
Kembali ke flashback Frans dan Tania...
Frans sudah sampai di meja tempat dimana Tania duduk. Mereka berjabat tangan lalu kembali duduk di tempatnya masing-masing.
"Sudah lama menungguku?" tanya Frans dengan seulas senyum.
"Tidak terlalu lama." jawab Tania pandangannya tak berkedip menatap Frans.
"Hei, jangan menatapku seperti itu Tania, apa kamu menyukaiku, aku jauh lebih tampan dari Bobi bukan?"
"jaga mulutmu kita disini untuk urusan bisnis." gertak Tania.
"Ha....ha....ha...., bisnis kamu bilang. Ini bukan bisnis Tania, tapi kerja sama jahat !! bukankah begitu?" tawa Frans pecah saat itu.
"Diamlah Frans! aku tidak suka mendengar ejekanmu, dan ingat batasanmu, kamu itu karyawanku. Berani-beraninya kamu menyebut namaku."
"Oooowwghh....kalau begitu maafkan aku nyonya ha....ha....ha...." Frans masih menggoda Tania.
Tania terlihat kesal. Tapi ia juga terpesona dengan ketampanan Frans.
"Aku menawarkan kerja sama denganmu."
"Yah....aku tahu, apa yang harus aku lakukan?"
"Aku memegang kartumu, jadi kamu harus mengikuti perintahku! setelah ini akulah yang akan menjadi satu-satunya pemilik villa dan semua perkebunan milik Rian. Untuk melancarkan semuanya aku ingin kamu berada di pihakku. Kalau tidak aku akan membongkar semua kebusukanmu pada Dion agar dia memecatmua."
"Tidak perlu kamu mengancamku Tania, sorry aku tidak bisa memanggilmu nyonya lagi, karena sudah lama aku mengagumimu" Frans meraih tangan Tania dalam genggamanya.
Tania menatap Frans. Darahnya berdesir kuat, jantungnya kembali berdetak hebat, hatinya bergejolak rindu pada kekasihnya yaitu Bobi, kala ia menatap mata Frans yang teduh dan syahdu.
Tania masih diam, tapi dia senang dengan perlakuan Frans padanya.
"Tania, bisakah kita menghabiskan malam ini bersama? aku tahu kamu pasti kesepian, suamimu lumpuh dan Bobi di penjara, aku tahu kamu pasti menginginkannya juga." Frans merayu Tania. Dan dia termasuk laki-laki yang gentleman berani mengakui perasaannya dan tidak banyak basa-basi.
Tania yang sudah terkesima dengan Frans pun akhirnya tak bisa bicara dengan angkuh lagi pada Frans, Perasaan mengalahkan segala keangkuhannya. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan.
Mereka mulai terlibat obrolan yang santai. Tak ada lagi hal-hal serius yang mereka bicarakan. Bahkan mereka terlihat mulai akrab satu sama lain. Sesekali tawa mereka sama-sama pecah.
Frans memesan minuman alkohol bermerk Chivas Regal, minuman impor berwarna keemasan itu menemani obrolan mereka. Sesekali terlihat mereka bersulang dan meneguk minuman dalam gelas kristal yang mewah yang di sediakan oleh kafe tempat dimana mereka duduk saat ini.
Tania tampak sudah mabuk berat. Ia mulai gelisah dan sudah merosot dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Kamu sudah mabuk sayang, bisakah kita pulang ke rumahku sekarang?" Frans bertanya nakal pada Tania, dan di balas anggukan oleh Tania.
Tania memang tidak membawa mobil untuk datang ke kafe itu, karena kafe itu pun tidak jauh dari villanya. Frans memanggil waiters di kafe itu lalu meminta bil untuk membayar pesana mereka.
Seorang waiters datang dengan kedua tangannya memegan nampan kecil yang di atasnya terdapat selembar kertas nota pembayaran yang harus di bayar oleh Frans.
Frans mengeluarkan dompet kulit dari saku celananya, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang pada waiters itu.
Setelahnya Frans membantu Tania bangkit dari tempat duduknya, Tania tampak sempoyongan. Hingga Frans harus memapahnya ke dalam mobil.
