DEVANORA

DEVANORA
45. Rona merah jingga


__ADS_3

Keyra keluar dari ruangan Pak Reyhan dengan membawa selembaran surat izin pulang. Baru hari pertama masuk, ia sudah harus izin pulang karena Papanya sakit. Terlalu banyak aktivitas membuat Bram akhir-akhir ini kurang memperhatikan kesehatannya. Tanpa memeberitahu Maya dan Devano, ia lantas menyampir ranselnya dan segera keluar kelas tanpa sempat berpamitan?


Keyra memesan taksi online dan langsung menuju rumah sakit dimana Bram di rawat.


Dengan langkah tergesa menghampiri resepsionis, akan tetapi belum sampai disana. Keyra sudah lebih dulu bertemu dengan Om Noah.


"Om," panggil Keyra.


"Astaga, ayo sini Key!" ajak Noah. Ia mengantarkan Keyra ke ruang rawat ayahnya.


"Tadi Papamu ngeluh sakit, terus Om samperin ke kantor ekspedisi. Ambruk dan Om bawa kesini! Sabar ya." Noah mengusapbz gt lembut bahu Keyra.


Bagi Noah, Keyra sudah seperti putrinya sendiri meski jarang sekali mereka bertemu.


"Lama kamu nggak main ke rumah Aron, kata papamu akhir-akhir ini kamu giat banget belajarnya ya?" tanya Noah.


"Iya, Om. Aku harus ngejar banyak ketinggalan. Apalagi kan kecelakaan di Jogja itu aku absen lama."


Mereka sampai di ruang rawat Bram. Tak ada keluhan apapun, Bram hanya kecapekan dan butuh banyak istirahat.


Setelah mendengar penjelasan Noah dan dokter, Keyra jadi bernapas lega.


"Pa, jangan banyak pikiran kenapa!" Keyra hampir menangis. Ia menghambur dalam pelukan Bram. Khawatir dan panik sudah sangat menyerangnya dari tadi.


"Kok nangis, cengeng!" Bram tersenyum menyambut putrinya.


"Pasti kerjaan Om Noah udah bikin anak kesayangan Papa khawatir. Padahal kan udah dibilang jangan dikasih tahu sebelum pulang sekolah." Bram mengusap rambut hitam Keyra.


"Gimana keadaan Papa, mana yang sakit. Aku takut banget Papa ninggalin aku." Keyra masih sesegukan. Ia ingat dulu kala Zahira pergi tepat saat ia berada di sekolah.


"Maaf ya." Bram menggenggam tangan putrinya.


"Papa!" Keyra kembali mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


***


Devano baru tahu kalau Keyra izin pulang, kata Pak Reyhan ia bahkan tak sempat istirahat.


Mendengar calon Papa mertuanya sakit, Devano pun berinisiatif untuk menjenguknya sepulang sekolah.


Aldo, Leon dan Maya ikutan. Mereka langsung menuju rumah sakit dimana Bram dirawat.


"Om," sapa Devano pada Noah.


"Eh, Vano! Masuk saja, Keyra ada di dalam."


Setelah menyusuri banyak koridor bahkan sampai ngotot bertanya pada resepsionis rumah sakit. Devano dan yang lain akhirnya sampai di bangsal Bram dirawat.


Devano masuk bersamaan dengan yang lain.


"Sore, Om!"


"Hallo, Vano, hallo semuanya!" Keyra menoleh, tak menyangka Devano, Aldo Leon dan Maya akan datang menjenguk Papanya.


"Maaf kita nggak tau dan baru ngeh kalau lo itu ngilang setelah istirahat. Gue kira lo lagi ngambek sama dia..." Maya melirik sekilas ke arah Devano. Mereka sedang bisik-bisik sekarang.


"Om sakit apa?" tanya Devano.


"Biasa, kecapekan. Kalian habis dari sekolah langsung kesini ya?" tanya Bram menatap trio weka bergantian.


"Ya, Om. Kami khawatir pas tau tiba-tiba Keyra gak ada di sekolah. Jadi langsung cari informasi," Jelas Aldo.


"Alhamdulillah, berarti Keyra dikelilingi orang-orang baik seperti kalian. Dan bahkan saat tahu Papanya sakit kalian langsung kesini. Bener-bener Key, temen kamu ini pada baik semua," puji Bram.


Melihat hal itu, ia jadi mengingat Arin. Kenapa Arin tak seberuntung Keyra?


Mungkin itulah yang dinamakan kembar tak berarti sama. Keyra cenderung tangguh, sedangkan Arin? yang Bram lihat Arin lebih dominan ke kalem, sama seperti istrinya Zahira.

__ADS_1


"Cepet sembuh ya, Om! Kita juga sedih kalau Keyra sedih. Nih matanya sampe bengkak gini, katanya khawatir banget sama Om!" Kali ini Maya yang mendekat ke brangkar bersama Keyra.


"Ehm, iya iya! lagian Keyra-nya terlalu panik gara-gara Om Noah. Dan ya, dia sampai sini langsung nangis," cerita Bram.


"Pantes, cantiknya luntur kebawa air mata ternyata," goda Devano.


Keyra mencebik, "biarin. Cantik gini juga masih laku, lihat aja kalau ada cowok ganteng aku lirik pasti ada yang ngamok!"


Sontak mereka semua tertawa mendengar balasan Keyra pada Devano.


Setelah hari sudah mulai menggelap, rona merah jingga mulai menampakkan indahnya. Mereka semua pamit.


"Yakin gak apa-apa aku tinggal pulang dulu, Pa?" tanya Keyra.


Bram mengangguk.


"Nanti aku kesini lagi ya, Pa! Sama Vano, biar dia anterin aku kesini."


"Emang Vano gak sibuk?" tanya Bram menatap Devano.


"Nggak, Om! Saya janji anter Keyra kesini lagi."


Bram mengangguk.


Keyra pulang untuk mandi, sementara Devano menunggunya. Barulah Keyra ke rumah Devano sebelum ke rumah sakit.


"Makan disini dulu ya, sayang! Momy udah masak, buat papamu juga. Kamu bawa ke rumah sakit ya?" tawar Mom Key.


"Makasih banyak ya, Tante!"


"Panggil Tante, Momy. Mulai sekarang, kamu juga anak tante!" Momy Key memeluk Keyra.


"Salam buat Papamu ya sayang, besok kita kesana tengokin. Malam ini Om masih banyak tugas," ujar Rafael.

__ADS_1


"Dev, jagain Keyra." pesan Rafael diangguki oleh sang putra.


Malam itu juga Devano mengantar Keyra ke rumah sakit. Menemaninya barang sebentar menjaga Bram. Disaat orang-orang melihat hubungannya dengan Keyra hanya sebatas hubungan tak jelas anak remaja. Tidak bagi Devano, ia benar-benar serius menambatkan hatinya untuk Keyra seorang.


__ADS_2