DEVANORA

DEVANORA
32. Sadar


__ADS_3

"Ampun, Pa! Ampun!" Devano mengaduh saat sepagi ini Rafael sudah menyusulnya keji bi rumah sakit bahkan sudah menarik telinganya kencang karena semalam diam-diam menyelinap keluar rumah sewa.


"Rasain!" seru Aldo dan Leon di belakang Rafael. Tentu saja mereka hanya berani bersorak di belakang Papanya Devano.


"Om," sapa Satria.


Rafael tersenyum, melepaskan jeweran tangannya di telinga Devano lantas menghampiri Satria.


"Om turut prihatin, kamu yang sabar ya! Ayahmu belum bisa kesini karena Om harus ikutin itu tuh," tunjuknya pada Devano.


"Anak bandelnya Om satu itu," sambungnya. Detik berikutnya ia melirik Ema, yang dilirik mengangguk sopan sebagai sapaan.


"Ehm jadi ini, Sat?"


"Heheh, kenalin Om!"


Setelah basa basi perkenalan itu, mereka kembali ke ruang rawat. Devano yang akan pulang pun jadi enggan.


"Pa, bawa baju buat Vano gak?"


"Ada di mobil, ambil sendiri! Salah siapa bandel, udah malem juga nekad," omel Rafael.


"Iya-iya namanya juga cinta!" gumam Devano membalas perkataan Papanya lantas sedetik kemudian ngibrit kabur secepat kilat.


Sampai di parkiran ia bingung mobil mana yang dimaksud Papanya. Sementara di depan ruangan Keyra, Rafael sudah terbahak mengerjai putranya. Kebiasaan menjadi assisten sekaligus sopir mobilnya Divine membuat Rafael sering kali nyablak asal padahal sebenarnya ia juga lupa kalau ke rumah sakit tadi hanya menggunakan taksi.


"Om lumayan usil juga," ujar Aldo.


"Kita itung lima kali, pasti dia nongol tuh! Udah gitu biasanya muka Devano kusut, haha." Tawa Leon ikutan pecah.


Benar saja, dari ujung koridor ia berjalan lunglai dan lemas kembali ke bangsal Keyra dirawat.


"Mobil apaan? Papa ngerjain ya?"


"Nih!" Rafael menyodorkan pakaian putranya. Bukan dalam paper bag barang branded. Hanya di paperbag kawe yang ia minta pada pemilik rumah sewa tadi pagi.


"Itung-itung olah raga pagi," sindir Aldo.


"Biar makin kurus!"


"Dasar luck nut!" makinya kesal. Namun, makian itu hanya berlaku untuk kedua sahabatnya. Devano lantas ke kamar mandi umum luar rumah sakit untuk menumpang bebersih.


Lima belas menit kemudian ia kembali dengan tubuh segar dan pakaian yang sudah ganti.


"Buruan masuk, Keyra sadar!" ujar Aldo. Devano lantas masuk ke ruang rawat Keyra setelah menyodorkan asal pakaian kotornya ke pangkuan Leon.

__ADS_1


"Key!" Rupanya di dalam ada Satria, Dokter dan Papanya, Keyra sudah membuka mata akan tetapi gadis itu diam menatapnya tanpa ekspresi.


"Papa keluar dulu, pelan-pelan aja," bisik Rafael lantas mengusap bahu putranya lembut. Perasaan Devano was-was dibuatnya, apalagi melihat ekspresi sang kekasih yang biasa saja tanpa senyum.


"Key!"


Keyra terdiam, Satria mengerjapkan matanya kemudian ia pamit keluar memberi ruang untuk Devano.


"Key! mana yang sakit? Kamu pasti tersiksa ya?" tanya Devano.


"Bagaimana, Dok?" tanya Devano tak sabar saat melihat dokter memeriksa kekasihnya. Bukan menjawab, Dokter itu malah memberi beberapa pertanyaan untuk Keyra, akan tetapi hasilnya sama. Keyra hanya diam tanpa jawaban.


"Maaf, Dokter bisa panggilkan Papa saya?" lirih Keyra akhirnya.


Satria masuk bersama Bram yang didorong dengan kursi roda.


"Om!" seru Devano menyapa Bram. Bram tersenyum, "Makasih Vano udah jagain Keyra."


"Sama-sama Om," balas Devano.


Devano masih berada disana, melihat Keyra mengobrol dengan Om Bram membuat hatinya tersenyum lega, gadisnya sudah sadar sementara Satria mengikuti dokter keluar. Namun, senyum itu pudar kala mendengar Keyra menanyakan Aron pada Papanya.


