DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
LUNA CINTA DION


__ADS_3

Pandangan mereka beradu untuk beberapa saat.


Dion menaikkan kedua alisnya matanya menatap serius pada layar monitor ponsel Tania.Tania tampak gugup.Ia mengambil ponselnya lalu menekan tombol menolak panggilan Bobi.Lalu dengan cepat pula ia memblokir nomor Bobi.


"Siall...l!!!! dia menghunbungi di saat yang tidak tepat!!" umpat Tania dalam hati.


Dion terus menyaksikan apa yang di lakukan Tania.Terselip rasa penasaran dalam benaknya.Apa yang sedang di mainkan Tania, kenapa dia mulai bersikap baik. Tapi kenapa pula Bobi menelponnya, itulah isi pikiran Dion saat ini.


Seolah tau akan apa yang di pikirkan anak tirinya, Tania mulai memainkan sandiwaranya.


"Menyebalkan sekali!!! dia selalu menggangguku!" Tania pura-pura mengumpat.Kemudian ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Ada apa Tania" tanya Dion yang masih di liputi rasa penasaran.


"Belakangan ini Bobi selalu menghubungiku Dion...dia memohon meminta bantuanku untuk membebaskan dia, aku tidak menggubrisnya, tapi bajingan itu terus saja menggangguku." aku muak sekali setiap saat dia menelponku seperti tadi. lebih baik aku blokir sekalian saja nomornya." Tania mengatakan sebuah kebohongan demi menutupi niat jahatnya, agar Dion tidak curiga lagi padanya.


Karena tadi Tania mengatakan akan menemani Rian tidur, maka Dion pun pamit pergi ke kamarnya.mencium pipi sang papa sebelum pergi, "good ninght pa...good night Tania..." seru Dion sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu ruangan itu.


"Good night..." sahut Tania pelan.


Suster Rika kembali ke kamar.Saat Rian tertidur ia menarik suster Rika ke kamar mandi dan mengatakan, "kamu jaga dia!! aku akan ke kamarku.ingat jangan sampai Dion tahu aku tidak tidur disini.!" Tania berbisik pada suster Rika tangannya mencengkeram lengan suster itu.


"Tapi ibu bilang akan tidur disini." dengan polosnya suster Rika bertanya.


"Diam kamu idiot!!! kamu nggak perlu banyak tanya ikuti saja perintahku.ingat kalau kamu macam-macam aku akan memenjarakanmu karena tidak bisa membayar hutang padaku!!!" ancam Tania pada gadis itu.


Suster Rika tampak gelagapan mendengar ancaman Tania kakinya terasa lemas, "baik bu semua yang ibu perintah akan saya lakukan." jawabnya dengan penuh rasa ketakutan.


Tania pergi meninggalkan kamar itu menuju kamarnya.Ia lalu keluar le balkon depan kamarnya.Lalu membuka blokir nomor Bobi dan mengirim pesan padanya.


"Mas...maaf tadi aku memblokir nomormu." Isi pesan Tania yang di kirim ke Bobi.


"Kenapa kamu lakukan itu Tania, apa kamu tak ingin aku menghubungimu lagi?" balasan pesan yang di tulis Bobi.


"Bukan begitu mas,tadi situasinya tidak tepat untuk aku terima telponmu. Ada Dion di dekatku, juga ada Rian kami sedang berkumpul." tulis Tania.


"Oh sorry kalau begitu sayang.." jawab Bobi.


"Mas,kamu hampir saja merusak rencanaku tadi, aku sudah melakukan semua yang kamu sarankan. Semua berjalan sesuai rencana kita. Aku juga telah mengembalikan kepercayaan Dion padaku. Tapi semua usahaku hampir aja rusak dan sia-sia karena ulahmu. Mulai sekarang kamu jangan gegabah lagi mas. Kebodohanmu bisa aja menggagalkan rencana kita.Mulai sekarang janga menghubungiku kalau aku tidak menghubungi kamu duluan mas.Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi Evelin." tulis Tania panjang.

