DEVANORA

DEVANORA
17. Cerita malam


__ADS_3

Sudah dua hari ini Keyra mati-matian menghindari Aron. Bukan tanpa sebab gadis itu melakukannya. Entah kenapa sejak pengakuan cinta Aron siang itu telah membuat perasaan Keyra semakin tak nyaman dan dilema. Hal aneh lainnya, ia merasa bersalah pada Devano. Keyra merasa omongan Devano beberapa waktu lalu ada benarnya.


"Arghhh, ini kenapa hati gue jadi galau gini sih? Asem banget," gerutunya menghempas tubuh ke atas ranjang.


Malam sudah hampir larut dan ia tak bisa memejamkan mata. Ditatapnya jam di dinding sudah hampir pukul dua belas artinya orang rumah termasuk Papanya sudah terlelap.


Tap tap tap...


Langkah Keyra menuruni tangga, bermaksud untuk mengambil air dingin di kulkas dapur. Namun, matanya justru menangkap sang papa masih memangku laptop berteman cahaya remang lampu meja ruang tamu. Bahkan lampu besar di ruang tengah sudah mati sejak ia naik ke lantai atas tadi.


"Pa, belum tidur?" Keyra mendekat. Penasaran dengan apa yang dilakukan Papanya sampai selarut ini masih membuka mata.


"Belum, lho kamu kok belum tidur Key? Besok kesiangan lho." Bram menatap lekat putrinya, kemudian menutup laptop.


"Ish kok ditutup, Pa! Key kan belum lihat tadi," cemberut Keyra.


"Hm, yakin mau lihat? Atau mau dengar cerita Papa sekalian," ujarnya.


Keyra mengangguk antusias, ia paling suka mendengar cerita Bram tentang masa muda papanya, lebih tepatnya masalalu.


"Lihat foto ini?" tunjuknya pada sebuah foto kebersamaan Bram, keluarga Divine, dan Rafael juga Noah.


"Kita keliatan kompak dan rame banget, udah kaya keluarga besar. Padahal Papa cuma sama Mamamu," ujar Bram sambil senyum mengingat memory itu.


"Papa dulu mencintai Tante Elen?" tanya Keyra dengan polosnya.


"Ck! Anak kecil udah nanya cinta-cintaan nih anak Papa," gurau Bram.


"Ish, Papa. Aku udah gede kali," protesnya dengan bibir mengerucut. Keyra lantas menyenderkan kepalanya di bahu sang Papa sambil menanti cerita selanjutnya.


"Bisa iya, bisa enggak! Mungkin bisa dibilang, hubungan Papa sama Tante Elen adalah pernikahan yang buruk."


"Papa nyesel?" tanya Keyra lagi.


"Enggak juga, kan setiap kejadian itu udah ada garis takdirnya. Semakin tua, Papa semakin sadar seburuk apapun jalan kita, pasti ada hikmahnya. Seperti Papa jadi punya Bang Satria, dan Papa ketemu sama Mama. Coba kalau Papa sama Tante Elen gak cerai, mungkin anak Papa yang cantik, manis ini gak akan ada."


"Iya juga ya, Pa!" Keyra tersenyum, seharusnya kisah sang Pap cukup menjadi pelajaran dan panutan.


"Key mau nanya, kalau semisal kita udah lama bersahabat terus tiba-tiba canggung karena adanya perasaan lain, gimana cara menghadapinya Pa?"


"Kalau itu Om Rafael ahlinya," ujar Bram.


"Om Rafael? Papanya Devano? Kok bisa?" Keyra semakin penasaran sepertinya kisah Papa and Friends semakin menarik untuk diulik.


"Ya, dia dulu suka sama Tante Elen!"


"Apa kok bisa? Bukannya Om Rafael kerja sama Om Divine ya?"

__ADS_1


"Hm, itulah. Jadi kalau misal Aron sama Devano bersaing buat dapetin anak Papa itu masih wajar!"


"Ish Papa kok ujung-ujungnya itu sih," gerutu Keyra sebab ucapan Bram benar adanya. Devano dan Aron sedang berusaha mendekatinya dengan cara masing-masing. Jika Devano langsung menyatakan cinta, beda dengan Aron yang justru berperan sebagai sahabat baik lebih dulu.


"Jadi mau pilih siapa?" tanya Bram meledek putrinya.


"Devano nggak buruk sih, Pa! Tapi, Aron aku udah tegas bilang nggak bisa," akunya memalingkan wajah.


