
"Deggghhh...." Jantung Tania berdetak kencang.Tanganya gemetar memunguti obat-obat yang berjatuhan di lantai itu.Mata Dion membulat.Menatapnya dengan serius.
"Tania!!! apa yang kamu lakukan? Dengan rasa penasaran Dion mendekatinya.
"Oh...kamu sudah kembali, kamu benar-benar keterlaluan yah Dion.Kamu nggak menganggapku bagian dari keluarga ini...buktinya kamu pergi pun nggak bilang-bilang sama aku." Tania mencoba mengalihkan perhatian Dion.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! jawab pertanyaan aku Tania,apa yang kamu lakukan? kenapa obat-obat papa berserak di lantai." Dion tampak tak bergeming dengan pertanyaan Tania.Dia tetap fokus pada apa yang dilakukan Tania.
"hehhhhhemmmmm...." Tania menarik nafas kasar lalu menutup botol obat itu dan meletakkanya ke tempat semula, lalu menjawab ucapan Dion, "ohhhh,,,ini? ini tumpah ya gara-gara kamu Dion, kamu masuk secara tiba-tiba, aku terkejut dan obat papa tumpah."
"Kenapa obat papa bisa berada di tanganmu?" Dion terus mendesak Tania.
Tania memutar matanya lalu menarik nafasnya kembali, "hemmmhh...Dion! apa yang kamu pikirkan tentang aku.banyak sekali pertanyaanmu!!"
"Jawab saja pertanyaanku.Kalau memang kamu nggak melakukan apa-apa Tania.." Dion mulai menaruh curiga pada Tania.Memang telah lama semenjak papanya kecelakaan Dion tak merasa yakin dengan ibu tirinya itu lagi.
"Oke...oke...aku jelas kan,suster Rika membawa papa berlatih berjalan dan aku membantunya.Saat kami sedang melatih papa jalan aku teringat ponselku dan aku mengambilnya disini." Terang Tania dengan kesal.
"Lalu...apa yang terjadi? kenapa obat papa bisa berserakan di lantai? apa yang kamu lakukan dengan obat-obat papa???" Dion menatapnya.Ia masih belum percaya ucapan Tania.
"Ponselku ada di sini, dan karena kedatanganmu yang tiba-tiba aku terkejut lalu obat papa tersenggol dan jatuh.Puas kamu Dion?? benar-benar kamu, pertanyaanmu begitu menyudutkanku seolah-olah aku ini sangat jahat.Kamu mencurigai aku dan secara tak langsung menuduhku yang bukan-bukan!! ingat Dion dia memang ayahmu tapi dia juga suamiku.Aku punya hak atas dirinya!!" Tania marah dan pergi meninggalkan Dion begitu saja.
Dion menatap kepergianya.Ia melihat Tania memegang ponselnya.
"Apakah aku salah??" gumam Dion sendiri.
Dion mengambil obat di atas nakas samping tempat tidur papanya.Ia membuka tutup botol masing-masing obat dan memperhatikan isinya satu-satu.
__ADS_1
"Tidak ada masalah" lirihnya kemudian.
Iya yang Dion lihat obat tetap sama dengan obat papanya.Karena memesan obat yang benar-benar sama persis dengan obat Rian yang asli.
"Oh,,,aku salah....maafkan aku Tania." Dion menggeleng-gelengkan kepalanya.Ia merasa bersalah pada Tania.
"Papa...dimana papa?" Dion bergumam sendiri mencari keberadaan papanya.Bukannya saat di Jakarta ia ingin cepat-cepat pulang karena papanya.Lalu kenapa malah ia sibuk mengintrogasi Tania sampai melupakan sang papa.
"Oh....bukankah tadi Tania bilang papa ada di samping,,," Dion menutup pintu ruangan itu lalu berjalan menuju halaman sampin villa.Langkahnya terhenti pandangannya tertuju pada pemandangan di depannya.Terlihat disana Tania sedang membatu Rian berjalan.Rian tampak bahagia wajahnya berseri-seri.Sesekali Tania mengusap peluh suaminya dengan sangat sabar dan penuh perhatian.
Wajah Dion berseri menyaksikan pemandangan itu.Apapun yang bisa membuat sang papa bahagia ia pun akan menerimanya.Kebahagian sang papa adalah keutamaan untuknya.
Dalam hatinya ia sangat merasa bersalah pada Tania karena telah curiga yang bukan-bukan padanya.Ternyata Tania tak seburuk yang ada di pikirannya.Jika dulu Tania terlihat acuh mungkin karena dia syok dan belum bisa menerima kondisi papanya.Mungkin sekarang Tania sudah terbiasa dan telah bisa menerima keadaan papanya.Itulah sudut pandang Dion saat ini terhadap Tania.
