DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
Remcana Ke Jakarta


__ADS_3

Evelin menggandeng tangan Dion, dan papanya mendorong kursi roda Rian di ikuti oleh sang mama.


Setelah makan malam, mereka duduk-duduk di halaman terbuka rumah Evelin. Segarnya udara malam memenuhi halaman itu. Setelah memberikan situasi yang santai untuk Rian, barulah Danu memulai membuka percakapan.


"Dion, apa sebenarnya yang terjadi nak? om masih bingung dengan keadaan kalian ini, coba kamu ceritakan sama om pelan-pelan, mana tahu nanti om bisa membantumu." Danu mengerutkan keningnya penuh tanda tanya.


Dion melihat kearah Evelin, lalu Evelin mengangguk.


"Begini om.....," Dion pun akhirnya bercerita panjang lebar tentang apa yang terjadi dengan dia dan papanya, di mulai saat papanya di rumah sakit, lalu menghilangnya Tania, lalu Frans yang tak bisa di hubungi, dan sampai dimana hari mereka di usir.


Semuanya di ceritakan Dion secara detail pada Danu. Danu pun mendengarkannya dengan serius.


"Lalu, bagaimana kamu mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit papamu nak? tanya Danu saat sudah mendengarkan cerita Dion.


Evelin melirik Dion dengan ragu, ia takut pemuda itu bercerita pada ayahnya kalau dia tak mau meminjamkan uang untuknya saat itu.


"Oh, Dion..., maafkan aku ya, aku kira kamu bercanda saat menelponku untuk pinjam uang itu, karena kan tidak mungkin gitu seorang Dion meminjam uang padaku, ternyata itu serius." Evelin pura-pura sedih.


"Tidak apa-apa Eve, wajar aja kalau kamu berpikir demikian."


"Oh jadi Dion meneleponmu? dan mengatakan ingin pinjam uang? tapi kamu tak memberinya?" tanya Danu pada Evelin dengan sedikit marah.


"Iya pah, kan Evelin kira Dion hanya bercanda, nggak mungkin kan Dion nggak punya uang, apalagi alasannya karena mau bayar biaya rumah sakit papanya." Evelin terus berpura-pura membela dirinya.


"Benar juga alasan Evelin, kenapa kamu tidak menghubungi om saja." Danu melihat ke arah Rian yang duduk di kursi rodanya.


"Apa kamu lelah Rian, kamu ingin istirahat? biar Evelin mengantarmu ke kamar. Aku masih ingin mendengar cerita putramu, barangkali aku bisa membantumu."


"Tidak, aku ingin disini Danu...," jawab Rian.

__ADS_1


Dion menjawab pertanyaan Danu yang belum sempat di jawabnya tadi, "saat itu Dion tidak berpikir untuk menghubungi om, Dion tidak tahu."


"Ya sudah sekarang bagaimana, apa yang bisa om lakukan untuk membantu kalian?" tanya Danu.


"Tidak ada om, kita tidak akan bisa mengalahkan Tania, wanita itu sangat licik, dia sudah merencanakan niatnya dengan rapi. Dia sudah menguasai semua milik kami. Sulit untuk mendapatkanya kembali. Kami hanya butuh bantuan om untuk menumpang disini sampai besok saja."


"Kenapa sampai besok saja. Kalian boleh tinggal disini selamanya." Danu terkejut mendengar pernyataan Dion yang mengatakan hanya akan di rumahnya sampai besok.


"Tidak apa-apa om, Dion tidak mau merepotkan om Danu. Om Danu sudah cukup luar biasa mau membantu kami seperti ini."


"Dion, dengerin om bicara, sudah kewajiban om untuk membantumu, Rian ayahmu adalah sahabat om, dan om berhutang budi padanya, om bisa seperti ini berkat dia." Danu menepuk pundak Rian dengan pelan.


"Dion akan membawa papa ke Jakarta, di Jakarta Dion masih memiliki apartement."


"Jika memang itu keinginanmu, om tidak bisa memaksa kalian untuk tetap tinggal. Semua terserah padamu nak, tapi ingat, jika kamu perlu bantuan jangan segan-segan untuk menghubungi om."


"Tapi sebaiknya tunggu papamu sehat dulu, tunggulah beberapa hari lagi Dion."


