DEVANORA

DEVANORA
19. Happy birthday to you


__ADS_3

Cahaya jingga semakin tenggelam, akan tetapi perasaan sedih justru bermunculan di hati Keyra. Sebuah fakta yang mematahkan keyakinannya pada Devano seketika, menghempas perasaan suka yang mulai tumbuh untuk kembali berjatuhan.


"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, bahagia dan sehat selalu, selamat ulang tahun..." Devano muncul dengan kue di tangannya, serta lilin berangka tujuh belas di atasnya.


"Dev, lo nggak ke toilet!" Devano menggeleng, entah harus senang atau sedih, Keyra sama sekali tak menyangka jikalau lelaki itu telah menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya.


"Bentar aku nyalain dulu lilinnya," ujar Devano. Ia menyalakan korek ke lilin lalu meminta Keyra berdoa lebih dulu, memanjatkan pengharapannya di tahun berikut meski hanya dalam hati.


Tuhan, aku ingin bahagia! Aku ingin ketenangan dan aku ingin orang yang ada di hadapanku ini adalah orang yang tulus denganku.~


"Udah!" Singkat Keyra.


"Oke kalau gitu tiup lilinnya, ya!" senyum manis tersungging di bibir Devano. Jelas ia bahagia bisa memberikan kejutan untuk Keyra meski kecil.


Haruskah ia berterima kasih pada buku data siswa yang diambilnya waktu itu? Atau berterima kasih pada Bu Guru yang meminta tolong padanya untuk mengambil buku data siswa? Entah, yang jelas Devano merasa apapun yang terjadi, keterikatannya dengan Arin bahkan jungkir baliknya hati untuk Keyra adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan.


Keyra meniup lilin itu hingga padam, perasaannya semakin dilema dengan sikap Devano saat ini.


"Udah, sekarang udah boleh gue potong kan?" tanya Keyra.


"Boleh dong, itu kan emang buat kamu."


Deg.


Keyra terdiam beberapa detik, Devano memanggilnya dengan sebutan 'kamu' , Kenapa terdengar manis sekali?


Keyra memotong kue kecil itu dengan pisau kecil, bukan pisau beneran. Hanya pisau yang biasa disediakan penjual kue tart di dalam boxnya.


"Gue... Gue gak tau mesti ngomong apa! Lo kenapa baik gini sih? Tapi makasih banget, Dev!"


"Coba kalau lagi berdua gini panggilnya aku kamu!" pinta Devano.


Keyra malah memalingkan wajahnya malu, " kok aku kamu?"


"Ya, biar lebih kedengeran manis! Mau ya?"


Keyra mengangguk kaku.


Devano malah menyuapkan kue pemberian Keyra ke mulutnya.


"Kado buat aku mana?" tanya Keyra yang sudah fasih memakai kata 'aku' meski baru saja Devano memintanya.


"Nyusul ya, tapi yang jelas aku pengen ngajakin kamu ke suatu tempat besok! Mau?"


"Kenapa harus nunggu besok?" tanya Keyra.

__ADS_1


"Karena kalau sekarang udah malem! Oh ya, udah kabari Om Bram belum kalau pulang telat?" tanya Devano.


"Udah, aku juga bilang kalau pergi sama kamu!" tegas Keyra. Sebenarnya ia ingin sekali menanyakan soal Arin, siapa Arin dan kenapa Devano memasang foto Arin sebagai wallpapernya. Namun, entah kenapa bibir Keyra jadi kelu.


"Dev, sebenarnya siapa Arin? Gue jadi dilema, lo beneran suka ama gue atau cuma jadiin gue pelampiasan dan pengganti Arin?"


"Eh, bengong! Kita bagiin ke orang-orang sisanya gimana?" tanya Devano.


"Boleh, tapi gimana gak ada wadahnya, Dev?"


"Biar aku yang bagiin!" Devano malah meminta pengunjung sekitar mengambil satu-satu potongan kuenya. Dan hal yang membuat Keyra terpesona adalah saat Devano meminta mereka mengucapkan sepotong doa untuknya. Sungguh, devinisi bahagia yang sederhana.


"Beres, ayo makan!" ajak Devano setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku, ia meraih tangan Keyra dan menggandengnya melewati beberapa orang yang ada disana menikmati gelapnya pantai.


