DEVANORA

DEVANORA
23. Kembalinya Moza


__ADS_3

Sejak kejadian di makam itu, Devano dan Keyra terlihat layaknya sepasang bahagia yang sedang bucin-bucinnya. Namun, meski telah resmi berganti status menjadi pacaran mereka tetap menjaga batasan sesuai pesan-pesan orang tua mereka.


Satu bulan kemudian.


SMA Pelita Harapan digegerkan dengan masuknya Moza dengan identitas baru.


"Anak baru tuh, Ar! Cupu pula, ck! Jaman gini masih aja pake musim tampilan kutu buku." Rio menyenggol lengan Aron agar laki-laki itu menoleh. Suasana kantin sepi seharusnya bisa dengan mudah Aron melihat keberadaan Moza.


"Sialan, kalau bukan karena nama gue diblack list dibeberapa SMA, gue gak mau pake penampilan model gini, bahkan dengan nama palsu yang gak gue suka," gerutunya menahan rasa kesal. Ia merasakan bagaimana tak satu orangpun mau menyapanya bahkan sekedar berbasa-basi tanya pindahan darimana?


"Cewek cupu dari planet mana nih?" goda Rio berusaha menghalangi jalan Moza.


Aron hanya geleng kepala akan tetapi saat matanya menatap wajah Moza yang mengenakan kacamata dan rambut pendeknya mendadak ia merasa familiar.


"Gue kaya gak asing dengan mata tu cewek," batin Aron akan tetapi ia tetap memilih diam.


"Dih ganteng banget anjir," puji Moza dalam hati. Ia lupa kalau mereka pernah bertemu sekali waktu ia menyerang Keyra bersama Ferdy di belakang sekolah. Moza bukan tipe orang yang suka fokus pada laki lain. Selama ini yang ia kejar hanyalah si Ketos Devano.


"Minggir," desis Moza, ia menerobos Rio dan Aron begitu saja.


"Ck! Awas lo ya, anak baru aja berani, gue sumpahin sial sekolah disini." Baru saja mengatupkan mulutnya, Moza sudah mendapat sambutan salam perkenalan dari salah satu genk teman kelas barunya.


"Salam kenal, makhluk cupu! Semoga lo gak betah sekolah disini, ya makhlum lah kita kaum cantik. Sementara situ? Citra melirik name tag Moza dengan ekor matanya.


"M-e-y? Wait, hahahaha..." tawa bahak citra dan teman-temannya seketika.


"Pantesan penampilan lo kaya gini, nama lo aja Meysaroh!" cibir Citra.


Moza mendekus sebal, akan tetapi ia hanya bisa bersikap pasrah disini, terlebih tak memiliki teman sama sekali Moza harus pandai mengambil muka siswi lama.


"Oke kita skip si cupu buat besok-besok. Citra cantik jelita ada kabar bagus buat kalian semua," ujar Citra.


"Apaan tuh?" tanya dua orang temannya.


"Keyra ngajak kita jalan-jalan lusa! Dia janji bakal ngenalin cowoknya ke kalian. Kalau gue sih dah ketemu kemarin, gila cakep banget! Aron aja kalah," ujar Citra sedikit mengurangi volume bicaranya diakhir kalimat.


"Keyra? Bukan Keyra si cucunguk itu kan?" batin Moza bertanya-tanya. Jangan-jangan keluar dari bui, ia malah masuk ke arena pergaulan Keyra.


"Ck!" Moza berdecak kesal hingga memancing yang lain menoleh ke arahnya.


"Oh ya cupu, lo mau gak jadi teman kita?" tawar Citra dengan senyum seringai.

__ADS_1


"Cit, gak usah ngerjain anak baru napa! Hoby banget," ujar Rio.


Moza boleh tersenyum mendengar satu orang membelanya apalagi laki-laki.


"Gue itu tulus nawarin dia keles, ya kalau mau syaratnya gampang kok! cukup mau kita suruh-suruh aja, soalnya kan gak mungkin gue bawa asisten ke sekolah," ujar Citra diakhiri gelak tawa kedua temannya.


Bell tanda masuk kelas mengakhiri perdebatan mereka. Namun, Moza lupa jikalau dirinya berada satu kelas bersama Citra n genk.


Dan hidupnya tak akan aman kalau sampai mereka tau ia pelaku pembully-an Keyra dan saudara kembarnya di SMA Dirgantara.


"Semoga Papa bener-bener bisa melindungi identitas gue," gumam Moza.


