DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
Di usir dari villa


__ADS_3

Frans menatapnya dengan sinis dan sombong. secuil senyum mengurai di sudut bibirnya yang sedikit naik keatas. Senyum khas menusia angkuh.


"Selamat datang dua manusia tak berguna" ucap Frans, dengan angkuh di hadapan Dion dan papanya.


Dion sudah berada di puncak kemarahanya. Dia menghampiri Frans dan berniat menamparnya karena, sudah bersikap kurang ajar.


Tangan kanan Dion melayang di udara, sesaat sebelum tangan itu mengenai pipi Frans seseorang menahannya dari belakang.


"Jangan coba-coba bersikap kurang ajar pada calon suamiku!" Tania mendorong tubuh Dion dan menarik Frans mundur ke belakang.


"Apa-apaan ini Tania? apa yang terjadi?


"Pelayannnn....,". Tania tidak menjawab pertanyaan Dion, tapi kemudian dia malah memanggil pelayannya atau pekerja-pekerja villa yang baru di rekrut olehnya.


"Iya nyonya," jawab beberapa orang pegawai baru itu.


"Apa sudah kalian kerjakan apa yang aku perintahkan?"


"Sudah nyonya, semua sudah selesai."


"Bagus. Bawa kemari!!" ucap Tania dengan tegas. Setelah itu, para pelayan membawa tiga koper besar ke hadapannya. Lalu ia berteriak memanggil nama seseorang, "Excel!!!"


Seorang pria berbadan tegap, tinggi dan besar berjalan ke arahnya, pria itu terlihat sangar, ia menggunakan jaket kulit dan kaca mata hitam.


"Panggil kawan-kawanmu!" perintah Tania pada lelaki bernama Excel itu.


"Adofo...., Adwin....,!!!" lelaki sangar bernama Excel itu memanggil kedua temannya yang terlihat lebih sangar darinya.


Adofo dan Adwin adalah pria berkulit hitam berkebangsaan afrika. Mereka bertiga telah Tania rekrut sebagai bodyguard nya atau pengawal pribadinya.


"Ada apa nyonya?" tanya Adofo, pria kulit hitam itu menatap tajam pada Dion dan papanya. Lalu pandangannya menelisik suster Rika. Sang suster pun bergidik ngeri melihatnya, ia menyembunyikan badan nya di balik punggung Dion.


"Lemparkan barang-barang ini keluar! dan usir mereka dari sini!" perintah Tania dengan lantang.

__ADS_1


Dengan cepat, ketiga bodyguard itu melempar koper-koper yang di berikan pelayan tadi ke luar pintu utama villa.


"Itu semua barang kalian, aku masih berbaik hati menyuruh pelayanku mengemas pakaian kalian. Sekarang angkat koper-koper itu dan pergi dari sini!" Tania berdiri lebih dekat dengan Dion, dengan raut muka penuh dengan kesombongan dan seolah mengejek Dion.


Dion yang awalnya tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi, akhirnya sekarang dia mulai paham. Bahwa yang terjadi adalah Tania ingin menguasai semua harta papanya.


"Tapi bagaimana ini bisa terjadi?". lirih Dion.


Dengan mengumpulkan sedikit keberanian Dion mencoba melawan Tania, walau sebenarnya ia merasa takut kalau sampai tiga algojo itu melakukan sesuatu yang bisa membahayakan papanya.


"Apa yang kamu lakukan Tania? ,bagaimana bisa kamu mengusir kami dari sini, kami adalah pemilik villa ini."


"Oh begitu ya? tapi itu dulu Dion...., hah hah,,,," Tania tertawa mengejek Dion. Lalu melanjutkan ucapannya, "Dulu memang iya, villa ini milik kalian, tapi tidak dengan sekarang. Sekarang villa ini dan seluruh aset-aset berharga dan juga seluruh perkebunan yang pernah di miliki ayahmu, sekarang sudah menjadi milikku."


"Tidak, kalian tidak bisa mengusir kami." Dion mendorong masuk kursi roda papanya dan di ikuti oleh suster Erika di belakangnya.


"Dion!! berhenti." Tania menghadang Dion.


"Excel lakukan sesuatu." Tania memerintah bodyguard nya untuk menahan Dion.


"Kalian jangan menyakiti papa ku." Dion memohon pada ke tiga algojo itu.


