DEVANORA

DEVANORA
26. Rangkuman masa depan


__ADS_3

Sejak membantu sang momy di toko sekaligus menjabat sebagai pemilik hati anak Bram, Devano sudah tobat. Kebiasaannya berkeliaran tak jelas pun tak lagi ia lakukan, kecuali jika itu bersama Keyra.


"Lusa gue ke Jogja," ujar Keyra saat pulang sekolah.


Devano sontak menoleh ke arahnya dengan tatapan terkejut.


"Ngapain ayang ke Jogja?"


Keyra menghela napas sejenak, " tanggal merah kan sabtu, minggu juga libur jadi Papa berencana ngajak gue ke Jogja. Nengokin Abang Sat," ujarnya lagi.


"Ohh- lama dong kita gak ketemu!"


"Cuma tiga hari juga," protes Keyra.


"Kok cuma, ish liburnya kan dua hari!" ralat Devano.


"Ya gue bolos lah, namanya juga jarak jauh."


"Dev?"


"Ya yang!"


Keduanya tengah berjalan menuju parkiran, Keyra terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri menatap Devano.


"Kurang-kurangin keluyurannya ya kalau gue gak ada. Awas kalau lo sampai ke club minum-minum, gue tarik sampai copot itu telinga," ancamnya bernada cemburu.


"Gue kan dah tobat, yang!" ujar Devano.


"Gue gak akan ngelakuin sesuatu yang lo larang," sambungnya lagi dengan bibir tersenyum.


"Dev, tunggu!" pekik Maya menyusul kedua temannya.


"Oi, ada apa?" tanya Devano barengan Keyra menoleh mendapati Maya ngos-ngosan sambil berusaha mengatur napas.


"Itu..." Maya masih kesulitan bicara.


"Itu apa?" tak sabar juga Devano menghadapi Maya.


"Itu apa sih, Mae! Kenapa juga lo ngos-ngosan. Tarik napas dulu, tahan... Keluarin besok!" titah Keyra.


"Ma ti dong yang!"


"Kalian ini, gue serius! Aldo dan Leon berantem dan itu gegara gue!" aku Maya panik.


Devano dan Keyra saling pandang.

__ADS_1


"Why?"


Maya menggeleng, ia malah meminta Devano dan Keyra menuju lapangan dimana saat ini Aldo dan Leon sedang berduel.


"Ini kok bisa sih, perasaan tadi akur-akur aja," omel Devano. Ia setengah berlari ikutan panik menerobos Leon dan Aldo yang saling adu skil pukul.


"Childish!" maki Devano langsung. Keduanya sontak terdiam dengan tatapan saling menajam.


"Lama-lama gue benturin juga kepala kalian! Katanya temen, katanya susah seneng bareng, katanya kita sahabat?" tanya Devano. Napasnya sudah terengah-engah karena mendadak cosplay jadi emak-emak yang sedang mengomeli dua anaknya yang sedang berantem.


"Aldo duluan yang cari gara-gara!" desis Leon.


"Bener itu?" tanya Devano menatap Aldo.


"Gue cuma mau minta waktu ngomong sama Maya tapi tu anak udah sok-sokan posesif," alibi Aldo.


"Ya karena Maya calon gue," sombong Leon.


"Lo kan udah nolak dia," sambungnya lagi jumawa.


Maya sudah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu. Pipinya merona, ia memang pernah menyukai Aldo bahkan sampai membuat laki-laki itu risih karenanya. Namun, akhir-akhir ini Maya juga merasa Leon tak terlalu buruk dan ia mulai nyaman.


"Jadi lo juga suka Maya?" tebak Devano, Aldo diam saja. Ia tipe orang yang gengsinya segede gunung.


"Gue udah suka duluan sama Maya, kan Aldo bisa cari cewek lain." Leon tak mau mengalah, kali ini ia akan memperjuangkan perasaannya.


"Jawabannya simple, lo tinggal suruh Maya milih. Dan siapapun yang dipilih maupun gak dipilih Maya harus ikhlas. Lagian lo juga, pake segala sok nolak akhirnya nelen ludah sendiri kan," sindir Devano pada Aldo.


"Cie yang direbutin dua cowok," goda Keyra.


