
Sambil menunggu Devano, tanpa sadar Keyra melihat kedatangan Aldo. Setelah memarkirkan motornya di parkiran, si jomblo ini menghampiri Keyra karena tak biasanya ia melihat gadis itu berdiri cengo di depan gerbang.
"Ngapain neng? Nunggu kang cilok yang belum dateng?" seloroh Aldo.
"Ishhh, rese'! Pacar gue bukan kang cilok apalagi kang zomblo kek lo," dengusnya.
"Eh enak aja, jomblo gini Mbak Rindu udah kesemsem, apalagi bidadari kayangan." Aldo tak terima mengacak rambut Keyra.
Sontak dibalas pukulan oleh Keyra dengan tasnya. Bercanda mereka emang se-absurd itu dan ini pertama kalinya.
Di depan gerbang, Devano turun dari mobil Papanya karena ia tak membawa motor.
"Hati-hati, belajar yang bener! Kalau gak kuat sakitnya telpon," ujar Rafael.
Devano mengangguk, kehujanan kemarin membuatnya semalaman dilanda demam sekaligus pilek. Namun, karena hari ini adalah hari terakhir tes kenaikan kelas, ia terpaksa masuk.
Hachuiiik...
Berulang kali bersin sungguh membuat Devano sangat tak nyaman, ditambah ia melihat pemandangan Keyra dan Aldo bercandaan ketawa tiwi di depan gerbang.
"****, lo ngapain? Mau godain pacar gue?" cerca Devano menghampiri keduanya.
Ia menelisik wajah Keyra dimana rambutnya setengah berantakan oleh ulah Aldo.
"Aldo nih yang, ngacak-ngacak rambutku!" adu Keyra. Berubah posisi di belakang Devano dan memegangi tangan kekasihnya itu.
"Fitonah! Orang dia lupa sisiran dari rumah."
Devano memicingkan matanya mendengar ucapan Aldo, "pasti lo godain Keyra kan? Lo kan kaum jomblo bisanya cuma godain pacar orang!" desis Devano setengah bercanda.
"Gue single ya, bukan jomblo!" elak Aldo.
Hanchiuuu...
"Ay, jangan deket-deket aku lagi gak enak badan! Nanti kamu ikutan sakit," ujar Devano.
"Yaudah yuk Key, ama gue! Masuk kelas bareng!" kelakar Aldo.
"No, gak boleh!" tolak Devano.
"Hello, mister posesif! Yaudah sono, kantongin Keyra! jangan sampai semua cowok lain di muka bumi liat wajahnya. Asem bener, mentang-mentang punya pacar!" gerutu Aldo.
Devano sontak menarik tangan Keyra, "ayo, Ay! Jangan dengerin temen sengklek aku!" melewati Aldo begitu saja tanpa perasaan.
Aldo hanya mampu berdecak, ia memilih jalan ke arah kantin mengapel si manis Rindu dari pada harus membuntuti Keyra dan Devano.
***
Ada yang lebih rumit dari rumus matematika?
__ADS_1
Bagi aku jawabannya adalah rumus mencintai kamu, ya kamu!
Devano~
"Gimana? Bisa?" bisik Devano.
"Bisa, gampang kok!" ujar Keyra senyum tipis. Meski sebenarnya dari tadi ia sangat kesusahan menjawab soal matematik. Namun, ia juga tak ingin bergantung pada Devano, selagi bukan ujian kelulusan Keyra rasa tak terlalu buruk. Semoga saat itu tiba, ia sudah berubah menjadi lebih genius.
Hari terakhir terasa cepat berlalu, bahkan kini ia sudah dihadapkan jam pulang setelah beberapa jam terlewat. Istirahat pun Keyra gunakan untuk belajar semaksimal mungkin.
"Hari ini aku gak bawa motor, jadi gimana?" tanya Devano.
"Ya gak gimana-gimana! Kan gak harus tiap berangkat dan pulang bareng," ujar Keyra.
"Lagian kamu lagi sakit gini, harus cepet sampai rumah dan istirahat." Keyra menghadap Devano sebelum akhirnya nanti mereka pulang masing-masing.
"Sampai ketemu di hari piket!" seloroh Devano.
Ia mengusap rambut Keyra sebentar sebelum akhirnya gadis itu masuk mobil dijemput oleh Mang Rud. Sedang Devano naik ke boncengan Aldo, mengabari sang papa kalau ia akan pulang bersama Aldo.
