
"Pagi," sapa Devano dengan senyum saat melihat kedatangan Keyra ke sekolah. Sudah lima belas menit ia jamuran di depan gerbang menunggu sang kekasih datang. Kondisi Keyra yang baru pulih membuat Devano urung menjemput ke rumah mesti hati ingin.
Kalau bisa sekalian bawa lamaran sekaligus penghulu.
"Pagi kak ketos!" jawab Keyra lalu terkekeh. Bukan marah, Devano malah mengulurkan tangannya.
Dengan senang Keyra menyambut. Kondisi sekolah yang masih sepi membuat keduanya leluasa bergandeng tangan.
"Hari ini mapelnya agak sulit, kalau lo nggak bisa sebut nama gue tiga kali!" ujar Devano. Ia tahu kekasihnya sering kali kesulitan mengerjakan soal, beruntunglah dia duduk di belakang Keyra. Keberadaan Devano sedikit bisa membantu Keyra mengerjakan soal.
"Ishh, iya! Bantuin tapi jangan pake kertas ya, pake kode aja!"
"Cie pake kode, ehm! Oke deh. Kalau 1 berarti jawabannya A, seterusnya. Ngerti kan?" Devano mengusap kepala Keyra dengan gerakan lembut.
"Iya. Kalau dua berarti jawabannya B kan," sahut Keyra. Bukan belajar, ia malah menghapalkan rumus kode dari Devano.
Tanpa sadar, mereka sampai di depan pintu kelas. Sontak perhatian seisi kelas langsung tertuju pada couple Dirgantara itu, mereka terlihat serasi meski dilihat dari ujung sedotan es teh kantin.
"Ehm, akur nih! Ciee peje dong peje, makan-makan!" Maya bersorak girang menyambut keduanya.
"Makan mulu itu otak, lo aja jadian sama Leon gak kasih kita jajan," omel Aldo.
Sontak Maya membekap mulut lemes Aldo, "ayang belum gajian! Tar deh akhir tahun gue tlaktir," seloroh Maya.
"Akhir tahun? Keburu putus weh!"
"Itu mulut doanya!" Kesal Maya berdecak. Meninggalkan Aldo, ia memilih menarik tangan Keyra dari Devano.
"Kalau sampai kelas, Keyra sama gue! jangan lo gandeng terus, udah kaya mr. Pocecif tau nggak," decak Maya.
Devano hanya memutar bola matanya, "Keyra kan pacar gue! Wajar lah." Memang titisan Rafael ini sebelas dua belas sikap posesifnya. Selain menurunkan kepintaran pada sang putra, Rafael juga menurunkan sisi menyebalkannya pada Devano. Mungkin Devano akan jadi winner the next mr. Pocecif setelah Om Divine dan ayahnya pensiun.
"Makin dewasa, gue makin ngerti kenapa Papa posesif banget sama momy yang notabenenya istri. Ternyata gini rasa, padahal kan Keyra masih calon belum resmi," batin Devano menatap Keyra ketawa tiwi bareng Maya. Dan yang membuat ia kesal adalah ketawanya nggak ngajak-ngajak seolah setelah ketemu Maya, gadis itu lupa akan keberadaannya. Namun, hal seperti itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba Keyra menoleh ke arahnya dengan senyum manis yang tersungging.
__ADS_1
"Astaga, calon binik gue bikin kaget," umpatnya. Aldo menoyor kepala Devano, "bucin lo? Kaya yang udah mau nikah aja," gumam Aldo. Jujur ia sangat iri dengan kedua temannya, tapi dalam hati Aldo juga bahagia melihat Leon dan Devano menemukan tambatan hatinya di usia muda.
"Hampir, hampir dinikahin gara-gara Momy heboh motoin kita pas tidur bareng!" gumam Devano.
"Apa lo? Wih gila lo, Man, seriusly?" tanya Aldo tak percaya.
"Hm."
Bell tanda masuk bunyi, Devano segera memposisikan diri di tempat duduknya, pun dengan Keyra.
"Kalau ada yang susah bilang aja," bisik Devano.