"Pah...papah...Tania aku pulang" Dion melangkah maju mendekati mereka.Dion mencium takjim tangan sang papa lalu ia mencium kening papanya.
Tania menyunggingkan senyumnya.Ia merasa puas tipu daya yang di lakukannya telah berhasil.
Rian menatap mereka berdua.Terlihat raut wajah yang sangat bahagia. Dengan isyaratnya ia minta duduk di kursi roda. Mereka pun membawanya ke kursi roda.
"Pah...kita masuk aja ya sayang, sudah sangat sore nanti papa kedinginan." ucap Tania penuh kelembutan.
"Iya pah ayok..." Dion mendorong kursi roda sang papa, di ikuti oleh Tania dan suster Rika yang tampak bengong.
Sesampainya di kamar Dion membaringkan Rian di ranjangnya.
"Pah..tadi kan papa udah mama suapin makan bubur,sekarang papa minum obat ya.." kata Tania.
__ADS_1
"Sus....ambilkan obat untuk bapak yang biasa bapak minum!" perintah nya pada suster Rika, ia sengaja menyuruh suster Rika yang mengambil obat itu agar Dion tak curiga.
"Iya buk.." suster Rika berjalan ke arah nakas tempat menyimpan obat Rian.mengambil tiga botol obat yang isinya telah berganti itu.Suster Rika membuka tutup botol dan mengeluarkanya satu persatu dari wadahnya kemudian mengambil air dan menyerahkan obat itu pada Tania.Dion menatap setiap gerakan dan mimik muka suster Rika.Ia melihat suster Rika biasa aja saat membuka obat dan memberikanya pada Tania.Dion berpikir dia telah terlalu jahat karena mencurigai dan menuduh Tania yang bukan-bukan.Ternyata selama ini ia lah yang berpikir terlalu berlebihan.Dion jadi merasa begitu bersalah pada Tania.
Tania meminumkan obat pada rian, " akhirnya berhasil...selamat menikmati lumpuh selamanya pah..." lirihnya dalam hati.Tania tersenyum penuh kepalsuan.
"Pah...papa cepat sembuh ya,mama rindu papa yang dulu yang selalu bikin mama bahagia." Tania menyandarkan kepalanya di lengan Rian.
Dion yang menyaksikan raut bahagia di wajah sang papa ia senyum-senyum sendiri.
"Pah....mama tidur disini ya nemenin papa.." Tania sengaja ingin meyakinkan Dion bahwa dia sangat menyayangi suaminya.Padahal sebenarnya ia sangat malas tidur dengan orang sakit seperti Rian. Di tambah lagi aroma obat yang menyengat membuatnya ingin muntah saja.Tapi semua itu tak di hiraukan olehnya, baginya yang terpenting ia harus mendapatkan kepercayaan dari Dion kembali.
Melihat pemandangan di hadapannya suster Rika seakan tak percaya.Sang nyonya bisa begitu baik hari ini pada tuannya.Padahal biasanya dialah manusia paling kejam di villa ini.Apalagi kalau mengingat suster Rika menarik paksa Rian kemarin dan memakinya,suster Rika seolah tak percaya majikannya berubah begitu cepat.Berkali-kali gadis lugu itu mengucek matanya yg tak gatal itu.Lebih parah nya ia sampai mencubit lengannya sendiri, "awww..." pekik suster Rika saat ia merasakan perih di tangannya akibat ulahnya sendiri.
Tania dan Dion serentak menoleh padanya.
"Kenapa sus??ada apa?" tanya Tania .
Suster Rika jadi salah tingkah.Ia pura-pura memegang perutnya.
"Nggak buk,nggak ada apa-apa...perut saya perih." katanya berbohong.
"owhhh...mungkin kamu lapar,pergilah ke dapur untuk makan." perintah Tania dengan lembut pada perawat suaminya itu.
" Iya pergilah sus....makanlah disana nanti kamu lapar. nggak apa-apa kami disini menjaga papa." ucap Dion menimpali ucapakan Tania.
"Baik buk..mas..saya permisi dulu." ucap sustet Rika seraya menunduk lalu berjalan ke arah dapur meninggalkan mereka bertiga.
__ADS_1
Tania dan Dion duduk di sofa yang di tengahnya ada meja sebagai pembatas.Tania duduk di sisi satunya dan Dion disisi lainnya.Di meja itu dari tadi Tania meletakkan ponselnya.Setelah sekian lama berbincang akrab dengan Dion, tiba-tiba ponsel Tania berdering.Nama Bobi terpampang disana.Jantung Tania berdebar kencang...