Papa ih, aku serius. Devano pintar, semuanya bisa! mungkin kalau dibandingin sama aku itu ya 6,5 sama 10, sangat jauh!"
Entahlah, Keyra kadang merasa minder dengan kepintaran Devano. Apalagi melihat prestasi dan nilai-nilai kekasihnya.
"Kalau gitu harusnya hubungan kamu sama Devano mengarah ke hal yang baik dong, ajak dia belajar bareng! Siapa tahu, dengan kamu belajar sama Devano nilai kamu bisa naik. Papa yakin dia tipe orang yang gak akan biarin kamu kesusahan dalam hal belajar."
Keyra termenung, Devano memang membawa kebaikan tapi kadang menyesatkan. Bagaimana tidak? Bukan mengajak belajar bersama pria itu malah terang-terangan berjanji memberi jawaban yang sulit.
__ADS_1
Hari terakhir ulangan, Keyra sudah mempersiapkan diri belajar semaksimal mungkin. Pagi ini, ia berangkat lebih dulu bersama sang Papa sekalian kerja. Ia sedang menunggu Devano di depan gerbang Dirgantara.
"Ternyata nunggu itu nggak enak yah," batin Keyra merasa Devano lama, padahal ia baru menunggu selama lima menit tapi sudah berasa setengah jam.