
Dion tersungkur di lantai, sudut bibirnya berdarah, ia tak berdaya di hajar tiga algojo itu. Ia bangkit dan akan melawan lagi tapi Adofo bergerak cepat dan mengunci kedua lengannya.
Adofo membawa Dion ke hadapan Tania.
"Jangan pernah bermain-main dengan aku Dion! karena jelas saja, kamu yang akan kalah!" seru Tania sambil menyeringai tajam.
"Lepaskan aku!!" berontak Dion pada pengawal Tania itu.
"Lepaskan dia!!" perintah Tania pada bawahannya.
Adofo mendorong kuat pada Tubuh Dion, hingga sekali lagi Dion tersungkur di lantai.
Suster Rika berlari ke arah Dion. Ia membantu Dion berdiri. Dan memapahnya keluar.
"Ayo mas, kita pergi dari sini."
Mereka berjalan keluar, Rian menatap putranya dengan sedih. "Sabar ya pah, Dion pesan taxi online dulu." ucap Dion pada sang papa. Rian hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Kita kemana mas?" tanya suster Rika.
"Aku juga tidak tau, aku hanya punya apartement di Jakarta." jawab Dion.
"Tapi ke Jakarta lumayan jauh mas, kasihan bapak."
"Nggak apa-apa, papa pasti kuat."
Dion mulai mendorong kursi roda papanya, di ikuti oleh suster Rika.
"Pah, papah kuatkan pah, kita ke Jakarta ya pah. Papa harus sembuh papa harus kuat." ucap Dion menyemangati papanya.
" Ik, iyah....," jawab Rian pelan dan terbata-bata.
"Pah, papah....! papa sudah bisa bicara? itu papa kan pah? ohhh, terimakasih Tuhan." Dion kegirangan mendengar papanya sudah bisa mengucapkan kata-kata walaupun sedikit.
"Mas, bapak....," suster Rika pun tak kalah senangnya mendengar Rian sudah bisa bicara.
"Aku akan memesan taxi untuk membawa kita ke stasiun. Kita akan naik kereta api ke Jakarta."
"Apa bapak kuat mas, kita ajak naik kereta api?" suster Rika terlihat ragu.
"Mau tidak mau, tidak ada cara lain, aku yakin papa pasti kuat, iya kan pa?" Dion menatap Rian meyakinkan.
__ADS_1
Tangan Rian bergerak-gerak, lalu melihat ke arah Dion. Dan dengan lemah ia bicara, "Di, Dion, hubungi om....., Danu." dengan terbata-bata Rian mencoba bicara meminta Dion menghubungi sahabatnya yang bernama Danu yang tak lain adalah ayah dari Evelin.
Rian tidak tau keterlibatan Evelin dengan Tania. Yang Rian ingat hanya Danu adalah sahabatnya.
Sedangkan Dion, ia merasa ragu menghubungi Danu karena ia tahu Danu adalah ayah dari Evelin. Dan Dion curiga Evelin terlibat dengan Tania, karena Evelin dan Tania adalah teman.
"Tapi pah, om Danu adalah ayah Evelin dan Evelin berteman dengan Tania." ucap Dion.
Rian hanya menggelengkan kepalanya, dan memberi isyarar agar Dion tetap menghubungi Danu.
"Baiklah pah, akan Dion telepon, papa sabar ya."
Dion mengambil ponselnya dan menghubungi Danu, sesuai kemauan papanya.
πΉπΉπΉπΉ
"Hallo om Danu,"
"Iya Dion, ada yang bisa om bantu?"
"Om, kami membutuhkan bantuan om. Papa menyuruhku menghubungi om."
"Bantuan apa itu Dion?"
"Baiklah Dion, om akan segera meluncur."
πΈπΈπΈπΈ
Panggilan di akhiri, Danu bersiap-siap mengeluarkan mobilnya. Lalu segera melaju menuju villa.
Mereka menunggu Danu di seberang jalan villa. Terik matahari serasa membakar tubuh mereka. Tapi Dion tetap sabar dan suster Rika masih setia menemaninya. Ia hanya kasihan pada sang papa yang pasti merasa kepanasan dan kelelahan.
Wajah suster Rika pucat, ia kelihatan lemas, kecapekan dan ketakutan masih menyelimutinya. Ia takut para bodyguard Tania keluar dan menghajar Dion lagi. Ia ingin secepatnya meninggalkan villa itu.
