
Evelin masuk ke dalam kamarnya. Dia begitu kesal dengan papanya. Mana mungkin ia mau menerima perjodohan itu. Dion dan keluarganya sudah jatuh miskin. Jika perjodohan ini di lakukan dulu, saat keluarga Dion masih berjaya, pasti Evelin akan menerimanya. Tapi sayangnya itu terjadi sekarang. Yang bahkan satu buah mobil pun Dion tak punya. Bagaimana bisa dia hidup bahagia denga pria semiskin itu. Sudu pandang Evelin mengatakan begitu.
Dalam pergulatan pikirannya, tiba-tiba Evelin teringat Tania.
"Semua gara-gara wanita gila itu," monolognya kala itu.
Pikiran Evelin teringat beberapa bulan yang lalu, saat keluarga Dion baru berangkat ke Jakarta. Evelin pun langsung bergegas ke villa saat itu, untuk menemui Tania untuk menagih janjinya, janji akan memberinya sebagian harta Rian yang sudah di kuasainya.
πΌπΌπΌ
Flashback Evelin
Sore itu, setelah menutup butiknya, Evelin segera memacu mobilnya menuju villa. Ia ingin segera sampai kesana untuk bertemu Tania. Ia akan menagih janji Tania.
Setelah sampai di villa Evelin segera memarkirkan mobilnya di halaman villa yang megah itu. Ia segera turun dari mobilnya. Ia menatap sekeliling villa dengan takjub. Ini bukan kali pertama ia datang ke villa ini, tapi tetap saja ia merasa takjub melihat pemandangan di depannya itu.
"Hemm, pantas saja Tania begitu terobsesi ingin memiliki villa ini," gumam Evelin, Lalu ia pun melangkah masuk ke dalam villa. Tetapi ia tidak masuk ke ruang recepsionis, Evelin masuk menuju ruang utama keluarga.
Dua orang bertubuh tinggi besar terus memperhatikannya. Mereka adala Adofo dan Adwin dua orang bodyguard yang di sewa Tania. Awalnya mereka mengira Evelin adalah tamu yang akan menginap. Tapi setelah melihat Evelin berjalan menuju ruang utama keluarga, pikiran mereka menjadi curiga pada Evelin. Takut kalau Evelin adalah penyusup yang akan mencelakai Tania.
Mereka berdua berlari mengejar Evelin.
"Nona ada kepentingan apa? kenapa nona menuju ruang keluarga bukan ke lobby?" tanya Adofo begitu sampai di hadapan Evelin, dan membuat langkah Evelin terhenti.
Evelin tak menjawab. Ia terpaku menatap dua orang itu. Pikirannya melayang. Teringat cerita Dion yang mengatakan bahwa Tania telah menyewa algojo untuk menghajarnya. Seketika nyali Evelin menjadi ciut.
"Jika Dion aja di hajar sampai babak belur, bagaimana dengan aku?" gumamnya dalam hati.
"Nona, anda ada perlu apa kesini? ruang recepsionis ada disana, jika anda ingin menginap," ucapan Adwin menyadarkan dirinya. Ia menatap Adwin dan berkata, "saya ingin bertemu Tania, saya temannya.
"Oh, kalau begitu anda tunggu disini, akan saya panggilkan nyonya Tania," jawab Adwin. Kemudia berlalu meninggalkan Evelin dan Adofo.
Evelin berdiri di depan pintu. Adofo menatap tajam dan penuh selidik padanya. Sesekali Evelin meliriknya. Ada rasa takut yang menyelimutinya. Ia khawatir bagaimana jika laki-laki yang tingginya dua meter berbadan tegap dan hitam legam itu tiba-tiba membantingnya. Evelin menaikkan kedua bahunya dan begidik ngeri.
Beberapa menit menunggu, Adwin pun keluar.
"Silahkan masuk nona, nyonya menunggu anda di dalam," Adwin mempersilahkan Evelin untuk masuk.
__ADS_1
Baru beberapa langkah masuk, Evelin di kejutkan dengan kedatangan Tania yang sedang menuruni anak tangga. Di sebelahnya seorang lelaki tampan. Iya dia adalah Frans. Orang kepercayaan Rian yang dulu pernah menjabat sebagai manager di villa itu.
Evelin tidak saling mengenal dengan Frans. Tapi, ia tahu Frans pernah menjadi orang kepercayaan Rian waktu itu. Dan beberapa kali berkunjung ke villa, Evelin pun beberapa kali juga pernah bertemu denga Frans. Bahkan ia pernah tertarik pada Frans. Suka melihat wajah tampannya. Tapi karena saat itu Frans hanya seorang manager Evelin pun tak mau mengejarnya. Dia hanya sekedar mengagumi ketampanannya saja.
Evelin langsung melangkah lebih cepat ke arah Tania. Namun di halang oleh Adofo dan Adwin.
"Stop! tunggu di situ. Ada perlu apa kamu kesini?" ucap Tania, yang sebenarnya ia tahu apa tujuan Evelin menemuinya.
"Aku ingin bicara empat mata dengamu Tania," ucap Evelin.
"Disini saja kalau mau bicara,"
"Tapi Tania,"
"Cepa katakan apa yang mau kamu bicaraka?"
"Oke to the point aja, aku kesini untuk menagih janjimu, dan aku juga mau bertanya kenapa kamu blokir nomorku?" kali ini Evelin bersuara lantang.
