DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
Kebingungan Dion


__ADS_3

Dion masih terus menatap papanya. Hingga seorang dokter datang dan membuyarkan lamunannya.


"Mas, hasil pemeriksaan obat yang di minum pak Rian waktu itu


sudah keluar, sebaiknya mas Dion menjaga papanya dengan baik setelah pulang nanti." kata dokter pada Dion.


"Memangnya kenapa dok?"


" Obat yang di berikan pada papa anda selama ini telah di tukar, yang di minum papa anda selama ini adalah obat untuk melemahkan syaraf. Saya rasa ada orang yang sengaja melakukannya, dan ingin mencelakai pak Rian."


Dion syok, mendengar penjelasan doktet tersebut. Ia tak habis pikir, siapa yang tega melakukan itu pada papanya.


"Apakah yang dokter katakan itu benar?" Dion seperti tak percaya dengan apa yang di katakan dokter barusan.


"Mas Dion tidak percaya saya? ini saya jelaskan ini adalah obat yang seharusnya pak Rian minum, dan ini adalah obat yang palsu, yang di buat sedemikian mirip dengan obat aslinya, maaf mas, bukan saya mau ikut campur urusan keluarga mas Dion, tapi ini menyangkut nyawa pasien saya, setelah ini sebaiknya mas Dion lebih berhati-hati menjaga bapak, mungkin ada seseorang yang ingin mencelakai bapak." dokter menjelaskan pada Dion.


Tiba-tiba Dion teringat kejadian beberapa bulan yang lalu, saat itu ia baru kembali dari Jakarta untuk mengurus izin kuliahnya. Dan sesampainya di villa, ia memergoki Tania yang sedang memunguti obat l yang jatuh berserak di lantai.


"Aku ingat, pasti Tania yang melakukan semua ini." Dion tampak frustasi, ia mengusap rambutnya dengan kasar.


Dokter telah selesai memeriksa Rian. Kemudian diapun permisi pada Dion, "jam berapa mas Dion akan membawa bapak pulang?"


"Belum tahu dok, yang pasti hari ini." jawab Dion pelan.


"Oh, kalau begitu saya permisi dulu," dokter berjabat tangan dengan Dion dan kemudian dokter pun keluar ruangan itu.


Suster Rika baru saja memasuki ruangan, ia menenteng dalam plastik air mineral dan makanan ringan.


"Permisi...." ucapnya memberi salam.


"Rika...., kamu dari mana?" sekarang Dion memanggil suster Rika tanpa embel-embel suster lagi.


"Dari mini market mas, membeli ini ucapnya." suster Rika menunjukkan apa yang di bawanya pada Dion.


"Oohhhh...." hanya itu yang keluar dari mulut Dion.


"Ada apa mas? kita jadi pulang hari ini kan?"

__ADS_1


"Jadi....tapi, aku bingung semua orang di villa tidak ada yang bisa di hubungi."


"Loh, kok bisa gitu mas? pak Samsul gimana apa nggak bisa di hubungi juga?"


"Semuanya Rika, semua orang tak bisa di hubungi."


"Terus gimana mas? apa kita langsung bawa bapak pulang saja? naik taxi gitu mas."


"Masalahnya bukan itu, masalahnya aku tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit ini."


"Kalau gitu mas pulang aja dulu ke villa, biar Rika yang jaga bapak." walapun sudah menjadi kekasih Dion, tapi suster Rika masih canggung saat berbicara dengan Dion, apalagi kalau Dion menatapnya.


"Mas ambil uangnya terus balik lagi kesini, mungkin lagi ada masalah di villa mas."


Dion mempertimbangkan saran kekasihnya itu, tapi ia juga ingat perkataan dokter barusan, bahwa dia tak boleh lena menjaga papanya, karena ada orang yang berniat mencelakai papanya.


Apalagi Dion telah menggaris besari nama Tania dalam kasus ini sebagai tersangkanya. Dan ia juga tidak tahu keberdaan Tania saat ini ada dimana, Dion takut kalau tiba-tiba Tania muncul dan melakukan sesuatu pada papanya.


