
"Eve....gue mau ketemu elo." suara Tania yang menelpon temannya.
"Gue tunggu di tempat biasa." sahut Evelin.
Panggilan di putuskan Tania bergegas pergi membawa mobilnya. Menuju tempat dimana sahabatnya itu menunggu.
"Eve....gue butuh bantuan elo lagi!"
"Bantuan apalagi Tan...gue siap bantu elo. tapi elo juga harus ingat jatah gue!"
Tania terdiam.
Evelin melanjutkan ucapannya, "elo nggak akan mengambil keuntungan ini sendiri tanpa memberikan aku imbalan apapun bukan?"
"Eve....elo tau seberapa besar kekayaan Rian bukan? bagaimana mungkin gue menghabiskannya sendiri!" Tania tersenyum smirk.
"Katakan apa yang harus gue lakukan Tania?"
"Kapan elo kembali ke ausi?"
"Gue nggak akan kembali kesana, gue gagal memenangnya event itu, bahkan gue udah di block nggak bisa ngikutin event berikutnya. Gue udah menghabiskan uang bokap gue aja." Evelin kesal karena ia gagal memenangkan festival event designer yang di adakan di australia dalam rangka menyambut musim dingin di negara itu.
"Bagus dong."
"Bagus apanya? gue udah habis uang banyak...." Evelin mengerutkan dahinya.
"apanya yang bagus?"
"Bagus kalau elo tetap disini, elo bisa membantu gue menjalankan misi gue, jadi gue nggak sendiri karena Bobi di penjara...."
"Maksud elo?"
"Maksud gue, elo bukan ngasih. saran doang Eve.... tapi elo ikut masuk dalam permainan ini. Elo pacarin Dion."
"Terus...?" Evelin tampak berpikir keras dengan kata-kata Tania,, Ia terlihat menaikkan sebelah alisnya.
"Elo deketin Dion, elo pacarin dia....lalu dia akan sering menghabiskan waktu bersamamu. Dan gue punya kesempatan untuk mencari surat-surat penting dan aset-aset berharga lainnya di villa itu dengan leluasa, tanpa takut ada yang mengawasi karena Dion akan sibuk dengan elo."
"Ohhhh...oke-oke gue ngerti maksud elo."
"Besok elo ajakin nyokap bokap elo buat datang ke villa. Waktu itu kan suami gue juga pernah ngundang kalian kan..." Tania terus mendesak Evelin.
"Oh iya-iya gue ingat."
Luna masuk ke dalam kampus disana dua temannya udah nunggu, Vikky si kribo dan Dias yang humoris.
"Tumben cepet banget elo datang?" tanya Vikky pada Luna.
"Gue di anter sama kakak gue." jawab Luna yang sedang sibuk mengeluarkan laptopnya. Dias mendekat ke bangku Luna. Ia penasaran dengan apa yang sedang Luna lihat di layar laptopnya.
__ADS_1
"Lu lagi ngapain sih....?" tanya Dias yang penasaran.
"Eh, itu....bukannya villa orang tua Dion ya?" Vikky serius memperhatikan gambar di laptop Luna.
"Ihh....apaan sih, kepo banget sih kalian ini memang villa orang tua Dion."
"Cie....cie....ada yang kangen nih sama Dion" sambil terkekeh Dias meledek Luna.
Vikky melirik ke arah Luna ia ingin melihat ekspresi Luna saat Dias meledeknya. Vikky tahu sudah lama Luna naksir sama Dion. Ada rasa cemburu di hatinya, tapi ia selalu mengalah untuk soal perasaan karena Dion adalah teman baiknya.
"Gue mau rekomen tempat ini ke kakak gue...." ucapan Luna membuyarkan lamunan Vikky.
"Kakak elo mau ke puncak?"
"Iya untuk acara keluarga gue."
"Wah....elo ikut juga Lun? jumpa dong sama Dion."
"Ya pasti gue ikutlah namanya acara keluarga gue."
"Wah.....wah....wah kita nggak di ajak man" seru Dias yang tampak meledek Luna.
"vik...."
"Hmmm," jawab Vikky sambik terus mencatat buku.
Vikky sengaja menulis-nulis yang tak penting di buku sebenarnya hanya untuk menutupi rasa cemburunya aja.
Mendengar pertanyaan Luna Vikky lalu menoleh sekejab saja lalu tertunduk lagi.
"Apanya?"
"Perasaannya."
"Kenapa dengan perasaannya Dion?"
"Gue mau tau aja. Habisnya Dion nggak peka banget sama perasaan gue."
Ada rasa nyeri di dada Vikky, "Elo tanya aja sendiri ke orangnya."
"Elo cinta berat sama dia?" Dimas menyipitkan matanya.
