DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
PERAN EVELIN DI MULAI


__ADS_3

"Apa kabarmu Dion? kamu masih ingat namaku kan?" sapa Evelin berbasa-basi.


"Evelin..." ucap Dion.


Setelah Danu selesai memeluk sahabatnya, Dion pun maju lalu bersalaman dengan Danu dan istrinya.


"Om....tante...." sapanya.


Danu yang barusan mendengar Dion dan Evelin berbicara jadi merasa penasaran.


"Kalian saling kenal?" ucap Danu.


"Iya pah kami berkenalan saat Dion mengantar Tania ke butik."


"Ohhhh..." Danu menganguk-anggukkan kepalanya.


"Dion....kamu bisa nggak membawaku berjalan-jalan keliling villa ini. Aku baru pertama kali ini kesini, ingin sekali melihat pemandangan disini...."


"Tapi..." Dion menoleh pada papanya, Danu dan juga istrinya serta pada Tania secara bergantian.


"Nggak apa-apa Dion, kalian anak muda, bawalah Evelin jalan-jalan....biar kami para orang tua disini bercerita." Danu seakan akan juga menginginkan Dion mengikuti ajakan Evelin.


Dion merapatkan jaketnya, Udara taman di villa itu malam ini sangat dingin. Tapi ia terpaksa harus menemani Evelin. Dion membawa Evelin duduk di bangku taman.


"Gimana kuliah kamu Dion?" Evelin mulai membuka pembicaraan karena dari tadi mereka hanya diam saja.


"Aku cuti sampai papa sembuh." jawab Dion.


"Oh....bagus kalau begitu, kamu bisa merawat papamu sampai pulih kembali, semoga om Rian cepat sembuh." Evelin berkata lirih lalu ia meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Dion. Kemudian ia berkata lagi, "kamu harus semangat....dan sabar dalam merawat papamu."


"Terimakasih Eve..."


Mereka menghabiskan waktu beberapa jam di taman itu dengan banyak cerita. Dion dan Evelin saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka berdua. Lama-lama Dion merasa semakin akrab dengan Evelin. Evelin terus bercerita tentang ini dan itu. Ia memang pandai mencairkan suasana. Malam semakin dingin, Evelin tampak kedinginan. Dion membuka jaketnya dan menutupkan ke punggung Evelin.

__ADS_1


"Makasih Dion...." Evelin berkata sambil tangannya tetap menahan tangan Dion agar tetap berada di pundaknya.


Dion tersenyum. Dalam hatinya ia bergumam, "ternyata Evelin bisa menjadi teman ngobrol yang asyik juga. Dan ternyata sifatnya juga cukup baik dan sopan."


Selama tinggal di villa Dion memang kurang bergaul, bahkan cenderung tidak bergaul karena tidak punya teman disini. Mereka masuk ke dalam. Karena sudah cukup lama keluarga Evelin pun pamit pulang.


Jam tujuh pagi Luna dan keluarganya sudah siap-siap berangkat ke puncak.


"Kak, udah siap semuanya...." seru Luna pada kakaknya.


"Oke ayo kita berangkat." Reza membawa mobilnya mereka pergi tanpa sopir. Dalam perjalanan Luna terbayang terus wajah Dion. Dalam hati, Luna berteriak girang karena bentar lagi akan bertemu pujaan hatinya.


"woowww....gue nggak salah lihat kan?" Luna berseru takjub begitu mobil memasuki halaman villa.


"Salah lihat apaan?" Reza heran lihat tingkah Luna.


"Bukan apa-apa kak, ini tempatnya nyaman banget...." Luna menutupi kegirangannya karena akan bertemu Dion.


"Udah ayo masuk."


Luna masih punya waktu untuk bertemu Dion, karena hari untuk memberi kejutan sang bunda di mulai besok. Luna berkeliling villa mencari keberadaan Dio. Ia sengaja tak mau meneponnya. Luna ingin membuat kejutan untuk Dion. Lama berjalan menyusuri lorong-lorong villa itu tapi Luna tak menemukan keberadaan Dion. Hingga akhirnya ia mendengar suara yang sangat di kenalnya sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita.