"Tidak. Aku akan mencari cara, agar kita bisa pulang sama-sama." Dion menolak saran dari suster Rika.


Dion ingin bercerita banyak hal, dan bertanya banyak hal juga tentang papanya, pada suster Rika. Tapi untuk saat ini waktunya belum tepat.


"Sebentar sayang, aku akan coba menelepon Evelin." dalam situasi seperti itu tiba-tiba saja Dion teringat Evelin. Iyah memang tinggal satu orang itulah yang belum di hubunginya.


Wajah suster Rika tampak berseri, mendengar panggilan sayang dari Dion. Akan tetapi hatinya menciut saat Dion menyebut nama Evelin. suster Rika pun jadi terbayang adegan ciuman Dion dan Evelin waktu itu.


Dion mengeluarka ponselnya dari saku celananya. Kemudian dia menekan sebuah nomor kontak dengan nama Evelin.


Panggilan terhubung.....


πŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”Ή


"Hallo Eve..."


"Hallo Dion ada apa?" suara Evelin menggema di speaker ponsel Dion, karena ia menghidupkan speaker handponnya, bahkan suster Rika pun mendengar percakapan mereka.


Dion ingin menanyakan Tania, tapi kemudian mengurungkan niatnya. Ia juga berniat meminta tolong Evelin ke villa untuk ambil uang tapi tidak jadi, karena ia merasa itu akan mengulur waktu.

__ADS_1


"Dion, ada apa kenapa kamu diam saja." suara Evelin dari sebrang sana menyadarkan Dion.


"Oh, iya! sorry...., sorry Eve, aku ingin meminjam uangmu."


"Hah!!! kamu ingin meminjam uangku? apa aku tidak salah dengar? memangnya uang papamu sudah habis he he he...." tawa Evelin pecah, ia mengira Dion hanya bercanda.


"Aku tidak sedang bercanda Eve, ini serius aku butuh uang sekarang juga untuk membayar biaya rumah sakit papa, kami akan pulang hari ini."


"Hah, aku masih tidak mengerti." Evelin tampak bingung, tapi pikirannya juga curiga pada Tania, "apa yang di lakukan Tania, kenapa Dion sampe seperti ini." ucapnya dalam hati.


"Eve, please....aku mohon, setelah kami sampai di villa, kamu boleh datang dan aku akan mengembalikan uangmu."


"Kenapa kamu tidak pulang saja dulu ke villa?"


"Aku hanya tidak bisa meninggalkan papa, Eve."


"Kalau begitu, kamu telepon saja orang-orang mu."


"Semua tidak bisa di hubungi."


"Lalu dimana Tania?" dengan ragu-ragu Evelin menanyakan Tania. Karena dia sendiripun sudah sejak kejadian membongkar brankas itu tak pernah lagi bertemu Evelin. Bahkan Evelin pun susah di hubungi.


"Aku tidak tahu dimana wanita itu. Apa kamu bekerja sama dengannya?"


"Aku tidak tahu apa-apa, jangan libatkan aku."


"Kalau begitu, cepat transferkan uangmu ke rekeningku sekarang." Dion masih mengharap pada Evelin.


"Sorry Dion, aku tidak punya." jawab Evelin, mencari aman. Tentu saja ia tak mau meminjamkan uangnya, sebab ia takut semua yang di alami Dion sekarang adalah ulah Tania. Lalu kalau dia meminjamkan uang pada Dion, ia takut tidak di kembalikan. Tanpa permisi Evelin langsung memutuskan panggilan dari Dion.


"Eve, Evelin....hallo, hallo Eve, arrrghh." Dion terlihat kesal ketika ia baru menyadari Evelin sudah mematikan ponselnya.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Suster Rika melihat Dion dengan iba. Sebenarnya ia terlalu polos hingga tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada orang di sekelilingnya.


"Pada siapa, aku harus meminta tolong?" ucap Dion lirih.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2