
Pintu kamar Rian terbuka. Iringan langkah kaki Dion dan Luna beriringan menuju kamar itu. Terlihat hamparan permadani lembut berwarna biru muda menutupi lantai marmer pada kamar itu. Dion membawa Luna masuk. Luna berdiri mematung persis di samping Dion berdiri. Lalu Dion mengenalkan Luna pada sang papa.
"Pah....kenalkan ini teman kuliah Dion, namanya Luna, Luna dan keluarganya sedang menginap di villa kita."
Luna meraih tangan kurus milik Rian lalu mencium punggung tangan itu dengan takjim.
"Luna...." ucap Luna memperkenalkan dirinya. Tak banyak yang bisa luna katakan. Melihat kondisi Rian membuatnya merasa kasihan pada Dion. Dan justru malah makin menumbuhkan rasa cintanya dan kekagumannya pada pemuda itu.
"Om Luna doakan semoga om cepat sembuh ya....om harus semangat demi Dion."
Rian tersenyum lemah menatap Luna.
Sementara suster Rika menatap mereka berdua bergantian. Dalam hatinya mengatakan seandainya mereka pasangan kekasih mereka sangat serasi. Jika Luna begitu mengagumi Dion begitupun suster Rika. Tapi suster Rika, ia sadar dirinya siapa. Sampai saat ini perasaannya masih sebatas mengagumi sang tuan tidak berani lebih. Dion tak memperkenalkan dirinya dengan gadis yang ia dengar bernama Luna, ia pun sebenarnya merasa sedikit kecil hati. Tapi lagi-lagi ia menyadari dirinya siapa posisinya dimana. Garis keras hanya seorang pelayan!
Luna kembali ke ruang keluarganya. Satu ruangan yang memiliki tiga kamar tidur dan ruang keluarga atau ruang tamu yang menyatu dengan dapur. Semua keluarga menunggunya mereka berkumpul di ruang tamu. Saat ia masuk semua mata tertuju padanya.
"Luna....kamu dari mana?" tanya sang bunda dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
"Pergi kok nggak bilang-bilang." sahut Reza sedikit kesal karena tingkah adiknya. Ayahnya hanya diam saja menunggu penjelasan darinya.
"Iya....iya....Luna minta maaf deh, bunda, ayah, kak Reza...."
"Emangnya elo dari mana?" Reza bertanya dengan menyipitkan sebelah matanya.
"Jalan-jalan sikitar sini aja sih kak. Terus nggak sengaja Luna ketemu teman kuliah Luna."
"Emangnya temen elo itu weekend di sini juga?"
"Enggak kakak....temen Luna itu anak dari pemilik villa ini."
"Whatt??? temen elo anak dari pemilik villa ini? terus tadi elo bilang nggak sengaja ketemu temen elo, sedangkan yang merekomen villa ini tuh elo...wah nggak bener nih tukang boong lo."
Luna tersenyum-senyum sendiri di depan keluarganya karena ketahuan belangnya.
"Ayah mau main golf, kalian mau ikut enggak?"
"Nggak deh yah Luna malas panas-panasan."
"Ini puncak Luna nggak ada yang namanya kepanasan kayak di Jakarta."
__ADS_1
"Iya sih kak....tapi kan setidaknya tetap ada panas-panasnyalah dikit,,,,namanya juga olah raga."
"Alah alasan!! kalau nggak mau panas berendam elo sono di kolam ikan."
"Ihhhh....kakak, emangnya Luna mermaid." Luna kesal di ledekin kakaknya terus, di ambilnya bantal sofa lalu di lemparnya ke sang kakak. Reza dengan sigap menangkap bantal itu.
"Ahhh palingan elo mau jumpain anak pemilik villa ini elo naksir yaaa..." Reza masih terus menggodanya.
"Eh ngomong-ngomong dia cewek apa cowok?" lanjut Reza bertanya."
"Benconggg!" sahut Luna, ia sudah mulai dongkol dengan Reza.
"Serius nih....kalau cewek biar kakak yang deketin..."