"Jadi Devano nih?" goda Bram.


"Ish Papa," rengeknya semakin mengerucutkan bibir.


"Udah malem, Pa! Key Mau tidur."


"Yaudah tidur, ayo sayang!" Bram meletakkan laptopnya lalu beriringan bersama Keyra naik ke lantai atas.


Setelah memastikan putrinya tidur, Bram masuk ke dalam kamarnya. Menatap foto sang istri tercinta sesaat di atas nakas.


"Sayang, putri kita sudah mulai tumbuh dewasa!" gumamnya pelan.


"Kalau Arin masih ada gimana ya?" sambungnya lagi.


Bram terdiam beberapa saat, lalu kembali bergumam.


"Jaga Arin bersamamu ya sayang, seperti aku yang akan menjaga Keyra selama sisa hidupku!"


Brukkk!


Kedebug, "aduhhh!" ringis Keyra saat tubuhnya terjatuh dari ranjang.


Niat hati bangun terburu-buru karena telat naas kakinya malah nyangkut dan belibet di selimut. Alhasil ia yang mau ke kamar mandi mode cepat malah terjatuh dan mencium lantai.


"Sia lan!" makinya pada selimut.


Menyudahi drama dengan selimut, gegas ia mempercepat langkah masuk ka kamar mandi untuk membersihkan diri. Pukul tujuh kurang lima menit ia baru selesai memakai seragam.


"Papa udah berangkat ya mbok?" tanya Keyra pada ART-nya.


"Walah, Non Keyra kesiangan? Mbok baru pulang dari pasar tadi, sekalian berangkat kesini."


"Gak papa, Mbok."


Keyra menghampiri Mang Rud di depan dan memintanya mengantar ke sekolah.


"Key, lo telat?" Devano mengernyit saat mendapati gadis pujaannya terlambat.


"Hm," sahut Keyra singkat.

__ADS_1


"Lo masuk kelas aja, bilang kalau udah nyelesaiin hukuman."


"Ck! Ya gak bisa gitu dong, Dev! Mereka juga liat pake mata kalau gue telat, masa langsung ke kelas. Jadi apa hukuman buat gue?" tanya Keyra, rupanya Devano tak segalak pertama kali ia mendapatkan hukuman karena telat.


"Yaudah, lo disini aja! ikut gue ngawasin mereka, lagian Pak Reyhan gak bakalan hukum elo semisal gue gak ngasi hukuman."


"Yaudah, serah!"


"Enak banget weh jadi Keyra, gak kena hukuman karena jadi pacarnya Devano."


"Mau dia pacar Devano apa enggak juga gak bakal dihukum."


"Yups, secara anak pemilik yayasan."


Kasak kusuk murid yang sedang menjalankan hukuman pun terdengar ditelinga Keyra. Namun, hal itu sama sekali tak membuatnya terganggu. Ia sudah terbiasa menghadapi berbagai jenis spesies teman.


"Jangan dengerin omongan mereka!" tegas Devano memegang tangan Keyra, "jangan dimasukin ke hati," sambungnya lagi.


"Enggak kok."


"Semuanya, hukuman selesai! Lain kali kalau telat, sapu aula!" ujarnya tegas.


Diam-diam Keyra memperhatikan raut wajah serius Devano.


"Ganteng," batinnya. Namun, hal itu tak berlangsung lama sebab Keyra langsung merutuk bibirnya.


"Ngapain liat-liat? gue ganteng ya?" narsisnya.


"Iya ganteng!"


"Yang bener?"


"Iya bener, gangguan telinga tapi, wlekkk!" Keyra berlalu meninggalkan Devano.


"Barimut!"


Sepanjang pelajaran fokus Devano terbagi, antara ilmu dari guru dan bidadari cantik di hadapannya. Meski begitu, jika ingin dijodohkan dengan Keyra maka Devano harus mendapat nilai kelulusan terbaik.


Bell panjang menjadi penanda berakhirnya pelajaran bahasa, buru-buru Keyra menghampiri Maya dan mengajaknya ke kantin.


"Hari ini gue tlaktir!" ajaknya dengan bibir tersenyum tipis.


"Wait, dalam rangka apa Key?" tanya Maya tak sanggup menyembunyikan raut sumringahnya.


"Dalam rangka perayaan," ujar Keyra tak mau mengaku.


Sejujurnya hari ini adalah hari genap usianya ke tujuh belas tahun.

__ADS_1


__ADS_2