DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
MENEMUKAN BRANKAS


__ADS_3

**Flashback off**


Tania...


Malam itu Tania mencari-cari kotak brankas yang biasa Rian gunakan untuk menyimpan semua surat-surat penting dan aset-aset berharga miliknya. Biasanya Rian menyimpan brankas itu di ruang kerjanya tapi malam itu, malam di mana Dion sedang asyik menghadiri ulang tahun ibunda Luna, disitulah Tania beraksi. Tania tak menemukan brankas itu. Lalu Tania menemui Rian di kamarnya. Tania mencoba menanyakannya pada Rian. Ia menyuruh Rian menunjukan dengan cara menunjuk nama-nama ruangan yang sudah Tania tulis di sebuah kertas. Rian sempat menolak tapi Tania terus memaksanya.


"Dimana kamu simpan brankas itu? cepat tunjukkan!!!" gertak Tania, ia bahkan dengan tega mendorong tubuh kurus itu dari kursi rodanya hingga terjatuh. Suster Rika yang menyaksikan semua itu, tak tinggal diam, ia mencoba membantu Rian. Dan itu membuat Tania murka.


"Heh!!! dasar suster idiot! ngapain kamu bantu dia hah? aku sudah banyak membantumu.seharusnya kamu itu bekerja sama dengan aku!" Tania sangat marah ia menjambak rambut sang suster hingga sampai tercabut beberapa helai rambutnya dan menempel di jari-jari tangan Tania.


"Maaf bu, tapi kasihan bapak." suster Rika mencoba mengangkat Rian sendiri. Tapi lagi-lagi kursi roda itu di dorong oleh Tania lagi sampai Rian jatuh telungkup.


Suster Rika yang polos dan tak tahu apa-apa itu ikut membujuk Rian untuk menunjukkan tempat penyimpanan brankasnya. Suster Rika melalukan itu karena ia takut Tania semakin menghajar tuannya.


"Pak Rian, bapak tunjukkan saja dimana tempatnya." suster Rika menunjukkan kertas itu pada Rian. Tapi Rian tak bergeming ia menatap tajam pada Tania dengan mata cekungnya.


"Bagus!!! bujuk dia!" bentak Tania pada suster Rika.


Usaha Tania tak membuahkan hasil karena Rian tetap saja diam. Lalu dia mendapat ide lain,


"Baiklah Rian, mungkin dengan cara kekerasan ini tak bisa membuatmu kalah mungkin cara ini bisa." desis Tania dalam hati.


"Rian winata!!! baiklah, kalau kamu tidak mau bekerja sama denganku, tidak masalah....tapi kamu siap-siap kehilang anakmu." ucap Tania lantang di telinga Rian.


Rian terperanjat mendengarnya. Baginya sekarang Dion adalah segalanya. Putranya itu jauh lebih penting dari semua hartanya. Ia tahu Tania bisa melakukan apa saja demi mendapatkan hartanya.


"Kamu tahu Rian....apa yang terjadi padamu ini bukan murni kecelakaan..ha ha ha." Tania berbisik di telinga Rian lalu tertawa sinis sambil berjalan mengitari kursi roda suaminya itu.

__ADS_1


Rian terkejut mendengar ucapan Tania, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Rian benar-benar tak habis pikir, Tania bisa melakukan semua itu padanya. Berarti kecurigaan Dion selama ini benar. Tapi sayang sekali nasi sudah menjadi bubur. Dulu dia tidak mempercayai ucapan putranya dan lebih percaya pada Tania. Rian sangat menyesali semuanya.


Bruakkkk!!!!?


Tania menggebrak meja di samping ranjang Rian, hingga membuyarkan lamunannya.


"Cepat katakan!!! atau aku akan suruh orang untuk menghabisi anakmu itu." Tania berkata sambil mencengkeram dagu kurus suaminya sampai terangkat ke atas.


Rian tak menunjuk kertas itu, tapi tangannya menunjuk ke sudut ruangan kamarnya. Disana ada benda kotak seperti nakas yang di tutup kain dan dia atasnya di letakkan botol-botol obat Rian sendiri. Tania menoleh pada Rian dan mengikuti arahan jari suaminya. Tania membuka kain penutup nakas itu dan benar saja...


