DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
MEMBONGKAR BRANKAS


__ADS_3

***FLASHBACK ON**


Dokter dan para perawat keluar dari ruang icu. Dion di perbolehkan masuk. Sebelumnya Dion mengganti pakaian khusus untuk masuk ke ruang icu, pakaian berwarna biru muda itu melekat di tubuhnya, kakinya melangkah mendekati ranjang sang papa. Jantungnya seakan berhenti berdetak, ada rasa nyeri disana, di dada Dion.


"Pah....bangun pah, Dion sayang sama papa...." ucapnya lirih, dua tetes bening jatuh dari netranya.


"Maafkan Dion pah, seharusnya Dion selalu bersama papa, dan saat papa sakit Dion bisa segera tahu." Dion merasa menyesali apa yang telah terjadi pada papanya.


"Cepat sadar pah....Dion akan melakukan apapun yang papa mau setelah papa sembuh." di elusnya kepala sang papa, lalu ia keluar dari ruangan itu. Langkahnya gontai seakan-akan seluruh sendinya terasa remuk semua.


Di luar ruangan tampak suster Rika berdiri tak jauh dari pintu, tadi nya ia ingin masuk bersama Dion untuk melihat kondisi Rian, tapi ia tak berani bicara apapun pada Dion. Setelah di lihatnya Dion keluar, ia pun segera menghampirinya.


"Mas, gimana kondisi bapak?"


Dion tak menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tertunduk lesu.


"Maafkan saya mas, seharusnya saya lebih berhati-hati menjaga bapak...." lirih suster Rika.


"Semua ini bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Kamu sudah cukup baik sudah mau merawat papaku." ucap Dion lalu tanpa sadar tiba-tiba ia memeluk suster Rika dan menangis sesenggukan dalam pelukan sang suster.


Suster Rika yang mendapat pelukan dari Dion secara mendadak langsung gelagapan. Tapi justru ia semakin merasa bersalah pada Dion karena menutupi apa yang di perbuat oleh Tania.


Tania....dimana Tania? oh iya Tania sedang pergi untuk memafaatkan kesempatan emasnya. Di tengah-tengah kekalutannya Dion pun melupakan ibu tirinya. Dan kesempatan ini tidak di lewatkan oleh Tania begitu saja.


Tania segera bergegas kembali ke villa dengan menaiki taksi setelah ia melihat Rian di bawa masuk ke ruang icu. Ia sengaja tidak meminta pak Samsul untuk mengantarkannya pulang. Karena ia ingin mengelabuhi mereka semua.


Di tengah-tengah perjalanannya kembali ke villa, Tania menelpon Evelin.


"Hallo Eve.."


"Iya ada apa Tan?"


"Elo dimana?"


"Gue di butik Tan...tumben elo telpon gue ada apa sih?"


"Gue butuh bantuan elo!!"


"Ha... ha... ha..., elo emang selalu membutuhkan bantuan gue, kapan elo nggak minta bantuan gue??" Evelin tertawa mengejek.


"Gue serius Eve..."

__ADS_1


Ya udah katakan elo butuh bantuan apa? gue siap bantu elo..apa sih yang nggak bisa buat elo..."


"Gue serius Eve, elo jangan bercanda aja, gue butuh cepat, elo cari tukang kunci yang special bisa membuka kunci brankas, elo bawa ke villa secepatnya...gue butuh sekarang!!!"


"wow, gue salut sama elo Tan..ternyata elo bergerak lebih cepat, ini benar-benar di luar ekspetasi gue."


"Gue nggak butuh bualan elo!! Gue tunggu elo di villa sekarang juga!"


"Oke, gue secepatnya kesana."


Panggilan di akhiri oleh Tania. Ia pun memasukkan gawainya ke dalam tas kembali.


Beberapa menit berlalu, Tania sudah berada di dalam kamar Rian. Ia tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat gawai di tangannya.


** Tin...tin...tin... **


Suara klakson mobil di luar membuyarkan lamunannya. Tampak di halaman villa Evelin turun dari mobilnya di ikuti di belakangnya seorang pria dengan membawa kota box yang berisi peralatan perkakas untuk membongkar brankas di kamar Rian.


Tania menghampiri mereka, dan langsung membawa mereka berdua memasuki kamar Rian.


"Ini pak brankas nya, tolong di buka....saya lupa kodenya karena beberapa hari yang lalu saya baru saja menggantinya." bohong Tania pada bapak tukang kunci itu.


"Tapi nanti akan rusak bu, kalau saya bongkar paksa...." jawab tukang kunci menjelaskan pada Tania.


"Oke! baiklah kalau begitu bu, saya akan kerjakan sekarang."


