
Di tengah-tengah kegundahanya, Dion tiba-tiba teringat Luna. Luna selama ini sangat baik padanya. Pasti Luna mau membantunya.
Dion menghubungi Luna, dan langsung tersambung.
πΈπΈπΈπΈ
"Hallo Lun, apa kabar?"
"Hai Dion, tumben elo telepon gue, kabar gue baik, gimana dengan elo dan papa lo?"
"Gue baik-baik aja, papa di rumah sakit, Lun...., gue butuh bantuan elo."
"Bantuan? emangnya apa yang bisa gue bantu buat elo?"
Gue butuh duit sekarang, gue pinjam duit elo, nanti setelah sampai di villa gue kembaliin duit elo, sekarang gue di rumah sakit."
Sebenarnya Luna sedikit bingung mendengar apa yang Dion katakan. Tapi sudah lag mungkin Dion lagi ada masalah, tapi kalau soal uang tidak mungkin Dion tak punya uang. Tapi lagi-lagi Luna menepis pikirannya, baginya saat ini yang terpenting adalah membantu orang yang di cintainya.
"Berapa gue transfer sekarang?" kata Luna dari sebrang sana.
"Gue butuh dua ratus juta."
"Oke, gue transfer sekarang."
"Oke, thank you Luna."
"Oke bye....,"
Luna menutup teleponnya.
πΉπΉπΉπΉ
Luna masih memegang gawainya. Ia membuka aplikasi m banking di ponselnya. Lalu melakukan transaksi. Mengirim uang pada Dion sejumlah dua ratus juta, ke nomor rekening Dion yang sudah Dion kirim lewat pesan sebelumnya.
Transaksi berhasil. Luna langsung mengirim pesan pada Dion.
"coba elo cek, udah masuk belum"
Dion langsun membuka aplikasi perbankan juga di ponselnya dan melihat sejumlah uang yang sudah di transfer oleh Luna.
__ADS_1
Dion tersenyum lega. Lalu ia segera membalas pesan Luna.
"Udah masuk, makasih ya Lun"
Suster Rika melihat Dion tersenyum, ia lalu menghampiri Dion.
"Gimana mas?" tanya suster Rika.
"Aman sayang, Luna sudah mengirimkan uangnya, sebentar ya sayang, kamu jagain papa dulu, aku akan mengurus administrasinya."
" Iya mas." suster Rika mengangguk, lalu mendekat pada Rian yang sedang tertidur.
Beberapa menit kemudian, Dion kembali. Rian sudah bangun dan suster Rika sedang menyiapkan pakaiannya.
" Pah, kita pulang ya, kata dokter papa udah boleh pulang, terus nanti terapi di rumah."
Rian tersenyum dan mengangguk pelan. Ada rasa senang di hati Rian tapi ada rasa gundah juga yang menjalarinya, Kegundahannya adalah, Kenapa ia tak pernah melihat Tania lagi.
Suster Rika sebenarnya ingin mengadukan semuanya pada Dion, tentang Tania, tapi ia masih takut dengan ancaman Tania. Jadi dia pikir biarlah semua menjadi rahasianya saja.Dia juga takut di pecat dan kehilangan pekerjaan sehingga tak bisa membiayai pengobatan ibunya.
Suster Rika sadar, ia hanyalah gadis miskin yang menjadi tulang punggung keluarga. Saat ia sedang melamun Dion datang menepuk bahunya.
"Nggak pa-pa mas, cuma ingat kampung." jawabnya berbohong.
Setelah selesai berkemas, Dion memesan taxi online dari sebuah aplikasi driver di ponselnya. pesanan sudah di dapatkan. Mereka pun keluar ruangan menuju ke pintu masuk rumah sakit. Suster Rika mendorong Rian di atas kursi roda. Dan Dion mengikuti di belakang.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, mobil pun datang. Setelah mencocokkan dengan aplikasinya, ternyata benar itu adalah mobil yang di pesannya. Dion membuka pintu belakang dan membantu suster Rika memasukkan Rian ke dalam mobil. Dan Dion sendiri ia duduk di depan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, ke arah alamat yang di tuju. Pindah Mereka akan menempuh perjalanan sekitar dua jam lebih.