Kenapa harus Aron? Kenapa bukan dia? Pikir Devano.


"Ya, Bang?"


"Sabar ya! Key terkena amnesia ringan dimana sebagian memory-nya hilang."


Devano hanya bisa mengangguk pasrah. Baginya melihat Keyra sudah sehat lebih baik ketimbang hari kemarin. Meski harus menahan sakit karena selain Om Bram, Aron-lah yang diingat gadis itu.


"Sia lan kau Aron," batin Devano.


"Hachuuu..." Aron yang tengah mengobrol dengan Papanya mendadak bersin.


"Kamu mau pilek?" tanya Noah.


"Nggak, Pa! Kayaknya ada yang lagi ngomongin aku."


"Hahah hari gini masih percaya begituan. Oh ya, kamu ada rencana lihat Keyra ke Jogja?" tanya Noah.


Aron menggeleng, ia memang tahu Keyra kecelakaan tapi ia juga dengar kalau Devano dan kawan-kawannya sudah menyusul. Jadi, Aron pikir menyusul pun percuma.


"Semoga lo lekas sembuh baby!" batin Aron.


***

__ADS_1


Senin pagi, meski dengan berat hati Devano akhirnya pamit kembali. Rafael tak bisa meninggalkan Divine lama-lama pun juga dengan trio weka, mereka harus masuk sekolah di hari selasa karena senin baru on the way Jakarta.


"Cepat sembuh!" ujar Devano mengusap pucuk kepala Keyra. Ingin rasanya mendaratkan kecupan singkat disana akan tetapi Keyra saja tak mengingat keberadaannya apalagi statusnya sebagai pacar.


"Hm, makasih."


"Aku balik, sampai ketemu di Jakarta." Devano keluar. Kini giliran duo sahabatnya masuk.


"Key! Kejam bener bikin anak orang galau, semoga cepet sembuh ya! Kalau ingatan lo pulih segera hubungi Devano, kasian dia." Pesan Aldo.


"Memang dia siapa?" tanya Keyra.


Leon dan Aldo menghela napas bersamaan, "pacarmu."


"Pacarku? Mana ada."


"Gak percaya, masa sih lo gak inget. Btw cincin di jari lo itu bagus banget apa Devano yang ngasih? Tanya Leon yang justru gagal fokus matanya malah menatap jari manis Keyra.


"Eh sorry-sorry! Kita balik, intinya lo cepet sembuh." Pamit mereka akhirnya.


Rafael sudah pamit pada Keyra lebih dulu baru ke Bram setelah selesai mereka pergi menuju bandara untuk melakukan penerbangan satu jam lagi ke Jakarta.


"Devanora," gumam Keyra tersenyum lalu menatap tanggal yang tertera disana. Tanggal yang hanya berjarak beberapa hari dari ulang tahunnya.


"Sorry, Dev!" batin Keyra. Meski membiarkan Devano pulang, hatinya berbunga melihat Devano menyusulnya ke Jogja. Bahkan sampai menungguinya dua hari ini.


"See you in Jakarta, aku bakalan kangen semua hal tentang kamu! Aku kangen jajan makanan receh sama kamu, aku sayang kamu! Semoga kamu gak akan berpaling hanya karena aku pura-pura gak inget tentang kita. Bahkan aku sampai melibatkan Abang dan Dokter untuk ikut akting."


Lain halnya di SMA Dirgantara, Maya merasa sepi karena tak adanya Keyra dan semua teman-temannya yang bolos berjamaah karena menyusul ke Jogja.


"Tau gini ikut ah, gabut banget!" serunya. Bell istirahat berbunyi, dengan lesu Maya berjalan ke arah kantin untuk mengisi perut. Namun, baru beberapa langkah keluar kelas Andin dan Dina menghalangi jalannya.


"Ehm, yang ditinggal teman-temannya. Kayaknya seru kalau kita eksekusi," ajak Andin.


"Boleh deh, lagian dia gak bisa ngadu ke sahabatnya itu. Apalagi siapa si singa pacarmya yang sekelas sama kita?" tanya Dina.


"Leon."


"Kalian kurang kerjaan banget yak!"


"Cih kurang kerjaan? Kerjaan gue ya gini, ngerjain elo hahaha..." tawa Andin.


"Yoi," sahut Dina.


Maya mundur dua langkah sementara tangan Dina dan Andin sudah mencekal lengannya.

__ADS_1


__ADS_2