__ADS_1


"Baiklah sayang aku mengerti sekarang." balas Bobi. Lalu Taniapun mengakhiri mengirim pesan padanya.


Di kamarnya Dion pun sibuk berkirim pesan dengan temannya gadis manis yang bernama Luna. Luna memang sudah lama naksir Dion. Sejak awal mereka baru masuk universitas kedokteran itu Luna sudah terpesona dengan Dion yang berwajah tampan itu.


"Elo yang kuat yah Dion...hadapin masalah elo sekarang dengan semangat. Gue bantu doa dari sini." pesan Luna masuk ke ponselnya.


"Iya Lun maksih ya, elo memang teman yang baik." balas Dion.


"Segitu aja yon...elo cuma anggap gue teman...? gk lebih gitu? hehehe..." Luna membalas pesan Dion dengan sedikit menggoda.


Tak puas dengan berbalas pesan saja akhirnya Luna melakukan panggilan vidio dengan Dion.


"Hai..." Tampak di layar kaca wajah manis Luna terlihat berseri-seri.Tangannya melambai-lambai dengan senyum sumringahnya.


"Apa sin Lun...elo nggak puas sms an sama gue??" goda Dion sambil tersenyum.


"Mana bisa gue puas kalau nggak lihat wajah elo yang ganteng itu hehehe..." Luna menggombalin Dion sambil nyengar-nyengir sendiri.


Sejak dulu Luna memang selalu berani menggoda Dion dengan celotehnya yang sebenarnya bisa di lihat dari situ kalau si Luna ini naksir sama Dion tapi dasar Dion aja yang dari dulu nggak pernah peka.


"elo udah makan yon...." tanya Luna ngasal karena ia bingung mau ngomong apa.


"Udah lun.." jawab Dion singkat membuat Luna jadi nggak enak.


Wajah Luna murung, sebenarnya ia pun bukan ingin makan tapi Luna sudah kehabisan kata-kata untuk Dion yang tak mau mengerti perasaannya.


"Sampai kapan sih yon...gue harus nunggu elo nyatain cinta sama gue..." gumamnya seorang diri.


"Sampai saat ini, gue nggak tau makna sayang gue sama elo. Cintakah? lalu kenapa dari dulu gue yang cinta elo sendirian elo nggak pernah peka sedikit pun sama gue..." Luna menatap bayangan dirinya sendiri dalam cermin dan berbicara dengan dirinya sendiri, namun seolah-olah ia sedang bicara dengan Dion.


"Ah bodo amat dengan perasaan ini..!! gue mau tidur." ucap Luna lalu ia naik ke tempat tidurnya dan menutupi seluruh tubuh hingga wajahnya dengan selimut.Tapi di dalam selimut matanya tak bisa terpejam semakin ia mencoba untuk menutup matanya bayangan Dion semakin hadir dalam pikirannya. matanya terbuka lebar dari balik selimut itu.Hingga akhirnya ia buka kembali selimut yang menutupi wajahnya.


"Aduhhhhh...kok gue makin nggak bisa tidur sih..berdoa dulu kali ya biar bisa tidur.okelah gue mau berdoa. Ya Tuhan...., jika Dion adalah jodohku, maka dekatkanlah kami. Tapi kalau Dion bukan jodohku, maka...jodohkanlah kami. Jangan jodohin Dion sama cewek lain selain sama aku! kalau ternyata Dion jodohnya orang lain, makan putuskan saja dan tetap jodohkan denganku. Amin-Amin..." kemudian Luna mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ini berdoa atau pemaksaan ya...gue kan mau doa tidur kok doa perjodohan sih hehehe..." Luna kembali cengengesan sendiri.Tingkahnya memang sangat konyol tapi gemesin.


Setelah ia bolak balik badannya karena gelisah mikirin Dion akhirnya Luna yang manis dan lucu pun tertidur juga.