"Kita makan apa?" tanya Devano.


"Terserah!"


Jawaban Keyra membuat pria itu menghela napas panjang, "Key!"


"Hm, ya?" Keyra menoleh sejurus kemudian memalingkan wajah ke sembarang arah meski tangannya sama sekali tak menolak genggaman tangan Devano.


"Aku nunggu jawaban kamu, Key!" tuntut Devano.


Lalu langit yang tadinya cerah menggelap bersama mendung yang bergelayut manja.


"Ck! padahal bentar lagi nyampai parkiran," keluh Devano. Ia terpaksa mengajak Keyra berteduh di emperan kedai kecil. Dimana hanya jual makanan cepat saji seperti mie rebus dan mie goreng versi cup.


"Yaudah kita makan disini aja sambil nunggu hujan!" usul Keyra.


"Kalau kamu nggak keberatan? Apalagi disini cuma ada,--"


"Yang penting makan kan!" Keyra menarik turunkan alisnya.


Devano mengangguk, lantas memesan dua cup mie kuah dan teh hangat. Cuaca berubah dingin, entah kenapa ia jadi merasa bersalah karena mengajak Keyra pergi.


"Sorry, gegara gue!" Bahasa laki-laki itu bahkan berubah lagi, sungguh labilnya perasaan dua manusia itu.


"Dev, bentar lagi kan kenaikan kelas! gue gak mau fokus gue terbagi dengan hal-hal lain, apa bisa kasih gue waktu?"


Paling tidak sampai lo jujur perihal Arin ke gue...


"Gue ngerti kok."


Acara makan malam indahnya gagal total karena hujan. Sampai kedua insan itu terjebak lama baru bisa pulang.

__ADS_1


Motor Devano melaju kencang membelah jalanan. Meski gelap cukup mengganggu, ia harus mengantar Keyra pulang tepat waktu dan memastikan jikalau gadis bar-bar itu tak akan mendapat masalah karenanya.


Sampailah Devano di gerbang rumah Keyra, kali ini ia masuk demi memastikan Om Bram tak memarahi putrinya karena keterlambatan mereka pulang.


"Mampir dulu bentaran! Biar aku ambilin jaket baru," ajak Keyra.


Devano mengangguk.


Kedatangan mereka disambut oleh Bram, bernapas lega karena putrinya sudah pulang diantar oleh Devano.


"Jadi beneran Devano kandidat yang terpilih?" tanya Bram menggoda putrinya.


"Ish apaan sih, Pa! Ayo masuk, Dev!"


"Surpriseeee..."


"Ini kok?" Keyra terkejut bukan main saat mengajak Devano masuk. Disana malah ada dua orang tuanya Devano sekaligus bahkan ikut memberinya surprise bersama sang papa.


"Kejutan! Ayo duduk dulu," ajak Bram.


"Kok ada Momy sama Papa ya?" Devano meringis, menggaruk kepalanya cengo.


"Ish, ni anak dibantuin gak tau terima kasih!"


"Aku ganti baju dulu, Pa! Om, Tante, Dev!" pamit Keyra. Sejujurnya ia sangat gugup terlebih adanya kedua orang tua Devano.


Tak berselang lama, Keyra turun membawa serta merta jaket milik Devano yang dipinjamnya.


"Ganti baju pake ini," ucapnya.


"Thanks, Key!"


Devano meminta izin ke toilet, lalu mengganti pakaiannya.


Tak berselang lama ikut kumpul kembali.


"Sayangnya abangmu udah balik, Key!" ujar Bram.


"Iya nih, sayangnya Pa!"


"Selamat ulang tahun ya sayang!" ucap Keyra pada putrinya Bram. Ia merasa memiliki banyak kesamaan dengan gadis kecil itu.


"Makasih banyak tante, om."


Noah baru sampai diparkiran berkat bujukan Aron. Putranya kekeh mengajak datang ke rumah Bram karena hari ini adalah hari spesial bagi Keyra. Aron ingin menjadi salah satu orang spesial dimoment bahagia gadis itu.

__ADS_1


Namun, Aron dan Noah pupus kala melihat Rafael bersama istri dan anaknya berada disana.


Kenapa ini? Kenapa selalu ada persaingan perihal cinta?


__ADS_2