DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
PUNCAK PERMAINAN TANIA DI MULAI


__ADS_3

"Aku datang...." seru Dion sambil membuka pintu begitu saja, karena memang pintunya tidak terkunci. Tania yang tampak gugup segera memasukkan barang-barangnya dengan cepat. Dion mengamatinya dengan heran.


"Apa itu Tania?" Dion mengerutkan keningnya merasa heran.


"Oh, ini....em....bukan apa-apa, ini milik Evelin aku akan mengembalikannya!" ucap Tania lalu dengan tergesa-gesa ia ia melangkah cepat-cepat pergi dari tempat itu, tak memperdulikan Dion yang berdiri mematung menatapnya dalam kebingungan.


Jantung Tania berdetak lebih cepat, ia ketakutan. Takut Dion mengetahui rencana busuknya sebelum semuanya berhasil. Dia tidak memerdulikan apapun dia terus berjalan keluar rumah sakit lalu menyetop taxi di pinggir jalan.


Taxi itu baru menurunkan penumpangnya yaitu, suster Rika. Begitu suster Rika keluar, Tania langsung menerobos masuk dan menyuruh sopir itu menjalankan taxinya.


Suster Rika terkejut sekaligus heran. Ia tercengang di pinggir jalan itu. Bibirnya terbuka. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari sesuatu setelah mobil taxi tadi berlalu.


"Ibu....bu Tania....ini nasinya." teriak suster Rika polos, sambil menenteng bungkusan nasi di tangannya.


Tak lama kemudian, Dion datang. Dion berlari ke arah suster Rika di tepian jalan.


"Mana Tania?" tanya Dion terengah-engah.


"Sudah pergi mas, naik taxi." jawab sang suster dengan mimik wajah yang masih penuh tanda tanya. Suster Rika bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Dion mengepalkan tangannya lalu memukul ke udara. Dia terlihat begitu kesal. Dion melangkah masuk kembali ke ruangan Rian.


Di ikuti oleh suster Rika Dion masuk ke dalam ruangan vip itu. Dion menatap benda di tangan kirinya. Sebuah tinta stempel yang di gunakan Tania untuk mengambil cap jempol Rian tadi. Tanpa sengaja karena ketakutan dan terburu-buru Tania menjatuhkan benda itu.


Dion mengambil tangan sang papa dan melihat ibu jari papanya ada bekas tinta.


"Ya Tuhan....apa yang sedang di rencanakan Tania, Apa yang terjadi...." lirih Dion.


"Mas, ada apa?" suster Rika memberanikan diri untuk bertanya, karena ia sendiri bingung dengan apa yang telah terjadi.


"Sus, kamu dari mana saja? kenapa kamu tidak menjaga papa? Dion balik bertanya pada suster Rika.


"Maaf mas, tadi bu Tania menyuruh saya membeli nasi, tempatnya lumayan jauh."

__ADS_1


"Ckk!!! hmmmmhuuuhhh!!" Dion menarik nafas dan menghembuskannya kasar.


"Pasti Tania sengaja menyuruh suster Rika keluar." gumam Dion dalam hati.


Dion terlihat setres. Ia mondar-mandir di ruangan itu. Sesekali ia pun terlihat berpikir serius. Kemudian ia mengeluarkan gawainya dan menghubungi seseorang. Seseorang itu adalah frans manager di villa itu.


****


"Hallo frans"


"Hallo tuan ada apa?"


"Apa ada Tania di sana?"


"Tidak ada tuan."


"Kalau Tania kembali ke villa, kamu tahan dia, dan segera hubungi saya."


"Oh iya....baik Tuan."


****


Sementara itu Tania dia berada di kantor pengacaranya. Pengacara bernama pak Anwar itu sudah cukup lama bekerja sama dengan Tania. Tania juga menjanjikan akan memberikan sebagian kebun teh milik Rian jika semua bisa jatuh ke tangannya.