Keyra menggeleng, ia cukup bisa mengerjakan meski tak tahu hasilnya seperti apa. Entah, mendadak ia tak ingin memanfaatkan Devano demi kepentingannya. Meskipun Keyra yakin Devano sama sekali tak keberatan membantu, Keyra rasa akan sangat curang kalau ia hanya mengandalkan copy-an jawaban dari sang kekasih tanpa mau belajar.
"Gak ada, aman yang!"
Devano mengulum senyum mendengar panggilan Keyra kembali seperti semula meski hanya sebuah bisikan.
"Jangan labil lagi, panggil aku sayang! Panggil aku kamu bukan lo gue," bisik Devano lagi. Keyra mengangguk saja, tanpa menoleh.
Pulang sekolah, Devano berniat menunggu Keyra sampai dijemput oleh supirnya, akan tetapi yang terjadi gadis itu malah naik ke boncengan. Dengan sigap Devano melepas jaket miliknya dan meminta Keyra memakainya.
"Jangan kena angin, aku nggak mau kamu sakit!"
"Makasih, besok-besok janji bawa jaket!" Keyra tersenyum. Sungguh melihat Devano mau berkorban untuknya meski hanya sederhana nyatanya mampu membuat kupu-kupu beterbangan di perut, serasa sangat menggelitik dan indah.
"Liat deh, makin eneg gue liatnya! Sok kecakepan banget," gerutu Andin.
"Yups! Tapi gimana lagi? Inget beberapa waktu pas mereka gak ada dan kita bully Maya? Mereka bukan cuma manusia paling berkuasa di Dirgantara tapi juga koneksi orang dalam." Dina menggerutu.
"Ceh, palingan juga penjilat! siapa tau bapaknya donatur disini, yakan?"
Di sela obrolan mereka, tiba-tiba kakak senior lewat dan menyaut.
__ADS_1
"Emang kalian nggak tahu kalau Keyra itu anak kepala yayasan?" cibirnya. Merasa adik tingkat be go gak ketulungan sampai salah mencari musuh.
"Yakin kak?" tanya Dina tak percaya.
"Yakin lah, kalau nggak percaya tunggu aja nanti pelepasan angkatan kita!" kakak-kakak senior itu berlalu semakin meninggalkan kekesalan untuk duo racun gengnya Moza dulu.
Andin dan Dina semakin kesal, akan tetapi sepertinya mereka tak bisa berbuat apapun sekarang.
Sementara di lain tempat, tepatnya di sebuah caffe. Seorang gadis berulang kali mengusap keringatnya karena lelah. Terbiasa hidup dimanja membuatnya tak mengerti arti kesusahan kecuali akhir-akhir ini. Bagaimana tidak? orang tuanya bercerai dan Papanya jatuh sakit. Meski biaya perawatan terjamin akan tetapi ia harus bekerja demi kelangsungan hidupnya sendiri. Sungguh miris meratapi nasibnya menjadi anak broken home.
Masih terlintas bayangan pertengkaran hebat kedua orang tuanya beberapa waktu lalu hingga berujung debat panjang dan berkhir saling tunjuk kesalahan. Moza tak habis fikir, akan hal itu, fase itu.
"Eh itu Moza kan ya?" tanya Devano saat turun dari motornya.
Ia membantu Keyra melepas helm, lalu menggandengnya memasuki area caffe.
"Temenin aku bentar ketemu seseorang!" ajak Devano.
"Siapa?"
"Ada deh!"
Keyra mengangguk, ia malah fokus pada Moza yang memilih menjadi pelayan caffe tempat ia dan Devano mampir.
Beberapa pertanyaan bersarang, apalagi Moza terlihat tak baik-baik saja. Rasa iba Keyra muncul, akan tetapi berganti bayangan Arin dengan wajah pucat membuat Keyra langsung menggelengkan kepalanya.
Devano mengajak masuk, ia duduk di salah satu sudut caffe bersama Keyra.
Tak berselang lama, seseorang datang dan Keyra tak menyangka jikalau yang datang itu adalah Emily, wanita yang bersama Devano dulu di club malam.
Mendadak wajah Keyra menjadi muram, apalagi saat melihat perut wanita itu tak lagi datar.
Hamil kah?
__ADS_1
"Yang, kenalin ini Mbak Emily," ujar Devano mengenalkan Emily pada sang kekasih.
"Udah tahu! Cewek yang kamu *****-***** di bar waktu itu kan," sengak Keyra sebal.