"Tidak om, papa sudah cukup kuat kok untuk perjalanan besok," Dion menoleh ke arah papanya, lalu malanjutkan ucapannya, "semakin lama berada disini di kota ini justru akan membuat papa sedih dan kesehatannya bisa menurun. Lagi pula Tania sangat berbahaya, bisa saja dia menyuruh orang-orangnya untuk mencelaki papa."


"Baiklah nak, kalau memang harus seperti itu, om tidak bisa berbuat banyak." Danu menarik nafas perlahan lalu menghembuskanya pelan.


Evelin dari tadi mendengar dan menyimak cerita Dion, ia mulai banyak berfikir tentang Tania. Evelin meras di bodohi oleh Tania yang hanya memanfaatkanya saja, demi mencapai tujuannya.


"Sialan Tania! dia hanya memanfaatkanku!" makinya dalam hati.


Perbincangan malam mereka telah usai. Danu yang mendengar Dion akan menaiki kereta api ke Jakarta bersama papanya, ia melarangnya, Danu akan menyuruh sopir pribadinya untuk mengantar mereka ke Jakarta.


Menggunakan mobil pribadi keluarga Danu yang lumayan besar, cukup untuk mengangkut mereka bertiga beserta barang-barangnya. Bahkan Danu juga menyuruh dua security di rumahnya untuk mengawal mereka selama di perjalanan besok. Agar mereka merasa aman.

__ADS_1


Danu sangat prihatin dengan keadaan yang menimpa Rian. Sahabatnya.


Bagaimanapun juga Danu dan Rian sudah cukup lama berteman. Dan Rian, ia pernah membantu Danu saat Danu bangkrut dengan usahanya.


Bahkan karena terlilit hutang yang lumayan besar Danu pernah hampir di penjara dan Rian lah orang yang membayarkan semua hutang-hutang Danu. Dan membantu Danu agar dia tidak jadi di penjara.


Rian juga memberikan modal yang cukup besar pada Danu untuk memulai lagi usahanya yang telah bangkrut. Dan akhirnya Danu bangkit dan semakin jaya seperti sekarang ini.


Danu memiliki sifat yang baik dan dermawan. Dia tidak melupakan kebaikan Rian begitu saja. Saat inilah ia ingin membalas semua kebaikan sahabatnya itu.


Setelah mengucapkan selamat malam pada semua orang yang ada disana. Dion pun membawa Rian masuk ke kamarnya.


Suster Rika menyambut kedatangan mereka dengan sopan. Setelah memberikan obat untuk Rian suster Rika pun meminta izin pada Dion untuk beristirahat di kamarnya.


Suster Rika melihat Dion yang diam tanpa ekspresi. ia mengambil nafas dalam-dalam, melonggarkan dada yang terasa seperti terhimpit benda besar dan keras, sehingga menjadi sesak. lalu membuangnya secara perlahan.


Ia lekas menghapus air matanya yang terus mengalir membasahi pipinya. Mengayunkan kakinya dengan cepat, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Di kamarnya, Evelin terus mencoba menghubungi Tania tapi terus saja gagal.


"Sial!!! Sepertinya Tania telah memblokir nomorku." monolognya.


Evelin sangat kesal. Ia berniat akan mendatangi Tania besok di villa. Tapi ketika dia mengingat akan cerita Dion tadi, Yang mengatakan Tania memiliki pengawal pribadi dan telah menghajar Dion, maka nyalinya pun menjadi ciut.


"Tapi aku harus tetap kesana, aku harus tahu apa yang sudah di lakukannya. Enak saja dia mau menikmati sendiri dan hanya memanfaatkanku saja. Bahkan dia juga sudah membuat Bobi di penjara tapi dia malah enak-enakan sama laki-laki lain." Evelin mondar-mandir di kamarnya dan berbicara sendiri seperti sedang berbicara dengan orang lain.


Sementara Dion, ia tidak banyak bicara. Ia membiarkan suster Rika beristirahat di kamarnya dan tak mau mengganggunya. Bahkan ia diam-diam menggantikan tugas kekasihnya itu dengan merapikan dan menyiap segala keperluan untuk berangkat ke Jakarta besok.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2