"Enggak ah gue cuma....pengen tau aja"
"Ayolah, akui aja sama Dion, kalau sebenarnya elo tuh ada feeling sama dia. Cape tau, nyembunyiin perasaan terus..." Kata Dias sambil mengambil alih mouse di tangan Luna dan mulai menggeser-geser mouse di tangannya.
"Sok tau. Siapa juga yang nyembunyiin perasaan?"
"Kalau nggak ada rasa ngapain elo peduli sama perasaan Dion?"
__ADS_1
"Gue kan cuma mau tau doang. Emangnya aneh?"
"Ya aneh, dong. Ngga ada cewek yang peduli perasaan cowok kalau nggak ada maunya. Begitu juga sebaliknya."
"Nggak semuanya begitu. Gue tulus cuma nanya doang, kan Dion temen gue. Gue penasaran aja. Nggak ada niatan lain."
"Bullshit!" Dias kembali memainkan mouse di tangannya.
Tadinya Vikky masih mau mendengar perdebatan antara Luna dan Dias, tapi karena ada rasa nyeri yang begitu perih di hatinya ia berlalu pergi meninggalkan mereka. Vikky sadewa tak kalah tampan dengan Dion. pria berambut kriting dan memiliki hidung mancung ini diam-diam menaruh hati dengan Luna. Tapi begitulah ia mencintai Luna tapi Luna tidak pernah peka dan malah mengejar Dion.
Di rumahnya Evelin sedang makan malam dengan keluarganya. Ia mulai membuka obrolan dengan sang papa.
"Pah...papa udah tau belum kalau temen papa kecelakaan?"
"Temen papa yang mana sayang?" Danu bertanya karena dia sama sekali belum mengetahui kabar tentang Rian. Danu baru kembali dari luar kota. Sekitar satu bulan dia ada disana untuk mengurus bisnisnya yang lain.
"Om Rian, pah pemilik villa royal Bandung." Evelin sengaja memancing sang papa.
"Oh my God..." Danu tampak terkejut mendengar penuturan putrinya.
"Iya pah om Rian struk sekarang."
"Apa yang terjadi dengan sahabatku? oh Tuhan...kasihan sekali Rian."
"Papa dan mama nggak ingin kesana nengokin om Rian?"
"Besok kita kesana sayang,"
Di villa, Rian terlihat tidak seperti biasanya. Wajahnya sedikit pucat, kurang bereaksi saat di ajak bicara. Tak seperti biasanya, walaupun tak bisa bicara dia bisa merespon.Tapi hari ini Rian memang tampak berbeda dari biasanya. Ia juga tak mau saat suster Rika hendak membawanya terapi berjalan. Padahal biasanya semangatnya sangat menggebu-gebu. Bahkan ia seperti lemas tak mampu hanya untuk duduk saja. Suster Rika memberitahukan hal ini sama Dion. Dion yang panik akhirnya memanggil Dokter pribadi keluarganya. Bahkan sang dokter pun tak tau ada apa dengan kondisi papanya. Seharusnya dengan minum obat itu seharusnya kondisinya semakin membaik bukan semakin melemah seperti ini.
Tania yang sebelumnya sudah mendapat kabat dari Evelin, bahwa ia dan keluarganya akan datang segera berjalan ke kamar Rian. Berniat untuk memberi tau Rian dan Dion.
"Pah...pak Danu akan datang, katanya ingin nengokin papah." Tania mengusap lembut rambut suaminya. Rian hanya menggerakkan matanya saja.
"Dion....kamu ingat om Danu kan? sahabatnya papah?" Tania bertanya pada Dion.
"Dia akan kesini nanti bersama istri dan ,putrinya sebaiknya kita siap-siap, bagaimanapun juga beliau teman papa kita harus menyambutnya sedikit." Tania tampak merapikan pakaian Rian.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba bik Imah mengetuk pintu yang terbuka itu dan membuyarkan obrolan mereka.
"Nyonya ada tamu."
"Iya bik....suruh masuk saja, bawa mereka ke ruangan ini." titah Tania yang di jawab anggukan dari bik Imah. Ruangan ini memang cukup besar. Tania sengaja menyuruh bik Imah membawa mereka ke kamar itu, karena tak mungkin membawa Rian keluar.
Bik Imah berjalan menuju kamar Rian. Di belakangnya ada tiga orang yang mengikuti langkahnya, Yaitu Danu, istri dan anaknya.
Bagitu masuk ruangan Danu sangat terharu melihat sahabatnya terbaring tak berdaya. Sementara Tania dan Evelin menjaga jarak mereka. Evelin tampak sangat cantik malam ini, menggunakan rok berbahan jeans di padukan dengan blous sabrina yang terkesan seksi namun sopan.
Evelin berjalan mendekati Dion, ia mulai memainkan perannya!
__ADS_1
"Eh, kamu?" Evelin pura-pura terkejut. Evelin mengulurkan tangannya menjabat tangan Dion sambil tersenyum manis lalu berkata, "ketemu lagi."