Tania sontak terkejut, matanya melebar seratus derajat.


"Wawww....ini dia," Tania tersenyum dan mengelus-elus benda itu dengan lembut.


Rian memang telah memindahkan brankas itu malam sebelum ia mengalami kecelakaan. Semua tanpa di sengaja. Ia memindahkan brankas itu dari ruang kerjanya karena ia berencana akan menyuruh orang merenovasi ruang kerjanya setelah ia kembali dari urusannya waktu itu bersama Bobi. Tapi takdir berkata lain, ia mengalami kecelakaan dan menjadi lumpuh. Lalu ruangan ini justru menjadi kamarnya bersama suster yang merawatnya.


"Binatang!!!" umpat Tania saat ia berkali-kali gagal membuka brankas itu.


"Kenapa kamu mengganti kodenya?? dasar tua bangka!!! Tania mendekati Rian dan mengguncang tubuh kurus yang hanya tinggal tulang berbalut kulit itu.


"Berapa kodenya? berapa kodenyaaa!!?" Tania terus mengguncang tubuh Rian. Rian tidak bisa memberi tahu apapun padanya. Tubuhnya semakin lemah.


Suster Rika menahan tangan Tania yang terus mengguncang tubuh Rian. Melihat suster Rika memegang lengannya Tania murka. Di tariknya suster Rika lalu...


Plak...plak...


Dua kali tamparan mendarat di pipi sang suster hingga menciptakan warna merah di kedua pipinya. Suster Rika memegang kedua pipinya menahan perih. Hingga tiba-tiba ia melihat tubuh tuannya bergetar lalu

__ADS_1


brugggk...


Tubuh Rian ambruk di kursi roda. Tubuhnya melemah, kepalanya tergeletak di sisi kursi roda. Sontak suster Rika berdiri dan mengguncang tubuh Rian pelan.


"Bapak...pak Rian..bangun pak.'' suster Rika terus membangunkan Rian sambil terisak. Air matanya tak bisa ia bendung lagi. Tania yang menyaksikan suaminya tak berdaya ia mendekati suster Rika dan berkata, "tutup mulut mu!!! kalau kamu tidak mau celaka!!"


Setelah berhasil mengancam suster Rika, Tania segera bergegas ke kamarnya. Meninggalkan sang suami yang sudah tak berdaya dan sang suster yang sangat panik.


Suster Rika terus berusaha menyadarkan Rian. Ia mengoles-oleskan sejenis minyak penghangat tubuh ke hidung tuannya. Tapi sedikitpun Rian tidak ada menunjukkan tanda-tanda kesadarannya kembali.


Di tengah-tengah kekalutannya suster Rika masih berusaha sekuat tenaga memindahkan tubuh Rian ke ranjangnya. Di gesernya tubuh kurus itu perlahan dan sangat hati-hati. Setelah posisi Rian terbaring di ranjang, diselimutinya tubuh itu.


Suster Rika masih berusaha mengembalikan kesadaran Rian dengan segala cara. Tapi Rian sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Suster rika sangat bingung dan panik. Hingga akhirnya ia menyerah. Ia takut Rian kehilangan nyawanya kalau dia tidak melakukan apapun.


"Ya Tuhan....bagaimana ini?" suster Rika bergumam sendiri, ia tampak mondar-mandir dalam kamar itu.


"Apa aku beri tahu mas Dion saja? lalu bagaimana kalau mas Dion bertanya macam-macam? kalau aku memberitahu yang sebenarnya.....hiiii" suster Rika bergidik ngeri membayangkan Tania yang akan menyiksanya jika ia buka suara.


"Pak....ayo pak bangun, maaf saya tidak bisa menolong bapak dari perbuatan ibu...." suster Rika berkata lirih sambil mengguncang tubuh Rian dengan pelan.


Merasa tak menemukan jalan keluar dan semakin panik dengan kondisi tuannya, suster Rika bangkit lalu berlari menuju kamar Dion.


"Mas...mas Dion, mas..." suster Rika menggedor-gedor pintu kamar Dion.


Dion membuka pintu kamarnya, dan suster Rika langsung bicara dengan panik, "bapak mas, bapak pingsan!"


ucap suster Rika terengah-engah.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2