
Tin...tin...tin...
Suara klason mobil Frans tak henti-henti, di halaman kantor pak Anwar, seakan dia sangat tak sabar menunggu Tania untuk keluar dari ruangan itu.
Tania menyalami pak Anwar, kemudian ia permisi pulang dan membawa semua berkas-berkas berharganya, memasukkanya ke dalam tas.
Tania berjalan keluar menghampiri mobil Frans. Frans turun dan membukakan pintu untuk Tania.
"Sayang, apa kamu lama menunggu?" Frans mencium kening Tania, lalu Tania masuk ke dalam mobil. Kemudia Frans pun masuk dan melajukan mobilnya keluar halaman kartor itu.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Frans pada Tania.
"Kita tak perlu ke mana-mana, kita pulang je villa. Villa itu telah menjadi milikku sepenuhnya, aku ingin merayakan kemenangan ini di sana." ucap Tania penuh dengan kepuasan di wajahnya,senyumnya mengembang di bibir seksinya.
Frans membelai rambutnya, "Selamat atas kemenanganmu sayang, kamu memang hebat. Dan aku adalah pekerjamu sekarang, maka lakukanlah sesukamu terhadapku." Frans kembali fokus menyetir mobilnya. Dan tiba-tiba Tania menyuruhnya menepi. Frans menurutinya, lalu dengan kilat Tania merengkuh wajahnya dan meluma* bibirnya dengan penuh nafs*.
"Jangan katakan itu Frans, aku butuh lelaki sepertimu di sampingku, dan kamu telah mebuatku jatuh cinta." Tania menatap sendu wajah Frans. Ia memang telah benar-benar jatuh cinta pada lelaki itu, dan telah melupakan Bobi yang di anggapnya tak berguna lagi karena di penjara.
Frans, tentu saja ia sangat senang mendengar pernyataan Tania barusan. Memang inilah yang di inginkanya. Menjadi orang yang di cintai Tania dan bisa hidup mewah tanpa harus lelah bekerja keras.
Mereka melanjutkan perjalananya menuju ke villa. Beberapa menit kemudian mereka berdua telah tiba di villa. Tania mengumpulkan semua pegawai di villa itu, baik pegawai yang bekerja khusus untuk villa atau yang bekerja yang mengurus keluarganya.
Tania mengumumkan kepada mereka semua, bahwa dialah sekarang yang berkuasa di villa itu dan dialah yang menjadi pemilik villa itu. Jadi ia menegaskan, barang siapa yang masih mau bekerja di villa harus mengikuti segala aturan dan perintahnya, dan bagi siapapun yang masih mau memihak pada Rian ataupun Dion silahkan keluar dari villa, dan jangan minta pesangon apapun. Bahkan Tania mengancam para pegawai itu bagi siapa yang memihak Rian dan Dion akan di pecat dan tidak akan di beri gaji.
Sebagian besar pagawai itu tetap bertahan di bawah pimpinan Tania. Hanya ada beberapa orang yang benar-benar tulus bekerja pada Rian, mereka tak sudi bekerja pada Tania, dan memilih keluar dari villa tanpa gaji atau pesangon sepeserpun. Mereka adalah orang-orang yang kehidupannya pernah di bantu oleh Rian. Sehingga mereka merasa berhutang budi pada Rian dan tak mau berhianat padanya.
"Oh, kamu tidak mau bekerja denganku? keluar cepat dan jangan pernah datang lagi kesini untuk meminta pekerjaan padaku." Bentak Tania pada salah satu pegawai yang tak mau memihaknya.
__ADS_1
"Semuanya sudah jelas?" tanya Tania pada para pegawai yang masih berkumpul disana.
"Sudah bu." jawab mereka serentak.
"Bagus!! bubar sekarang dan lanjutkan tugas kalian." perintah Tania pada mereka semua.
Mereka semua membubarkan diri dan kembali di posisinya masing-masing.
Tania menggandeng Frans dan membawanya memasuki kamarnya.
"Sayang,ini adalah kamar kita sekarang." ucap Tania dengan manja pada kekasihnya.
Frans tersenyum, lalu mencium lembut bibir Tania dan mengangkat tubuhnya ke atas ranjang.
Frans mulai melakukan aksinya, ia melepas kemeja putihnya dengan sangat percaya diri. Kemudian ia memeluk Tania dengan penuh semangat. Tania membelai kepala Frans sambil tersenyum, "Frans, aku ingin..."
Serasa mendapat lampu hijau, Frans pun terus melakukan aksinya mencumbu Tania.
Hari ini para pegawai villa banyak yang berbisik-bisik menceritakan tentang Frans yang tiba-tiba dekat dengan Tania, banyak gosip di sana sini. Ada yang mengatakan Frans sangat beruntung mendapatkan Tania dan menjadi bos secara tiba-tiba. Ada juga yang mengatakan Frans licik dan hanya ingin harta yang di dapatkan Tania dengan cara yang licik juga.
semantara Dion, tak terasa sudah hampir dua bulan berada di rumah sakit. Dia memasrahkan urusan villa pada Frans. Tiap hari dia menelepon Frans dan menanyakan perkembangan villa padanya.
