DEVANORA

DEVANORA
43. Oo ketahuan


__ADS_3

"Kalian?" sapa Aron meringis kaku sambil menggaruk kepalanya. Setelah tadi kucing-kucingan dengan Rio dan yang lain, kecuali Citra sekarang ia malah dihadapkan oleh dua makhluk bucin yang sedang benci-bencinya dengan Moza.


"Ngapain lo disini, sama,--" Keyra melirik Moza. Tatapan matanya seolah sedang menguliti gadis itu.


"Ay, jangan galak-galak sama Aron," bisik Devano.


"Gue cuma mau nanya aja, dia mau dekat sama siapa juga terserah," cibir Keyra tak terima dikata galak oleh Devano.


"Iya sayang iya. Lo ngapain jalan sama pem,--"


"Dia bukan pembunuh!" tegas Aron memotong ucapan Devano.


"Ayo, Moza! Kita pergi dari sini." tanpa mengindahkan kekepoan Devano dan Keyra. Aron menarik Moza yang sudah menunduk malu masuk ke dalam mall. Meninggalkan Devano dan Keyra yang masih terbengong-bengong di parkiran.


"Kak Aron! Yang dibilang mereka itu bener lho, aku nggak mau kamu dibenci mereka gara-gara aku." Moza masih menunduk, memainkan jari-jarinya.


Aron melirik kejauhan, Devano dan Keyra sudah pulang. Menghela napas lega, kemudian memegangi bahu Moza, tatapannya melembut.

__ADS_1


"Biarin. Itu hak mereka buat benci kamu, tapi aku gak harus ikut-ikut juga. Menurut aku, kamu emang salah. Tapi bukan berarti tak bisa mendapatkan maaf dan kesempatan kedua. Sini deh!" Aron menarik tangan Moza ke salah satu sudut food court. Gadis itu menurut saja dengan bibir terus terkunci mencoba menelaah perkataan Aron barusan.


"Duduk sini! Aku mau ngomong banyak banget!" pinta Aron.


"Thanks ya kak," ujar Moza.


"Gini ya, sekarang aku nanya sama kamu, dari awal kamu jahatin Arin apa pernah berharap atau mikir endingnya bakalan kaya gini? Nggak kan!"


Moza menggeleng, sadar telah menjadi jahat. Tapi benar yang dikatakan oleh Aron. Moza tak pernah berfikir kalau Arin akan mengakhiri hidupnya.


"Yaudah! Jangan terus nyalahin diri kamu sendiri. Sekarang, buka lembaran baru dan buktiin ke Arin kalau kamu udah beneran tobat."


***


"Jangan-jangan mereka pacaran?" Keyra menurunkan buku menunya. Emang dasar, rencana pulang gagal gara-gara Devano ngajak mupengin Aron.


"Ya gak apa-apa, syukur kalau gitu!" gumam Devano.

__ADS_1


Keyra melotot, "no, big no. Aku nggak mau sayang kalau Aron sama Moza! Yakali ah kenapa enggak Citra aja sih, atau nggak Anggun apa Bela."


"Jodoh itu gak ada yang tau, seperti kita!"


Keyra mencubit lengan Devano, "udah ah, ayo pulang! kayaknya masih belum." Keyra mencebik.


"Iya iya, pulang kita. Anak-anak udah rewel nyari mama papanya," gumam Devano langsung mendapat timpukan buku menu oleh Keyra.


"Gombal melulu ah!"


***


Liburan kenaikan kelas, Keyra dan keluarga besar bertandang ke Jogja untuk menghadiri pernikahan Satria dan Ema. Pernikahan yang tergelar sederhana di salah satu hotel ternama di Malioboro.


Kurang lebih satu minggu Keyra habiskan waktunya disana. Namun, tidak dengan Devano. Ia harus menuruti Papanya dan juga Om Divine yang tak bisa berlama-lama. Tiga hari Devano disana, meski dilain kesempatan ia curi-curi waktu bersama Keyra.


Jogja menjadi kenangan pahit sekaligus manis untuk Devano dan Keyra. Meski begitu, mereka tetap menyukai kota Jogja yang khas akan kesederhanaan.

__ADS_1


Jalan-jalan sepanjang Malioboro menjadi candu yang akan dirindukan. Apalagi pesona bukit bintang di malam hari, yang tak kalah indah oleh tempat-tempat yang ada di Jakarta.


__ADS_2