DEVANORA

DEVANORA
41. Insecure


__ADS_3

"Selamat ya, Devano! Tahun ini kamu menjadi siswa dengan nilai terbaik seangkatan." Bram mengucapkan selamat pada Devano, memberikan beberapa hadiah untuk siswa-siswi berprestasi di ruangannya.


Mereka dipanggil guru untuk menemui Bram langsung.


"Asyik hadiah dari calon mertua," batin Devano. Bibirnya tersenyum senang lalu menunduk hormat sebagai salam ucapan terima kasih.


"Terima kasih, Pak!" ujar Devano, meski batinnya sudah menjerit bicara seformal itu dengan Papa dari kekasihnya.


Lain Devano, lain dengan Keyra. Saat ini ia dan Maya ikut melesak siswa-siswi yang mengerubungi Papan pengumuman yang terletak di dinding luar ruang TU, Tata Usaha.


Namun, diantara deretan rank sekolah. Nama Keyra jauh berada di list bawah. Nomor 50+.


"Astaga, keren parah! Tahun ini kelas sebelas Devano lagi juaranya!" puji beberapa siswi yang tengah membaca list rank di papan pengumuman. Sementara untuk hasil ujian senior belum keluar.


"Devano kan emang dari awal masuk udah pinter. Gak kaya kita otak-otak encer!"


"Jangankan kita, ceweknya aja gak ketularan pinter! Ups, keceplosan." Siswi yang tak sengaja berucap frontal tadi membekap bibirnya sendiri saking takut ada yang mendengar.


Tak tahukah mereka jikalau Keyra sudah mendengarnya?


"Jauh banget jarak kita," batin Keyra malah menghitung jarak rank satu dengan rank lima puluh empat, sungguh sejauh Jakarta ke Jogja.

__ADS_1


"Gak apa-apa, jodoh itu bukan perkara prestasi yang sama!" Maya mencoba menenangkan Keyra yang berubah murung apalagi saat mendengar Devano dikait-kaitkan dengan Tiara, si Runner up.


"Mereka bilang Devano cocoknya sama Tiara, sama-sama pinter! Nah gue?" Keyra menunjuk dirinya sendiri dengan lesu.


"Gue otak pas-pasan bisa apa?" sambungnya lagi dengan nada menyedihkan. Padahal akhir-akhir ini ia sudah belajar semaksimal mungkin. Ia sudah melakukan upaya agar bisa mengimbangi kepintaran Devano akan tetapi hasilnya? Keyra masih jauh dibandingkan dengan prestasi Devano.


"Selamat ya, Dev! Lo keren selalu nangkring di nomor paling atas!" Tiara menyunggingkan senyumnya. Senyum manis terlebih ada lesung di kedua pipi gadis itu.


Devano balas tersenyum, "lo juga keren, sangat keren!" Devano bahkan tak segan mengacungkan jempolnya ke arah Tiara.


Mereka jalan bareng keluar dari ruangan sambil membawa hadiah prestasi dari Bram.


"Astaga," gumamnya pelan. Maya terus mengusap punggung Keyra demi menyabarkan sahabatnya itu. Sudah mirip seperti orang masuk angin saja sedari tadi di elus punggungnya, seharusnya Maya sekalian mengusapi Keyra dengan minyak angin agar pasokan udara ke paru-paru terasa melegakan tak lagi sesak karena melihat Devano kembali ke kelas beriringan dengan Tiara.


"Sumpah demi apa? Gue insecure sekaligus sebel-sebel cemburu," gumam Keyra meratap.


Maya mengabaikan Leon dan memilih membuntuti Keyra.


Akan tetapi gadis itu malah melesak masuk ke ruangan Bram dan menangis sejadi-jadinya.


"Papa, hiks..."

__ADS_1


Tak ingin mengganggu momen sad itu, Maya memilih kembali ke kelas. Ia bertemu Devano disana.


"Lihat Keyra gak Mae?" tanya Devano.


Maya mengangguk, "lagi nangis."


"Wait, nangis? Dimana? Kenapa? Kok bisa?" cerca Devano tak sabaran mendengar informasi dari Maya.


"Cemburu, liat lo jalan barengan Tiara. Mana pake lempar-lemparan senyum lagi, seolah lo gak ngeliat Keyra sama sekali," ujar Maya mendramatisir.


"Astaga! kok gue?" menunjuk dirinya sendiri tak percaya. Perasaan tadi ia hanya tak sengaja bareng Tiara dan saling ngucapin selamat, gak lebih.


Setelah mencari Keyra ke setiap sudut sekolah, Devano akhirnya menyerah. Ia tak mungkin memaksa masuk ruangan Om Bram demi bertemu sang kekasih pemilik hati. Hanya saja, menurut Devano bukan itulah penyebab aslinya.


Jadi Keyra kenapa?


Di tengah pikiran yang berkecamuk, langkahnya terhenti tepat di papan pengumuman siswa. Mencari nama Keyra disana. Devano menemukan Keyra berada di urutan 54.


"Ayang sedih gara-gara ini pasti," gumamnya pelan. Bersamaan dengan Pak Reyhan yang berdehem di belakangnya.


"Keyra pulang duluan sama Pak Bram barusan!" ujar Pak Reyhan sekedar memberikan informasi barangkali penting.

__ADS_1


__ADS_2