Tiga puluh menit berlalu, pekerjaan tukang kunci itu selesai. Brankas terbuka. Tania tak langsung membukanya ia memberikan upah pada tukang kunci itu lalu menyuruhnya pergi. Dengan menaiki ojek online, tukang kunci itu pun meninggalkan villa.


Setelah kepergian tukang kunci itu. Tania dan Evelin mendekati brankas.


**Kriet...**


Suara pintu brankas itu di putar Tania.


Dan terpampanglah disana surat-surat penting kepemilikan villa, berkas-berkas penting lainya dan beberapa surat kepemilikan mobil- mobil mewah koleksi Rian, ada juga beberapa gepok uang tunai rupiah dan dollars, juga disana bertumpuk emas batangan.


"Wowwww!!!!? amazing...!!" Tania berteriak dan matanya membelalak menatap pemandangan yang begitu luar biasa ada di depan matanya.


Evelin masih membuka matanya lebar sesekali ia tampak mengucek matanya, mulutnya ternganga, ia benar-benar merasa takjub melihat apa yang ada di hadapannya, ia seakan tak percaya.


"Wowww...Tania, akhirnya mimpimu menjadi nyata." ucap Evelin dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


Mereka saling menatap. Wajah mereka berbinar-binar menggambarkan kepuasan yang luar biasa.


" Ha...ha...ha..." terdengar mereka tertawa puas.


"Eve cepat ambil plastik itu!" Tania memerintahkan Evelin mengambil plastik hitam besar di atas meja. Lalu Tania memindahkan barang-barang dari dalam brankas itu ke plastik.


"Kenapa elo menyimpanya disini?" tanya Evelin heran ia mengernyitkan dahinya, seraya tangannya menunjuk ke arah plastik di tangan Tania.


"Darurat Eve, ini sementara saja...aku akan membawa baran-barang ini ke kamar ku." Tania menjawab sambil tangannya terus memasukkan semua barang itu ke dalam plastik hitam besar dan tebal itu, atau tepatnya itu adalah plastik yang biasa di gunakan untuk box sampah, tapi plastik ini masih bersih belum terpakai. mungkin suster Rika berencana akan memakainya kemarin, tapi tidak sempat.


"Ohhhh..." Evelin mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Ayo Eve, bantu aku!! jangan berdiri saja disitu."


"Oh, baiklah..." Evelin dengan cekatan membantu Tania memindahkan barang-barang itu ke dalam plastik sampai habis tak tersisa.


Tania menarik nafas lega, "hhhhmmmm..." lalu mengusap kedua telapak tanganya dan berkata, "huhhh...akhirnya selesai juga."


Tania tersenyum pada Evelin. Lalu ia merapikan brankas itu kembali dan menutupnya dengan kain. Setelah itu ia mengajak Evelin ke kamarnya. Evelin membantunya membawa plastik berat itu ke dalam kamar Tania.


"Letakkan disini..." ucap Tania tangannya menjatuhkan plastik itu ke atas meja di ikuti oleh tangan Evelin. Ia mengambil dua gepok uang dollars lalu menyerahkannya pada Evelin.


"Ini untuk mu, terimakasih atas bantuanmu. sekarang pulanglah aku akan membereskan urusan ini aku akan menjadikan villa ini milikku dan mengusir mereka dari sini!" ucap Tania serius.


Evelin menerima gepokan uang itu dan berkata, "ini saja??? kerja kerasku hanya mendapatkan ini?" Evelin mengibas-ngibaskan uang itu di udara.


"Eve....jangan memperkeruh keadaan, pekerjaan kita belum selesai. pulanglah dan ambil uang itu untuk hari ini!! setelah semua urusan selesai dan aku sudah mendapatkan hak atas seluruh harta Rian, aku akan memberikan bagianmu!" Tania merayu sahabatnya.


Evelin memicingkan sebelah matanya, lalu memasukkan uang itu ke dalam tasnya.


"Pulanglah, setelah aku menendang mereka villa ini akan menjadi milik kita..." kata Tania menyakinkan Evelin. Tania memasukkan plastik besar itu ke dalam lemari bajunya. Saat ia sedang sibuk memasukkan barang-barang itu, dan Evelin pamit akan pulang dengan raut muka masam dan penuh kekesalan.


"Baiklah Tan, aku pegang omonganmu! aku pulang sekarang." ucap Evelin. Namun tiba-tiba pintu kamar Tania di ketuk dari luar..


*Tok...tok...tok...*


Tania dan Evelin saling pandang.


Deghh...


Dada mereka berdetak kencang...

__ADS_1


handel pintu di putar dari luar dan...


bersambung...


__ADS_2