***


Hari yang dinanti pun tiba, Keyra memang tak berencana mengenalkan Devano ke teman-teman lamanya. Hanya saja, ia merasa tak enak karena terlanjur janji dengan Citra. Akhirnya Keyra membuat acara dinner kecil-kecilan.


Pukul tujuh, Devano mengendarai motor gedenya untuk menemput sang kekasih.


Sampai di kediaman Bram, ia pun tak lupa dengan sopan meminta izin mengajak Keyra keluar.


"Sayang, kamu yakin mau dinner pakai pakaian seperti itu?" tanya Bram.


"Keyra mengangguk.


"Tuh liat Devano aja udah cakep," ujar Bram.


Devano yang mendengar ucapan Keyra hanya mengulum senyum terlebih saat Om Bram mendebat penampilan putrinya. Padahal bagi Vano, mau memakai apapun Keyra tetaplah cantik dimatanya.


"Apaan sih, Pa! Udah cocok kok kita kaya Dy lan dan Melia."


"Cocok katanya, Dev!" Gumam Bram sambil terkekeh.


Mereka akhirnya pamit, tak butuh waktu lama bagi Devano dan Keyra sampai di caffe tempat mereka makan malam bersama teman-teman Keyra.


"Itu dia kita sambut," ujar Citra antusias. Anggun dan Bella hanya bisa terbahak melihat tingkah Citra.


"Hallo, Guys! Kangen tau," oceh Keyra memeluk temannya satu persatu. Devano hanya menyalami mereka dengan mode kalem tanpa kata.


"Ini Devano, ehm cowok gue," aku Keyra.


Lagi-lagi Devano mengangguk saja sebagai sapaan kedua, entah kenapa tiba-tiba perasaannya gak enak.

__ADS_1


Tak berselang lama, Aron datang. Ia bersama Rio dan tak lupa teman songongnya itu berhasil mengajak Moza karena Rio sedang mendekati gadis itu.


Aron duduk di samping Citra, "sorry, Key! Gue terpaksa ajak Rio tapi dia malah ajak gebetannya," ujar Aron.


Moza berdehem sebentar lalu melembutkan suara agar Devano tak mengenalinya.


"Gue Meysaroh, panggil aja Mey!" Dengan tenang ia memperkenalkan diri. Namun, bukan Keyra jika tak mengenali Moza versi cupu. Terlalu sering dibully membuat gadis itu menghafal wajah Moza dengan benar.


Namun, tak semudah itu bagi Keyra. Ia harus memastikan pada sang Papa apakah Moza sudah bebas barulah ia bisa membuktikan bahwa Meysaroh memanglah Moza.


"Ck ck Mey!" Citra tak kuasa menahan tawanya.


Diam-diam Moza mengepalkan tangan, kenapa nasibnya seapes ini? Akan tetapi, ia memang harus masuk circle Keyra, siapa tau ia bisa merebut teman-teman cucunguk itu, pikirn liciknya.


"Oh, oke!" Sahut Keyra.


"Sayang, kok diem! Kenalan dong sama temen-temen gue dari Pelita Harapan! Sebelum pindah ke Dirgantara, merekalaho.oo. orang-orang kesayangan gue," ujar Keyra sepertinya menemukan ide untuk melihat reaksi Meysaroh. Benar saja, gadis itu tampak aneh.


"Ini Aron, dan itu Citra si paling cantik jelita! Itu Anggun yang paling kalem dan Bella yang super cerewet kalau lagi ghibah," ujar Keyra menunjuk temannya satu persatu.


"Gue gak lo anggep Key, astaga nyesek!" keluh Rio.


"Hallo semua!" sapa Devano.


Meski mood-nya sedikit buruk karena ada Aron disana. Devano berusaha bersikap biasa agar Keyra tak merasa terkekang dengan sikap posesifnya.


Makanan satu persatu datang, selain makan malam mereka juga menikmati alunan musik di sudut caffe. Lagu-lagu indi menemani makan malam mereka. Hingga di sesi terakhir, Keyra mengajak Devano berduet lagu.


Malam bantu aku tuk luluhkan dia


Bintang bantu aku tuk tenangkan dia…..


Dari rasa cemburu dari rasa curiga


Karna hati ini kusimpan hanya untukmu


Tenangkan dirimu kau terlalu jauh


Sebenarnya aku tak seburuk itu


Semua perjuanganku dibelakang dirimu

__ADS_1


Semata karna ku tak mampu hidup tanpamu


(Mario G - semata karenamu)


__ADS_2