"Sus....kamu cantik sekali hari ini...." Dion terkesima dengan paras ayu suster Rika, hari ini suster Rika terlihat lain dari biasanya. Kalau biasanya ia hanya menguncir rambutnya dengan model cepol aja hari ini ia menggerai rambut indahnya itu karena rambutnya terlihat masih sedikit basah.


"Mas Dion bisa aja...." wajah suster Rika terlihat merah padam menahan malu. Nggak biasanya ia dapat pujian begitu selama di villa. Apalagi yang memujinya adalah Dion anak majikan yang selama ini dia perhatikan diam-diam.


Selama ini suster Erika memang diam-diam sering memperhatikan Dion. Gadis mana yang tak tertarik dengan Dion yang tampan dan punya daya tarik sendiri bagi gadis-gadis di dekatnya. Tapi dia selalu berusaha menjaga sikapnya karena ia sadar dirinya siapa. Hanya seorang perawat untuk papanya. Menjadi pacar anak orang kaya seperti Dion hanya menjadi hayalannya saja.


"Hhhhmmmm" Luna menarik nafasnya panjang lalu membuangnya kasar. Ia agak sedikit kesal mendengar Dion memuji gadis lain selain dirinya. Sedangkan ia sendiri seumur-umur belum pernah di puji oleh Dion.


Luna berjalan mendekati mereka.


"hem...hemmm..." Luna bedehem nggak jauh dari mereka, hingga kemudian Dion menyadari kedatangannya.

__ADS_1


"Lunaaaa..." seru Dion yang kemudian menghampiri Luna dan reflek memeluknya.


Luna terkejut. Ia hanya bisa menganga dalam pelukan Dion. Dion melepas pelukannya.


"Kok elo ada disini? sama siapa aja?" tanya Dion sangat antusias ia mengira Luna datang dengan temannya yang lain.


"Gue datang dengan keluarga gue...." sahut Luna.


"Owhhhh....tunggu gue akan suruh pegawai buat siapain kamar khusus untuk elo dan keluarga elo." Dion akan melangkah pergi tapi Luna menahannya, " Nggak usah Dion, kami udah kesini dari tadi pagi kamar kami sudah ada." Luna menjelaskan pada Dion.


"Loh, elo kenapa nggak telpon gue sih? kenapa nggak bilang-bilang elo nggak nganggep gue temen elo?"


"Bukan gitu maksudnya, ini kakak gue yang punya rencana kesini mendadak dan gue juga nggak tahu kalau kami bakalan nginap di villa elo ini." Luna sedikit berbohong untuk menutupin kalau sebenarnya dia yang merekomen villa ini pada sang kakak. Luna memang selalu begitu bila di dekat Dion dia tak berani berkata jujur, ia selalu menutup-nutupi perasaannya.


Melihat Dion dan Luna begitu akrab, suster Rika diam-diam pergi meninggalkan mereka, menyisakan rasa penasaran dalam hatinya. Suster Rika bertanya-tanya dalam hati apakah gadis itu pacar Dion. Tapi suster Rika tak berani untuk bertanya. Ia takut di bilang tak sopan, karena ia sadar statusnya di sini tak lebih sama seperti seorang pelayan. Suster Rika masuk ke dalam kamar Rian. Ini sudah jamnya Rian untuk minum obat.


"Yon....dimana papa mu?" tanya Luna.


"Ada di kamarnya." Sahut Dion singkat.


"Gimana kondisi papamu sekarang? sudah ada perubahan?"


Dion diam sejenak, "hhhhmmm..." menarik nafas lalu berkata, "Entah lah Lun, kondisi papa semakin lemah aja belakangan ini."


"Sabar yah yon....gue selalu berdoa buat kesembuhan papa lo."


"Thanks Lun, elo emang temen gue yang paling baik."


"Temen?" Luna tampak tak suka dengar pernyataan dari Dion yang hanya selalu menganggapnya seorang teman tak lebih dari itu.


"Gue boleh nggak nengokin bokap elo?"


"Boleh...yuk kita kekamar papa."

__ADS_1


"Bilang sama papah kamu calon mantu datang." bisik Luna di telinga Dion...


__ADS_2