
"Senin semangat!" teriak Keyra terbangun dari tidurnya di pagi buta.
Jika biasanya ia masih tidur di jam empat pagi, tidak dengan hari ini. Hari pertama sebagai siswi kelas dua belas nyatanya membuat gadis itu teramat semangat akan hari barunya di sekolah. Setelah libur beberapa hari sekaligus kerepotan acara pernikahan abangnya, Keyra bernapas lega sekarang.
Gegas ia merapikan tempat tidur dan turun ke bawah. Hari ini, ia akan meminta Bibi Sum membuat bekal nasi goreng untuknya.
"Eh, Non sudah bangun?"
"Udah, Bi! Jadi kan bikinin aku nasi goreng? Aku bantu siapin bahan-bahannya ya," pinta Keyra.
"Siap, Non."
Keyra mulai membuka kulkas, mengambil dua buah sosis, satu telur, cesim, dan nuget yang akan ia gunakan sebagai campuran nasi goreng. Tak lupa sedikit ayam yang akan ia suwir kecil-kecil.
"Sepertinya enak, hm! Udah lengkap, moga Devano suka." Keyra bergumam pelan. Belum jadi saja ia sudah membayangkan yang manis-manis. Padahal sudah jelas kalau nasi goreng sangat jauh dari rasa itu.
"Aku tinggal mandi ya, Bi! Nanti biar aku aja yang nata semuanya!" pamit Keyra lantas melenggang ke kamar.
Dengan kekuatan tenaga dalam, tak butuh waktu lebih dari satu jam Keyra sudah siap. Ia menuruni tangga sambil membawa tas ranselnya.
"Pagi, Pa!" sapanya mencium pipi Bram sekilas.
"Pagi sayang, hari baru! Semangat ya?"
"Iya dong, Pa! Harus." Keyra menyunggingkan senyumnya.
"Hari ini mau dianter Papa apa dijemput Vano?" tanya Bram.
"Sama Vano kayaknya, Pa! Tapi gak tau juga, orangnya belum dateng."
Setelah sarapan, Keyra ke dapur. Menata dua bekal makan untuk ia dan Devano.
__ADS_1
"Bagus sih, walau cuma nasi goreng!" Keyra tersenyum puas, sesederhana itu kebahagiaannya sekarang.
"Pagi sayang cinta kasihku!" sapa Devano setelah menghentikan motornya di halaman rumah Keyra. Tepatnya di depan gadisnya berdiri menunggu.
"Pagi pangeran kodok!" Keyra menyunggingkan senyum lalu tertawa.
"Lah kok pangeran kodok weh, bukan! Ganteng gini lho," protes Devano.
"Naik sayang, kan kuantar kamu kemanapun menuju," gombalnya.
"Pamit dulu sama Papa," pinta Keyra.
"Oke, siapa takut!" Devano turun dari motor lantas ikut masuk bersama Keyra pamit pada Bram.
"Hati-hati, bawa motornya! Belajar yang bener ya kalian," pesan Bram diangguki Keyra dan Devano.
***
Di tengah lapangan dan di bawah teriknya matahari Devano, Aldo, Leon dan beberapa senior berada.
"Cuy, junior kali ini cantik-cantik lho, Maya sama Keyra kalah," bisik Aldo.
Memang diantara ketiganya yang menuruni sifat buaya darat hanyalah Aldo. Sementara Devano dan Leon sebenarnya dari awal golongan cowok Lele.
"Gak ada cantik-cantikan, di mata gue semua sama," seloroh Devano.
"Yuii men, setia kan kita!" Leon menepuk pundak Devano tanda setuju.
"Ceh, setiap tikungan ada!" cibir Aldo yang langsung kena toyoran Devano dan Leon.
"Buat kakak, kayaknya kepanasan banget! Bukan maksud apa-apa, cuma salam perkenalan dari junior." salah satu junior yang paling manis menghampiri Devano seraya menyodorkan air dingin.
__ADS_1
Devano enggan menerimanya, akan tetapi ia juga tak ingin di cap sombong dan galak apalagi sama junior. Sebagai ketua OSIS sekaligus ketua panitia MOS, Devano tak mungkin bersikap judes sama anak baru.
Apalagi baru masuk SMA Dirgantara.
"Thanks! Gak maksud apa-apa kan?" tanya Devano menerima uluran air dingin itu.
Gadis junior itu menggeleng sambil senyum lalu pamit undur diri.
"Gilax, udah manis, baik, kalem dan kayaknya nurut!" Aldo bersorak memuji.
"Embat sana!" kesal Leon.
Devano malah sibuk minum air dingin itu, lumayan buat pereda haus gratisan. Bagaimanapun dia bukan cowok yang naif, pura-pura nolak padahal kalau gratis mah iya iya aja asal tak ada udang di balik bakwan kaya Moza cs dulu.
"Enak hm? Seger ya dapat minum dari cewek cantik!" sindir Keyra tepat di belakang Devano.
Gadis itu niatnya mau mengumpulkan buku tugas ke ruangan Pak Rayyan karena jam kosong. Pak Rayyan meninggalkan tugas dan meminta Keyra mengantar setelah selesai. Namun, yang gadis itu lihat malah justru pemandangan seorang gadis memberi senyum sekaligus air dingin buat kekasihnya.
"Hehehe, ini tadi Aldo yang kasih ay!"
"Ck dah mulai bohong ya, kamu lupa kalau mata aku gak minus buat ngeliat kamu nerima minum dari cewek." Keyra berdecak, lantas membalikkan badan sambil membawa tumpukan buku.
"Ay, dengerin dulu." Devano menyusul ia hendak membantu Keyra akan tetapi sudah lebih dulu disusul Maya.
Istirahat Devano gunakan untuk membujuk Keyra. Namun, yang terjadi malah justru gadis itu hilang entah kemana. Dan yang membuat Devano semakin merasa bersalah saat Maya memberikan bekal makanan untuk Devano titipan dari Keyra.
"Keyra kemana sih, May? Gue udah nyari kemanapun tapi gak ada."Devano menghempas tubuh lelahnya di kursi kantin.
"Tau, dia kan kalau ngambek emang suka ngilang."
Devano menghela napas, lantas membuka kotak bekal itu dan menyantapnya perlahan. Rasa bersalah masih menyelimutinya, akan tetapi akan salah lagi kalau dia tak memakan bekal yang dibawakan oleh Keyra.
__ADS_1