Semakin lama, udara dingin mulai menusuk tulang. Itu pertanda tujuan mereka sudah dekat. Udara puncak saat itu memang masih asri dan sangat dingin. Karena hal ini jugalah dulu yang membuat Rian pindah dari Jakarta dan menetap di puncak.
"Kemana ini mas, kanan atau kiri?". tanya si sopir saat mereka sampai di pertigaan jalan.
"Kiri pak, soalnya kalau ke kanan ada pembangunan drainase di depan sana."
"Oh iya mas, soalnya saya juga mengikuti google map harusnya ke kanan, tapi karena ada palang jadi saya tanya ke masnya."
"Iya pak, harus nya memang ke kanan, tapi nggak apa-apa ke kiri, ada jalan alternatif, nanti saya arahkan."
__ADS_1
"Baik mas, saya ikutin arahan masnya saja."
"Iya pak, sebentar lagi kita sampai kok."
Mobil pun berjalan pelan mengikuti arahan Dion. Dan tak lama akhirnya mereka sampai juga.
Dion membayarkan sejumlah uang pada sopir itu.
"Ini pak, kembaliannya buat bapak aja."
"Oh iya, terimakasih mas." jawab si sopir sambil tersenyum ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya.
Pak sopir bergegas mengeluarkan barang-barang mereka dari bagasi, lalu membantu membuka pintu belakang, Dion mengangkat papanya ke atas kursi roda yang sudah di siapkan oleh suster Rika.
Setelah selesai, sopir pun permisi untuk pergi dan mobil berwarna putih itupun berlalu meninggalkan halaman villa.
Suasana villa tidak seperti biasanya, biasanya setiap kali Dion atau Rian baru kembali ke villa, mereka akan di sambut oleh para pegawainya untuk membantu mengangkat barang dan sebagainya.
Tapi tidak dengan hari ini, suasana villa tampak hening, padahal para pekerja sangat ramai, tapi tidak ada yang berani keluar untuk membantu atau sekedar menyambut Dion. Sepertinya mereka ada di bawah tekanan seseorang.
"Nah pah, kita sudah sampai di villa kesayangan papah ini, sekarang kita masuk dan papah bisa istirahat di dalam." Dion berjongkok di samping kursi roda sang papa dan tersenyum memberi semangat pada papanya.
Rian tersenyum menatap anak semata wayangnya itu. Dari raut wajahnya terpancar kebahagian yang luar biasa.
"Kemana mereka semua? kenapa tidak ada yang keluar membantu kita." Dion menggerutu, dia merasa kesal dengan para pekerjanya
"Mungkin mereka sibuk mas," kata suster Erika.
"Sesibuk apa mereka sampai tidak bisa membantu kita. Ah sudahlah ayo kita masuk." Dion mengangkat barang-barang mereka, dan suster Rika mendorong kursi roda Rian. Situasi itu membuat mereka tampak seperti bukan pemilik villa aja.
Sesampainya di depan pintu utama villa itu yang mengarah ke lobby dan satu lagi bangunan khusus untuk keluarganya. Dion memilih pintu menuju lobby dari pada ke ruang utama, Dion ingin bertemu dengan Frans, dan mau memarahinya. Sebelum sampai ke pintu utama Dion berpapasan dengan seorang pegawai office boy dia memanggil office boy itu.
" Hei, kemari kamu! bantu kami membawa barang ini."
Office boy itu tidak menjawab malah berlari masuk ke dalam villa, seperti sedang ketakutan.
"Sial!!! ada apa dengan mereka! pekerja macam apa yang di kerjakan si Frans ini, tidak punya etika dan sopan santun." Umpatan demi umpatan pun keluar dari bibir pemuda tampan itu.
Ketika Dion memasuki lobby, tampak Frans disana berdiri menatapnya denga melipat tangan di dada.
__ADS_1
Bersambung.....