"Untung ada Frans yang bisa ku percaya." ucap Dion pada suster Rika yang sedang menyuap papanya.
Untuk urusan pakaiannya pak Samsul dua hari sekali pulang ke villa untuk mengantar pakaian yang kotor dan membawa pakaian yang bersih untuk Dion. Makan terkadang dia akan beli makanan di sekitar rumah sakit atau beli secara online. Terkadang jika ia rindu masakan rumah, dia menelepon bik imah dan meminta untuk memasakkannya dan mengantarkannya ke rumah sakit.
Berhari-hari berada dalam satu ruangan dengan suster Erika, membuat Dion semakin jatuh hati pada perawat papanya itu. Suster Rika yang berwajah manis dan telaten merawat papanya telah mencuri perhatian Dion selama ini.
__ADS_1
Beberapa hari yang lalu Dion bahkan sudah menyatakan cintanya dengan sang suster. Dan tentu saja di terima dengan segenap hati oleh suster Rika, yang memang telah lama juga diam-diam mengaguminya. Siapa wanita yang bisa menolak seorang Dion, pemuda tampan dan seorang tuan muda terkaya di kawasan puncak ini. Tapi bukan status sosial Dion yang membuat suster Rika jatuh cinta, tapi justru kesederhanaan tuannya lah yang selama ini telah mencuri perhatiannya.
Antara suster Rika dan Dion telah resmi menjadi sepasang kekasih. Pagi itu mereka sarapan bersama.
"Rika....," saat suster Rika menoleh Dion langsung mencium pipinya, dan berhasil membuat sang suster merah padam menahan malu.
"Mas Dion.....apaan sih," ucapnya malu-malu.
Kesehatan Rian semakin membaik. Dokter sudah membuka alat-alat medis di tubuhnya, Bahkan Rian hari ini Rian sudah lebih baik dari sebelum dia di rawat di rumah sakit. Bibirnya sudah tidak miring lagi dan sudah bisa menggerakkan mulutnya walaupun belum bisa bicara. Hanya saja sebelah tangannya masih belum bisa di gerakkan.
"Syukurlah sekarang papa sudah lebih baik, dengan rajin terapi pasti papa akan sembuh Dion yakin itu pah." ucap Dion seraya memeluk tubuh sang papa.
Sudah dua hari Dion tak bisa menghubungi Frans, kalau Tania sejak kejadian hari itu Dion memang sudah tak pernah bisa menghubunginya lagi, bahkan saat ia bertanya pada Frans apakah Tania ada di villa, Frans mengatakan kalau Tania tak pernah kembali. Dion mengira Tania sudah pergi meninggalkan sang papa. "Ah sudahlah biarkan saja." pikir Dion waktu itu.
Pak Samsul yang ia suruh kembali ke villa pun sudah dua hari tak kembali lagi ke rumah sakit. Bahkan bik Imah pun tak meneleponya lagi untuk bertanya mau makan apa, seperti yang bik Imah lakukan biasanya, bila pak Samsul kembali ke villa untuk mengurus pakaian Dion. "Apa yang terjadi dengan pak Samsul, kenapa semua orang tidak bisa ku hubungi secara bersamaan?" lirih Dion seorang diri. Rasanya banyak kali tanda tanya di kepalanya dengan semua kejadian ini.
Dion bingung kenapa semua orang tak bisa ia hubungi secara bersamaan. Bahkan sudah seminggu Frans tidak memberikan laporan keuangan villa padanya. Dan justru sekarang di hubungi pun tak bisa. Sebelumnya Frans masih mengirim laporan keuangan secara rutin. Frans memang orang yang di percaya Dion untuk bertanggung jawab pada keuangan villa itu selama dia di rumah sakit.
Tapi soal uang Dion tidak menerima uang dari villa itu. uang itu di simpan di brankas khusus villa. Dion akan meminta Frans mengirimkan ke rekeningnya jika ia perlu. Dan hari ini Dion berniat membawa Rian pulang karena kondisinya sudah membaik, berlama-lama di rumah sakit pun tidak baik untuk kesehatannya.
"Sabar ya pah, sebentar lagi kita pulang."
Dion terus menghubungi Frans tapi panggilanya terus gagal, padahal Dion berniat meminta Frans, mentransferkan sejumlah uang untuk membayar biaya rumah sakit Rian, sebelum mereka meninggalkan rumah sakit itu.
"Sial!!! kenapa dari kemarin dia tak bisa di hubungi?" monolognya saat panggilannya gagal menghubungi Frans.
Dion mencoba menghubungi pak Samsul, hasilnya sama no pak Samsul pun tak bisa di hubungi. Dion pasrah, ia membuka dompetnya hanya ada beberapa lembar uang ratusan ribu, "Bagaimana aku membayar biaya rumah sakit ini, uang di kartu atm ku pun tidak seberapa."
__ADS_1
Dion menghela nafasnya, ia duduk di sofa menatap papanya.
Bersambung....