
"Oh jadi lo cewek bar-bar yang waktu itu di bar ya? Yang marah-marahin Vano?" cerca Emily.
"Gue gak bar-bar ya, lo tuh yang bar-bar!" kesal Keyra.
"Ay udah, ay! Malu," bujuk Devano.
Emily melirik Keyra sinis, meski begitu ia tetap duduk. Devano mendesah pelan, menghadapi dua wanita yang sama kerasnya. Sial sekali, apa yang dikatakan sang kekasih memang benar adanya. Saking frustasinya ia ditinggal Arin sampai gandeng Emily kemana-mana. Bahkan Devano sampai lupa kalau jarak umur mereka terpaut tiga tahun, Emily tiga tahun lebih tua darinya.
"Jadi ini, orang yang katanya mau kamu ajak ketemu sama aku ay? Mantan pacar kamu yang lain?" cerca Keyra. Penyakit bucen akut bin miss posesif sepertinya sudah berhasil Devano tularkan.
"Gue bukan mantan Vano, ya!" sengak Emily. Awalnya ia memang menyukai bocah tengil itu, tapi sejak bertemu Albert semuanya berubah termasuk tujuan hatinya.
Disela-sela perdebatan mereka, pelayan datang menghidangkan beberapa pesanan Devano dan Keyra termasuk juga untuk Emily.
Keyra melirik perut Emily yang melendung, merasa diintimidasi Emily pun memalingkan wajahnya.
"Ay dengerin aku ngomong dulu ya," pintanya memelas. Hilang sudah ketegasan dan sikap dinginnya sebagai laki-laki jika sudah berhadapan dengan Keyra.
"Emily lagi butuh uang! Jadi gak ada salahnya aku bantu," ujar Devano lembut menatap manik mata Keyra.
"Ehm!" Emily berdehem merasa tak nyaman.
"Maksudku Mbak Em, ya kan tua dia!" ujar Devano lagi, terbiasa dengan panggilan nama membuat Devano ceplas ceplos pada Emily.
"Kalau nggak ada, gak usah dipaksain!" lirih Emily dengan nada pelan.
"Mbak ngerti, kamu masih sekolah. Uang jajanmu nggak seberapa," sambungnya lagi.
"Mbak?" batin Keyra merasa aneh dengan panggilan dua orang itu. Memang sejak Emily pindah, Devano bisa lebih menghargainya sebagai wanita yang lebih tua meski dulu saat masih bertetangga mereka kerap kali seenak jidat bahkan keluar bareng kemana-mana.
"Ini gimana sih?" dumel Keyra merasa dua orang di hadapannya saat ini banyak drama.
"Jadi gini, gue tuh sebenernya sama Vano tetangga! Kita temenan dari orok, ibarat ia jadi breng sek pun gue ikutan. Mungkin awal pertemuan kita kurang baik, Devano waktu itu lagi nggak baik-baik aja dan lo, gue masih inget lo ngaku-ngaku sebagai Arin waktu itu. Gue tuh gak pindah keluar kota, gue cuma pindah tempat tinggal dimana gue gak akan dihujat karena keadaan gue." Emily mendesah pelan.
"Terus itu?" Keyra menatap perut Emily dengan tanda tanya besar.
"Anak Albert, tapi dia masih proses cerai sama istrinya."
"Gila sih ini, kok bisa sih!" Keyra menutup wajahnya saking terkejut.
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Devano.
"Bisa lah, istrinya Albert selingkuh dia yang dateng ke gue. Emang agak gila sih, tapi mau gimana lagi."
"Gue sebenernya pengen ketemu Vano, pengen cerita banyak hal. Tapi Vano bilang gak mau ketemu gue tanpa ceweknya," sambung Emily.
"What?" Keyra beralih menatap Devano. Minuman di depannya bahkan sudah tandas saking panasnya tenggorokan dan hati.
"Ya kan aku ngehargai kamu, Ay! Aku nggak mau jalan sama siapapun tanpa seizin kamu. Meskipun kamu dalam keadaan melupa sama aku," alibi Devano.
Sampai di sesi akhir pertemuan mereka, Devano menyodorkan lembaran merah kurang lebih lima biji pada Emily. Keyra semakin salut dibuatnya.