Maya hanya memutar bola matanya sambil berdecak, ingin rasanya melempar Aldo ke rawa-rawa karena sikap menyebalkan pria itu. Terang saja, dua hari ini Aldo mengejarnya bak deb collector.


***


Disinilah mereka, di caffe dekat kampus berlima. Devano rasa, ia perlu mendinginkan kedua temannya yang habis kebakaran karena ulah Mae.


Ia paham, Aldo sedang merasakan perasaan sepertinya kala melihat Keyra selalu nempel dengan Aron. Namun, ia juga tak bisa menyalahkan Maya dan Leon karena cinta itu tidak bisa dipaksa, meski Devano sendiri suka maksa.


"Jadi Al, gue minta maaf kalau jawaban gue bakal nyakitin lo! Gue udah terlanjur nyaman sama Leon." Maya menatap Aldo lekat, cowok itu tampak kecewa dengan keputusan Maya.


Senyum secerah matahari tersungging di bibir Leon, ia tahu Maya akan memilihnya.


"Btffff..." Devano meledakkan tawanya.


"Yang! Kok ngakak sih," gerutu Keyra sambil mencubit pinggang Devano.

__ADS_1


"Habis mereka lucu, Aldo juga dari awal kan udah gue bilang! Awas jatuh cinta sama Mae, eh gak taunya!"


"Gue kan cuma ngikutin kata hati," alibi Aldo.


"Tapi kata hati lo telat, Maya udah jadi anu-nya Leon dan lo juga gak boleh seenak jidat lo gangguin Maya."


"Hahah kaya elo enggak aja yang, gue balik bareng Aron aja langsung mencak-mencak kaya lagi pe em es!"


"Itu kan beda," gerutu Devano.


"Sama aja, lagian gue sama Aron sahabatan."


"Gak ada namanya sahabat antara cewek dan cowok kalau nggak ada udang dibalik bakwan!"


"Ada, Aron tulus sahabatan sama gue yang, wleekkk!"


Perdebatan pindah tempat, setelah suasana lebih cair, mereka pun tertawa bersama.


Setelah makan siang, Devano melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aduh, Momy pasti ngomel nih! Yang ayo balik, udah waktunya gue kerja nih!" seru Devano.


"Ayo!"


Kini tiga sahabat Devano dan Keyra itu yang kembali dibuat cengo.


"Kerja, kerja apaan lo? Kerjaannya aja tiap hari nyatpamin anak gadis orang!" cibir Aldo.


Leon hanya terkekeh, "bukan satpam kali, tapi ngawal calon istri sampai sah!" belanya mengingat ia mulai mengikuti jejak Devano, suka ngintilin Maya kemana-mana.


"Oke kita pamit, serah kalian yang penting jangan adu pukul lagi!" Devano melambai, tak lupa tangan satunya menggenggam sang kekasih posesif.


"Gue ikut ke toko Momy-mu boleh?" tanya Keyra.


"Boleh dong! Kenapa? Mau nyemangatin ayang kerja ya," Goda Devano sembari mencomot hidung mancung Keyra. Hilang sudah wibawanya sebagai ketos menyebalkan sekaligus galak karena sejak tangannya sibuk menggandeng Keyra. Laki-laki itu mulai lebih jinak dibanding sebelumnya.


Motor Devano melaju ke toko kue milik Momy-nya. Ia senang Keyra mau ikut, sepertinya Momy dan calon menantu akan menjadi teman sefrekuensi setelah menikah nanti mengingat kebawelan sang kekasih sama persis seperti Momy Key.


"Ish mulut gue kok udah mikir nikah aja," batin Devano.


"Tapi bener kata Momy, gue harus jadi pria yang bertanggung jawab sekaligus bisa menghasilkan uang agar lebih pantas untuk Keyra. Minimal lepas kenaikan kelas nanti gue udah bisa jajanin dia pake duit sendiri," batin Devano mulai memikirkan ide.


Hingga lamunannya buyar ketika Keyra menepuk pelan pundaknya.


"Kok diem dari tadi, awas kesambet julid bangjo," sindir Keyra yang sebenarnya merasa diabaikan di sepanjang jalan. Tak tahukah dia, Devano sedang mencari ide cemerlang demi meraih masa depan bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2