Suster Rika ingin menawarkan rumahnya yang tak begitu jauh dari villa di bandingkan harus langsung ke Jakarta, untuk Dion dan papanya tinggal. Tapi ia sadar ia hanya gadis miskin tulang punggung keluarga. Yang ibunya sedang sakit keras karena kanker getah bening yang di deritanya.
Keluarga suster Rika pun hanya tinggal di rumah kontrakan sepetak saja. Disanalah ada ayah ibu dan kedua adiknya. Ia sangat menyesalkan nasibnya yang malang dan tidak bisa membantu Dion, laki-laki yang sangat di cintainya.
Setelah sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya Danu tiba di lokasi. Dion segera menyambut kehadiran Danu.
"Om, maaf kami merepotkan." Dion menyalami dan mencium takjim tangan Danu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak, Tapi apa yang terjadi? kenapa kondisi kalian seperti ini?" Danu mengerutkan keningnya merasa heran dan penuh tanda tanya.
"Nanti saya ceritakan om sekarang ayo cepat kita pergi dari sini."
"Oke, oke ayo kita ke rumah dulu."
Dion memasukkan Tiga koper besar dan barang-barang lainya ke dalam bagasi mobil Danu. Lalu Danu membantunya memasukkan Rian ke dalam mobil, sebelumnya Danu telah memeluk sahabatnya itu dengan sedih.
Setelah semuanya masuk ke dalam mobil, mobilpun melaju menuju Rumah Danu.
Sementara di dalam villa, Tania dan Frans tersenyum penuh kemenangan. Mereka merayakan kemenangannya dengan pesta dan minum-minum di villa itu. Tania sudah tidak perduli lagi dengan Bobi yang meringkuk di penjara.
Mobil Danu sudah menepi di halaman rumah mewah yang semuanya di kelilingi pagar tinggi. Ini adalah rumah Danu sekaligus rumah Evelin. Di bab sebelumnya sudah di ceritakan mereka adalah keluarga keturunan tionghoa yang memiliki ciri bermata sipit.
Danu membantu Dion menurunkan barang-barang dan juga Rian. Rian sudah berada di atas kursi rodanya.
"Ayo kita bawa papamu kesana." Danu mengarahkan Dion untuk mendorong kursi roda Rian ke arah yang di tunjuk Danu.
Dion mengikuti Danu. Mereka tiba di bangunan yang mirip sebuah rumah yang berada di samping rumah utama. Itu adalah paviliun rumah Danu. Bangunan itu ada ruang tamu dan dua kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur. Yang semuanya terlihat tidak begitu lebar.
Danu membuka pintu Dan mempersilahkan mereka masuk. Di benak Danu masih penuh dengan tanda tanya, tapi dia rasa sekarang bukan waktunya untuk bertanya pada Dion. Biarkan Rian beristirahat dulu dan Dion juga merasa lebih tenang dulu.
Paviliun itu terlihat sangat bersih karena selain jarang di gunakan, Danu juga selalu menyuruh asisten rumah tangganya membesihkan paviliun itu.
Setelah semua barang-barang mereka di masukkan ke dalam. Danu menepuk pundak Dion dan berkata, "Kalian boleh tinggal disini sampai kapan saja kalian mau. Rian adalah sahabat baikku. Dulu Rian selalu membantuku disaat usahaku jatuh."
"Terimakasih banyak om. Saya tidak akan melupakan kebaikan om, Saya akan menumpang disini sampai papa merasa tenang dan siap ke Jakarta." jawab Dion.
"Beristirahatlah dulu, nanti akan om suruh pelayan menyiapkan makan malam. Kita bisa makan malam bersama."
"Baik om, sekali lagi saya ucapkan yang sebesar-besarnya atas bantuan om."
"Jangan sungkan-sungkan Dion, anggap saja om ini seperti papamu." Danu memeluk tubuh Dion penuh kasih sayang, persis seperti seorang ayah yang sedang memeluk anaknya. Tentu saja hal ini membuat Dion berpikir, kenapa sifat Evelin berbeda dengan ayahnya. Bahkan saat Dion meneleponya untuk meminjam uang saat di rumah sakit, Evelin cenderung tidak perduli.
"Apa Evelin sebenarnya baik, tapi memang dia benar-benar lagi tak memiliki uang?" Dion bertanya sendiri dalam hatinya.
πΊπΊπΊ
Apa yang akan terjadi setelah Evelin pulang dan mengetahui mereka berada di rumahnya?
Apa Evelin sudah tahu Dion dan papanya di usir dari villa???
__ADS_1
nantikan di bab selanjutnya.
Bersambung....