"Uang segitu gak ada apa-apanya buat gue? Tapi buat Devano? Buat Emily? Astaga," batin Keyra. Dan bertemu Emily membuatnya semakin lebih bersyukur mendapati keluarga yang kecukupan. Meskipun tanpa vigur seorang ibu di dalamnya.
"Uang segitu bisa buat berapa lama, Mbak?" tanya Keyra penasaran.
"Bisa buat makan dua mingguan lah, Key!"
"Astaga!" Keyra kembali mengatupkan bibir terkejut.
Membayangkan di posisi Emily membuat hatinya mencelos. Padahal lima ratus ribu adalah uang jajannya seminggu. Sungguh Keyra benar-benar tak habis fikir.
"Terus mbak kerja apa?" tanya Keyra.
Emily menghela napas, kenyataannya sejak hamil ia hanya mengandalkan uang dari Albert. Namun, untuk saat ini pria itu sedang sangat repot, tak etis rasanya jikalau Emily meminta uang atau transferan saat ini.
"Nganggur, Key! Gak enak banget ya, apalagi buat gue yang terbiasa kerja!"
Obrolan mereka terputus oleh waktu, Devano mengajak Keyra pulang pun dengan Emily yang pamit. Hal itu tak luput dari pandangan Moza, ia hanya menghela napas dan berharap Keyra dan Devano mempunyai maaf untuknya.
"Mereka orang baik, tapi kenapa gue jahat banget! Dev, pantas lo gak pernah ngeliat gue, sekarang gue tahu alasannya kenapa!" gumam Moza.
"Karena Keyra memang orang yang pantas buat lo dari segi apapun dan manapun. Dia sempurna, bukan cuma fisik tapi juga hatinya." Moza terus menatap kepergian couple Dirgantara itu dari kejauhan.
***
Sebuah mobil berhenti di depan caffe beberapa saat setelah Devano dan Keyra pergi. Mereka adalah Andin dan Dina, setelah mendapat informan dari berbagai sumber akhirnya mereka menemukan keberadaan Moza disana. Di sebuah caffe, dengan tampilan biasa dan tak lupa celemek yang menempel di bajunya.
Moza sedang bebersih karena pukul empat sore nanti pulang, pekerjaannya selesai dan berganti dengan pekerja shif dua.
__ADS_1
"Moza!" teriak Andin heboh.
"Ckckckck jadi bener ya, sekarang lo cuma jadi kang bersihin meja di caffe, iuhhh Moza demi apa coba," ledek Dina.
Ia bersedekap dada pun dengan Andin yang tak menyangka perubahan drastis seorang Moza mantan bunga sekolah.
"Kalau kalian kesini cuma mau ngledekin gue, mending pergi! Gue lagi males debat," ujar Moza berusaha tenang.
Ia tau watak dua sahabatnya ini, sangat tahu.
"Gak nyangka aja sih, kasian yah!" desis Andin.
"Tau gitu dari dulu aja kita cabut jadi temennya, kalau gini kesannya udah beda level gak sih?" ketus Dina.
Moza hanya menaik turunkan alisnya, menatap Dina dan Andin bergantian.
"Gue gak butuh temen penjilat kaya kalian," jawabnya.
Andin dan Dina malah terkekeh jail, bekas minum yang belum dibereskan Andin tumpahkan di sepatunya.
"Aduh, gimana sih! Punya mata nggak? sepatu saya jadi kotor nih," gerutu Andin setengah berteriak hingga beberapa pengunjung cafe yang jaraknya agak jauh menoleh ke arah mereka.
"Apa benar itu Moza?" tanya Manager mendekat saat mendengar kehebohan disana. Setahunya Moza si pekerja keras ini tak sesembrono itu.
"Maaf, Pak! Tapi bukan saya yang melakukannya."
Byurr!
Andin menyiram Moza dengan air sisa lainnya, "masih mau ngelak lo?"
"Ckckckck miris," cibir Dina.
"Sudah-sudah jadi pegawai saya harus gimana?" tanya Manager.
"Nggak mau tau, dia harus elap sepatu saya sampai bersih," ketus Andin.
"Setuju, lagian cuma elap bukan gantiin yang harganya berkali lipat dari gajinya disini," ujar Dina.
Moza mengepalkan tangannya, ia sungguh tak pernah menyangka kesialan kembali menerpanya meski sudah jatuh susah.
__ADS_1