Pak Anwar mengecek seluruh berkas-berkas yang sudah terbubuh tanda tangan bahkan jam jempol Rian. Tanda tangan Rian sudah lama Tania dapatkan dulu jauh sebelum Dion datang. Dengan cara Tania yang memberikan beberapa berkas kosong dan menyuruh Rian tanda tangan disana saat ia sedang mabuk.


Sejak saat itu Tania dan Bobi terus menyusun rencana untuk menghabisi Rian, tapi selalu saja gagal. Hingga tibalah saat ini, semua sudah ada di depan mata Tania.


Tania juga sudah menghadle semua yang ada di villa. Orang yang paling penting di villa itu selain Rian, Dion, dan dirinya ada satu orang yang di percaya Rian dia adalah Frans. Frans mempunyai jabatan sebagai manager di villa itu. Dan dialah orang yang mengatur keuangan dan semuanya di villa itu.


Frans memiliki perawakan yang hampir mirip dengan Bobi. Berwajah tampan dan tubuh yang atletis. Tania tersenyum membayangkan wajah Frans. Hingga ia teringat kejadian malam itu.


Saat tanpa sengaja ia melihat Frans memasukkan beberapa gepok uang ratusan ribu rupiah ke dalam tas tangannya. Saat itu Tania langsung menyelidikinya. Dan setelah ia mengecek laporan ke uangan villa itu, Tania menemukan ada kecurangan yang telah dilakukan oleh Frans.

__ADS_1


#####


FLASHBACK OFF


**Bruuaakkk!!!!****


Malam itu Tania menggebrak meja ruang kerja Frans. Frans sangat terkejut.


"Apa yang anda lakukan nyonya?"


"Jangan banyak omong kamu Frans!! aku sudah memegang kartumu." gertak Tania dia berjalan mengitari Frans yang duduk di depan meja kerjanya. Tania melipat kedua tangannya di dada dan metapap sinis pada Frans.


"Apa maksud nyonya?" tanya Frans yang terlihat kebingungan.


"Berapa uang yang sudah masuk ke rekening pribadi mu Frans?" ucap Tania setengah berbisik di telinga Frans, ia sedikit menunduk saat berbicara.


Nafas hangat dari bibir Tania menyergap di telinga Frans, membuat darahnya berdesir kuat. Jantungnya berdetak hebat. Bulu-bulu halus di tengkuknya seakan berdiri dan ingin di sentuh.


"Nyonya....jangan anda kira saya tidak tau apa yang sudah anda lakukan dengan Bobi." Frans menarik tubuh Tania, Tania hampir terjatuh lalu Frans menariknya hingga membuat wajah mereka berdekatan bahkan nyaris berciuman.


"Jangan kurang ajar kamu!!" Tania melepaskan tubuhnya dari pelukan Frans.


"Maaf nyonya...." ucap Frans seraya tersenyum mengejek.


"Aku menunggumu di kafe xxx nanti sore, untuk membicarakan masalah ini." Tania membalikkan badannya hendak pergi dari ruang kerja Frans. Lalu Frans berjalan mendahuluinya dan membukakan pintu untuknya seraya membungkukkan badan dan tangannya mempersilahkan Tania untuk keluar.


"Baik nyonya, dan silahkan keluar." ucapnya tetap dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.


Waktu yang di janjikan telah tiba. Tepat pukul lima sore Tania sudah duduk di sebuah kafe menunggu kedatangan Frans. Tak perlu waktu yang lama untuk menunggu akhirnya Frans pun tiba. Dari jauh dia sudah melambaikan tangannya pada Tania.


Frans memakai celana jeans yang pas di badan, dan memadukanya dengan kaus berkerah dan sepatu boot berjenis kulit dari merk terkenal. Dengan memakai kaca mata hitam membuatnya semakin menawan.


Tania sempat terkesima menatap penampilan Frans yang berbeda dengan pakaian kerjanya sehari-hari. Apalagi bodinya yang atletis dan wajahnya yang lumayan tampan. Membuat Tania teringat akan Bobi kekasih gelapnya itu. Jujur saja Tania memang sangat merindukan Bobi setelah sekian bulan tidak bertemu. Dia begitu merindukan sentuhan-sentuhan Bobi.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2