"Bodo amat!!!" teriak Luna lalu dia pergi meninggalkan kakaknya.
Luna dan Reza adalah dua kakak beradik yang saling menyayangi. Walaupun sudah sama-sama dewasa tapi kadang-kadang tingkah mereka masih seperti anak-anak.
"Hai Dion, apa kabarmu hari ini?" suara Evelin dari sebrang sana.
"Baik....kamu sendiri gimana?" Dion bertanya balik sambil tersenyum memandang layar ponselnya yang terpampang wajah Evelin disana.
"Kenapa?"
"Karena belum melihat wajahmu langsung..he he..he.."
"Ah gombal kamu Eve..."
"Bagaimana om Rian hari ini?" Evelin pura-pura perhatian untuk menarik simpati Dion.
"Masih seperti biasa." jawad Dion pelan tak bersemangat.
"Boleh aku kesana menengok om Rian dan...melihat kamu."
"Tentu."
Setelah mengakhiri panggilan telponnya dengan Dion, Evelin tersenyum puas lalu segera ia mengirim pesan pada Tania.
###
__ADS_1
*Tan....entar sore gue main ke villa*
*oke..apa Dion udah tau*
*Udah dong beb, tadi gue barusan telepon dia*
*oh ya, apa katanya*
*it's oke...dia tunggu gue*
*ngomong-ngomong dia ganteng juga, gue takut jatuh cinta beneran..😊😊*
*Profesional dalam bekerja, bukankah begitu?*
* ha ha ha iya...iya*
*oke sampai jumpa nanti sore bye*
*bye...*
###
Sore nya Evelin telah tiba di villa. Pakaiannya sopan namun terlihat begitu cantik dan elegant. Ia memakai dress warna coklat muda dan memakai sepatu pantofel. Tubuhnya sudah tinggi tentu saja ia tak mau mamakai high hell apalagi ia pun menyesuaikan kemana ia pergi. Ia ingin membawa Dion berjalan-jalan di sekitaran villa itu.
"Hai Dion..." Evelin melambaikan tangannya.
"Eve..." Dion pun melambaikan tangannya.
Evelin berjalan mendekati Dion. Begitu sampai di hadapan Dion ia langsung mencium pipi Dion kanan kiri secara bergantian. Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka. Satu dia adalah Tania, ia memang sengaja menunggu kedatangan Evelin dari atas balkon dia memperhatikan mereka. Dan yang ke dua adalah Luna, gadis manis itu tadinya mencari Dion untuk mengantarkanya membeli kue untuk sang bunda dan sekalian dia ingin mengundang Dion di ulang tahun sang bunda. Tapi sebelum ia sampai ke Dion, Evelin sudah duluan sampai.
Dion yang tadinya melamun sontak terkejut. Dia membolakan matanya karena bersitatap dengan iris obsidian milik Evelin dengan jarak yang begitu dekat. Belum sempat Dion menjauhkan wajahnya, Evelin sudah lebih dulu menarikkan tengkuknya dan mempertemukan kedua bibir mereka.
Cup..muaachhh...
Dion terbelalak dengan gerakan Evelin yang tiba-tiba. Ia sempat terkesiap beberapa detik. Namun Dion mulai melunak saat Evelin mulai menggerakkan bibirnya dengan lembut. Dion terhanyut, Ia membalas setiap lumata* yang di berikan Evelin. Sesekali ia melenguh kecil dari bibirnya yang msih asyik di hisa* oleh Evelin.
"I love you Dion...." kata yang keluar dari mulut Evelin saat ia melepaskan ciumannya dari bibir Dion.
Luna menyaksikan semuanya. Dia langsung menyimpulkan bahwa Evelin adalah pacar Dion. Adegan berakhir dengan Luna yang berlalu pergi meninggalkan mereka sambil membawa rasa kecewa dan sakit hatinya. Karena lelah dengan episode menyedihkan dalam hidupnya Luna masuk ke dalam kamarnya, Ia menangis menumpahkan segala kesedihannya di atas bantal.
__ADS_1
" Masa sih gue cemburu" monolognya seorang diri.