Tania datang menghampirinya lebih dekat. Wajah mereka berhadap-hadapan.
"Dengar baik-baik Evelin, aku memblokir nomormu karena aku tidak mau kamu menggangguku, Lalu kenapa kenapa kamu datang kesini dan ingin membuat keributan disini?" Tania menunjuk wajah Evelin.
"Bagian apa? aku sudah memberimu uang bukan?" Tania menatap tajam pada Evelin.
"Tania!!! aku yang sudah membantumu untuk mendapatkan semua ini, tanpa aku kamu tidak bisa seperti ini! uang 20juta dollars itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan semua yang sudah aku lakukan untukmu!" bentak Evelin.
Pertengkaran hebat terjadi pada keduanya. Evelin mengungkit semua bantuan yang telah ia berikan pada Tania waktu itu, bantuan untuk memuluskan rencananya menguasai harta Rian.
Dari mulai ide menukar obat. Dan mengenalkannya pada Jenny seorang ahli farmasi yang telah membuatkan obat yang mirip dengan obat Rian.
Dan juga membantunya membongkar brankas untuk mendapatkan semua surat-surat penting dan aset-aset berharga milik Rian. Tapi pendirian Tania tidak goyah. Ia tetap tak mau memberikan apapun pada Evelin.
"Serakah sekali kamu Tania, Aku tak menyangka kamu seperti ini, bahkan kamu juga tega membuang Bobi, orang yang membantumu berjuang selama ini." kata Evelin seraya tersenyum tipis ke arah Tania.
"Tutup mulutmu! dan cepat pergi dari sini sebelum orang-orangku aku perintahkan untuk menghajarmu."
Evelin menoleh ke arah Adofo dan Adwin yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. Di lihatnya mereka mengangguk-anggukkan kepalanya, dan tangannya mengepal, sungguh melihat mereka saat itu seperti melihat pemandangan yang sangat menyeramkan saat itu bagi Evelin. Ia menyeringai ngeri.
__ADS_1
"Pergilah sekarang sebelum mereka berdua aku perintahkan untuk menghajarmu!" teriak Evelin, lalu ia melanjutkan kembali ucapannya, "bukankah papamu sahabat Rian, dan bukankah kemarin kalian menampung mereka, maka mintalah harta sama Rian, orang-orangku menyebar di mana-mana jadi tak sulit untukku mendapatkan semua informasi yang ku inginkan, ha ha ha," Tania mengejek Evelin, tawanya menggema di ruangan itu.
"Aku tidak ada urusan dengan mereka dan papaku, urusanku denganmu. Dasar wanita iblis!". ketus Evelin.
Plak plak plak (suara tamparan yang sangat kuat)
Evelin memegang kudua pipinya yang memerah akibat di tampar oleh Tania.
"Seret wanita ini keluar!" perintah Eveli pada kedua bodyguart nya.
Adofo dan Adwin pun bergerak cepat memegang kedua tangan Evelin. Dan belum sempat Evelin berkata apa-apa, Tania berbisik padanya, "pergilah dengan sopan, jangan buat keributan disini dan mengganggu tamu-tamuku yang menginap di villa ini, atau aku perintah kan mereka untuk memperkosamu. Lalu membunuhmu dan membuang mayatmu ke jurang."
Mendengar ancaman Tania, Evelin ketakutan. Ia berontak dari pegangan Adofo dan Adwin, "Lepaskan! lepaskan aku!" Evelin menggerak-gerakkan badanya berusaha melepaskan diri dari dua orang itu.
"Lepaskan dia!" perintah Tania.
Mereka melepaskan Evelin.
"Aku hitung sampai tiga cepat keluar dari sini. Satu, dua, tiga,"
Belum sampai hitungan ketiga Evelin telah berlari keluar dengan kencang menuju mobilnya, ia tahu ancaman Tania tak main-main.
Evelin membuka pintu mobilnya dan masuk dengan cepat. Ia memukul-mukul setir mobilnya dengan kesal, "dasar wanita gila, aku akan mengambil semua ini dari mu, lihat aja nanti. Aku akan membalas semua perlakuanmu padaku Tania, Aku sangat dendam padamu."
Evelin menatap Tajam pada bangunan megah itu, sebelum ia pergi meninggalkan tempat itu. Dadanya bergemuruh. Ia sangat marah dan dendam pada sahabatnya itu. Ia sudah bertekat akan balas dendam pada Tania dengan cara apapun.
Flashback on
πΌπΌπΌ
Evelin duduk di kursi meja hias, dan melihat pantulan wajahnya di dalam cermin.
"Aku akan merebut semuanya darimu Tania, semua akan ku mulai dari Frans," Evelin tersenyum, jarinya mengusap lembut bayangan wajahnya di cermin itu.
Evelin tahu Frans tidak mencintai Tania. Laki-laki itu hanya memanfaatkan Tania saja. Ia juga tahu saat kedatangannya ke villa waktu itu Frans terus memperhatiannya. Ia juga tahu kalau Frans sering diam-diam memperhatikannya saat ia berkunjung ke villa dulu, saat Frans masih menjadi manager disana.
"Aku tahu Frans, kamu tertarik padaku. Dari pada aku menerima perjodohan dengan Dion, lebih baik aku mendekatimu dan merebut semua harta itu dari Tania. Aku masih ingat bagaimana caramu mengusirku Tania, perlakuanmu padaku telah menciptakan bara di dadaku, " ucapnya bermonolog.
__ADS_1
Bersambung.....