Pagi di Jakarta hari ini sangat cerah bahkan cenderung panas.Luna keluar kamar dengan pakaian yang telah rapi.Di meja makan sudah menunggu ayah, bunda, dan kakak lelakinya untuk sarapan bersama.

__ADS_1


"Good morning semua..." seru Luna.


"Good morning..."jawab mereka bersamaan.


"Elo masuk pagi Lun?" tanya Reza sang kakak.


"Iya kak Luna ada kelas pagi ini." jawab Luna sambil memasukkan sepotong roti selai ke mulutnya.


"Kakak antar elo ya lun sekalian ada yang mau kakak bahas nih." kata Reza pada Luna.


"Boleh kak Luna juga lagi malas nih bawa mobil...ayok kak." Luna bangkit lalu mencium tangan bunda dan ayahnya.


Di dalam mobil Luna mulai memasang handset di telinganya untuk mendengarkan musik, karena Reza sang kakak tak suka memutar musik dalam mobil.


"Lun...kakak ada rencana nih, hari minggu nantikan bunda ulang tahun, gimana kalau kita buat acara di puncak aja.surprise gitu..." Reza mengutarakan niatnya pada Luna tapi tak ada jawaban dari sang adik. Luna tak mendengar apa yang di bicarakan Reza ia malah asyik geleng-geleng kepala menikmati musik yang di dengarnya.Reza sadar lalu menoleh pada Luna, ia menoyor kepala adiknya lalu melepas handset yang nempel di telinga Luna.


"Apaan sih Lun kakak bicara serius dari tadi elo malah asyik geleng-geleng" Reza terlihat marah tapi ia sayang pada sang adik di usapnya kepala Luna. Luna cengengesan lalu berkata, " he..he..he..maaf ya kak, Luna gak dengar."


"Gimana mau denger kalau kuping elo, elo sumbat beginian...." ucap Reza greget sama Luna.


"Iya..iya kak sorry..." Luna menjewer kedua kupingnya sendiri.


Reza tertawa melihat tingkah sang adik kemudian ia menjawab, "kakak udah lupa mau ngomong apa..."


"ihhhh...kakak, Luna kan udah minta maaf ayo ingat-ingat lagi." Luna tahu sang kakak hanya mencandainya bilang lupa.


Reza tak tahan mendengar celoteh adiknya akhirnya di ulang lagi kata-kata yang tadi perihal rencana ke puncak merayakan ulang tahun sang bunda.Hingga Luna teriak dan melonjak kegiraan.


"waowwww" serunya saat mendengar kata puncak. Tentu saja ia langsung teringat pujaan hatinya, siapa lagi kalau bukan Dion sang pangeran hatinya.


Luna langsung setuju usul kakaknya.


" Ya udah gas langsung kak cuz..kita kesana." katanya penuh semangat.


"Gile ye semangat banget elo" seru Reza ia tersenyum melihat tingkah adiknya itu.


"Semangat dong kak....kan udah lama kita nggak refresing, yahh walaupun cuman ke puncak....tapi kan ini buat ngrayain ulang tahun bunda..ya pasti senenglah kak." Luna tersenyum-senyum membayangkan akan ketemu pujaan hatinya nanti.


"Eh...tapi elo jangan bilang bunda ya kalau kita kesana untuk ngerayain ulang tahunnya, nanti malah nggak jadi kejutan." kata Reza.

__ADS_1


"Aduhhhh pake acara di beri tau lagi, emangnya kakak pikir Luna ini oon....kakak gak percaya adek kakak ini pintar, he...he..he...nanti kita bilang aja sama ayah dan bunda ini acara weekend kita aja." Luna berceloteh ria dan sesekali mencandai sang kakak. Hingga tak terasa mobil Reza sudah berhenti di depan gerbang kampusnya.Setelah pamit dengan kakaknya Luna pun langsung masuk ke dalam kampus.


"Bye kak Reza...hati-hati ya!!" seru Luna.


__ADS_2