Mobil melaju menuju rumah Frans yang juga tidak jauh dari kafe itu dan villa Rian.
Mobil berhenti di halaman rumah mewah di kawasan perumahan elit di daerah puncak. Taman yang luas mengelilingi bangunan rumah. Tentu saja Frans mempunyai rumah mewah itu. Hasil dari korupsinya di villa milik Rian tidak main-main.
Frans membuka pintu mobilnya. Ia lalu menggendong tubuh Tania masuk ke dalam rumahnya. Direbahkanya tubuh Tania di atas ranjang di dalam kamarnya. Tania hanya pasrah saja.
Frans langsung menindih tubuh wanita itu, dan meluma* bibir Tania penuh nafs*. Sementara tangan pria itu giat bekerja melepaskan seluruh pakaian yang di kenakan Tania. Blous yang di kenakan Tania sebentar saja sudah terbuka semua.
"Frans...ah...." desah Tania. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Frans.
"Aku mencintaimu Tania...." bisik Frans di telinga Tania.
Sampai akhirnya, keduanya mencapai satu tujuan yang sama. Mereka berbaring bersisian. Hingga pagi tiba mereka tertidur pulas di kamar Frans.
Tania membuka kedua matanya dan mendapati dirinya tanpa busana dan seorang lelaki di sampingnya. Ia membangunkan lelaki itu.
"Frans....bangunlah, aku akan kembali ke villa dan menyelesaikan urusanku segera." Tania mengguncang lengan Frans.
Frans menggeliatkan tubuhnya dengan malas, lalu ia duduk dengan perlahan.
"Setidaknya berikanlah kata sambutan untukku di pagi ini sayang." ucapnya kemudian ia berdiri memakai celana boxernya dan mencium kening Tania.
Tania yang telah lama kesepian pun terhanyut dalam perlakuan manis dari Frans. Ia bergelayut manja di lengan Frans saat frans berdiri. Frans mengambilkan handuk untuk Tania.
"Mandilah sayang, nanti aku akan memesankan taxi online untuk mengantarkanmu kembali ke villa."
"hemmmm" jawab Tania dengan manja.
"Tidak mungkinkan kita berangkat ke villa bersama-sama." Frans tersenyum menggoda Tania.
Tania berjalan masuk ke kamar mandi di dalam kamar itu.
__ADS_1
"Cepat la bersiap sayang, karena aku juga harus bekerja di villa suamimu itu."
Sejak malam itu hubungan mereka terus berlanjut hingga hari ini.
*****
Flashback on
Tania duduk di kursi dalam ruangan kantor pengacaranya.
"Gimana pak Anwar, apakah berkas-berkas itu bisa di proses?"
"Apalagi yang perlu di proses nyonya? seluruh aset ini sudah menjadi milikmu. Anda bebas mengusir mereka kapan saja. Seluruh kepemilikan aset tuan Rian sudah resmi berpindah tangan ke anda, dan disin sudah ada tanda tangan tuan plus jap jempol yang menguatkan. Mereka tidak akan bisa mengalahkan anda sekalipun mereka membayar sepuluh pengacara."
"Terimakasih pak Anwar, saya tidak akan melupakan jasa bapak, saya akan menepati janji saya untuk memberikan empat hektar kebun teh yang saya miliki."
Tania dan pak Anwar berjabat tangan.
Lalu Tania menelepon seseorang.
πΈπΈπΈπΈ
"Hallo sayang...."
"Iya sayangku, ada apa?"
"Apa kamu bisa menjemputku."
"Aku di kantor pak Anwar, aku telah menyelesaikan misi kita sayang."
"Oh ya....baiklah tunggu disitu aku akan segera menjemputmu."
"Oke sayang, aku menunggumu. I love you."
πΈπΈπΈ
Orang yang di telepon Tania adalah Frans. Frans segera mengeluarkan mobil dan melajukan mobilnya untuk mrnjemput Tania.
Tania menunggu Frans dengan hati yang berbunga-bunga. Ia ingin merayakan keberhasilannya bersama kekasih barunya itu. Saat ini suasana hati Tania sangat bagus, ia sedang di mabuk cintanya Frans.
Bersambung
__ADS_1