"Leon mana?"
"Biasa! Tuh," tunjuk Aldo ke arah sepasang sejoli yang lagi adem-ademnya, Leon dan Maya.
Pulang bareng seolah sudah jadi rutinitas mereka. Namun, akhir-akhir ini Leon memang jarang gabung dengan Aldo dan Devano.
"Kuy naik!" ajaknya. Teringat pagi tadi Devano bahkan berdebat kecil perkara Keyra dan sekarang mereka sudah kembali lengket kaya permen karet. Aldo sudah terbiasa dengan sikap Devano pun dengan Leon yang memiliki keunikan masing-masing.
"Go!" titah Devano.
Aldo langsung menstater motor ninjanya keluar area parkiran sekolah. Lalu lintas sedang padat-padatnya, akan tetapi hal itu tak membuat Devano tak fokus. Pandangannya tertuju pada Aron dan Moza yang sedang jalan meski tak memakai seragam sekolah.
"Itu bukannya Moza?" tunjuk Aldo. Rupanya bukan hanya Devano yang melihat hal itu, Aldo pun juga.
"Ngapain Moza pake baju serba item, mau ngelayat?"
"Tau, lo mau ikutin?" tanya Devano.
"Idih kurang kerjaan banget!" decih Aldo.
"Itu yang depan temennya Keyra! Bff," ujar Devano membuat Aldo membelalakkan mata.
"Kok bisa?"
"Bisa lah, makanya ayo ikutin!" desak Devano.
Sayangnya mereka harus terjebak lampu merah sebentar, akan tetapi Devano tau sepertinya ke arah mana mereka pergi.
"Makam, ayo ke makam!" ajak Devano.
__ADS_1
"Gila sih, ngapain?"
"Dah ikutin aja! Ke jalan ujung sana, itu deket sebenarnya sama rumah Keyra!"
Sampailah mereka di tujuan. Benar tebakan Devano, Aron dan Moza berada di area pemakaman Arin. Namun, baru kakinya hendak berpijak masuk, Devano mengurungkan niatnya.
"Ayo balik?" ajak Devano tiba-tiba.
"Why, katanya mau mupengin Moza! itu dia, lagi,--"
"Gue dah janji sama Keyra gak akan dateng kesini tanpa dia, yuk balik!"
Aldo menurut, ia melihat raut wajah Devano yang berubah seketika. Mungkin karena teringat Arin atau mungkin karena keberadaan Moza di makam mantan kekasihnya.
Moza menunduk di depan makam Arin. Mungkin terlambat baginya meminta maaf dan menyesali semua.
"Thanks kak, udah anter ketemu Arin!"
"Sama-sama, yuk pulang!" ajak Aron.
***
"Are you oke, Dev? perasaan dari tadi lo diem udah kaya boncengin manekin gue," ejek Aldo.
"Not be okay, lo tahu kan gue masih kesel sama Moza pun juga Keyra!"
"Iya sih, tapi kalau menurut gue yang paling salah tuh Ferdy! Bukan Moza," bela Aldo.
"Kok lo jadi belain Moza?" Devano turun dari motornya. Mereka sampai di depan rumah Devano.
Aldo menghela napas, lalu melepas helm fullface-nya.
"Semua salah, Arin salah, Moza salah dan Ferdy juga salah. Apalagi lo? Selalu salah. Apa perlu gue jabarin kesalahan kalian masing-masing?" tanya Aldo sambil menaik turunkan alisnya.
"Ck!" Devano hanya berdecak.
"Arin salah karena gak bilang apapun sama lo soal Moza, Moza salah karena dia udah bully Arin tanpa alasan, eh ralat. Elo alasannya!"
"Ferdy salah karena terlalu terobsesi sama Arin yang jelas-jelas pacar lo, dan lo? Lo salah karena udah jelas Arin nunjukin perubahannya tapi gak peka. Intinya, yang bener cuma gue!"
Devano sudah serius mendengarkan ceramah Aldo, tapi selalu berakhir oleh kebengekan sifatnya yang slengekan.
"Dasar sinting!" maki Devano.
"Mau mampir gak?" Tawar Devano. Aldo menggeleng.
"Udah sore sih, waktunya minum obat dan janji temu sama dokter jiwa," ujar Aldo terkekeh.
Devano ingin sekali melempar Aldo dengan tasnya kalau tak ingat mereka adalah sahabat.
__ADS_1