"Frans sayang, ambilkan duplikat berkas-berkas kepemilikan dan pemindah tanganan milik si tua bangka itu."


"Sebentar sayang." sahut Frans, kemudian ia masuk ke ruang kerjanya dan mengambil foto kopian berkas-berkas yang di minta Tania. Karena berkas aslinya sudah di amankan oleh Tania.


Frans keluar sambil membawa berkas itu dan menyerahkanya pada Tania.


Dion yang masih bersikeras masuk tetap di Tahan oleh Tania dan ketiga pengawalnya.


"Minggir Tania!!! dan perintahkan orang-orangmu untuk menjauhiku dan papaku. Atau aku akan menelpon polisi." acaman saat itu, sedikitpun tidak membuat Tania merasa takut.


"ha ha ha..." Tania tertawa mendengar ancaman Dion, "Dion ini kamu baca baik-baik sebelum kamu melapor polisi."

__ADS_1


Dion mengambil beberapa lembar kertas putih itu dari tangan Tania, lalu membacanya, dan benar saja mata Dion membulat sempurna setelah membaca berkas-berkas itu.


Dion ingin tak mempercayai apa yang sudah terjadi. Tetapi semua nyata di hadapannya. Ia tak menyangka mereka semua telah menghianatinya selama ini.


"Sekarang pergilah dari sini, sebelum para pengawalku bertindak kasar pada kalian."


"Baik, kami akan pergi dan ingat Tania aku akan kembali untuk bikin perhitungan denganmu." Dion berhenti bicara, lalu menghampiri sang papa dan suster Rika.


"Sus, tolong jaga papa, aku akan mengambil kunci mobilku dan kita akan pergi dari sini." ucap Dion pada suster Rika.


Setelah itu Dion tetap melangkah ke dalam villa dan akan menuju kamarnya, hingga tiba-tiba langkahnya di cegat oleh Adwin.


"Silahkan anda keluar dengan sopan tuan, maka kami akan memperlakukan anda dengan baik juga." seru Adwin padanya.


"Tidak! aku akan mengambil kunci mobilku."


"Tidak Dion, tidak ada yang bisa kamu bawa dari sini, sudah aku tegaskan, bahwa semuanya sudah menjadi milikku."


Tania sangat marah, ia menghampiri suster Rika dan, *plaaaaak-plaaaaak* dua kali ,


tamparan melesat di pipi suster Erika. Ia memegang kedua pipinya dan meringis menahan sakit. Belum lagi suster Rika sempat berbicara, Tania sudah mendorongnya dan menyorong kursi roda Rian sampai keluar pintu ruangan dan Rian jatuh terjerembab di depan pintu.


Dion yang menyaksikan papanya dan kekasihnya di perlakukan kasar oleh Tania, ia merasa tak terima. Emosinya memuncak. Wajahnya berubah merah kehitaman, Matanya menatap nyalang pada Tania, ia berteriak menyebut nama Tania dengan suara berat dan keras, "Taniaaaaa!!!!"


Saat Dion akan bergerak menyerang Tania, Tiga bodyguard itu menghadangnya dan, *bruuuuuakkk duammm....,* Adofo meninju bagian perut Dion. Lalu Adwin pun ikut menyerangnya dari belakang, * duammm* satu tendangan mengenai punggung Dion, dan membuat ia jatuh tersungkur.


Tak mau menjadi bulan-bulana tiga orang itu, Dion bangkit dan melawan, *bam bum bam bum* cukup lama mereka terlibat baku hantam dan akhirnya Dion lah yang berdaya, "Binatang kalian!!! beraninya main keroyokan!" kata upatan pun keluar dari mulut Dion.


Setelah membantu Rian untuk naik ke kursi rodanya dan membawanya menjauh dari tempat perkelahian mereka suster Rika pun berlari ke lokasi awal dan berniat membantu Dion.


"Bapak disini dulu ya." kata suster Rika pada Rian. Rian hanya diam, tatapan matanya kosong. Raut wajahnya menampakkan begitu besar rasa penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menyaksikan semua itu dengan mata kepalanya sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa.


Tetapi apa yang sudah terjadi hari ini justru membuat Rian semangat untuk segera sembuh dari penyakitnya. Ia bertekat , "aku harus kuat, suatu hari nanti aku akan berdiri tegak di sini di tempat ini dan mengambil hak ku kembali dari wanita iblis itu!!" kata hati Rian saat ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2