DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
TANIA BERHASIL


__ADS_3

Sekian lama suster Erika memperlambat kerjanya, demi mengharap sang tuan muda datang menyusulnya dan ia akan memberitahukan kebenaran padanya. Hingga beberapa menit kemudian suara teriakan membuyarkan angannya.


"Suster Erikaaaaaa....!" Tania berteriak kencang di belakangnya hingga suster Rika hampir meloncat di buatnya.


" Ik....i....iya bu." jawab nya gugup.


"Dasar idiot kamu ya!! kenapa lama sekali?"


"Sa....saya, saya...." suster Rika masih gugup dan ketakutan pada Tania yang datang tiba-tiba.


"Saya....saya....saya apa!!! gertak Tania kembali. Dan suster Rika hanya menunduk tak berani menatapnya, suster Rika sudah kehilangan kekuatannya untuk menghadapi Tania.


"Masuk kamu!!! dan jangan macam-macam! mana handpone Dion??" ancam Tania.


Suster Rika memberikan handpone Dion pada Tania.


*Pov Dion*


Setelah suster Rika keluar untuk mengambil handpone Dion, Tania dan Dion terlibat pembicaraan yang serius.


"Kondisi papa semakin memburuk, ini tidak bisa di biarkan Tania...." ucap Dion.


"Lalu, apa rencana mu?" tanya Tania.


"Jika di rumah sakit ini tidak memberikan perubahan pada papa, aku akan membawa papa berobat ke Jakarta."


"Rencana yang bagus." jawab Tania asal. Di dalam hatinya ia berkata, "kau memang akan segera pergi dari sini Dion!!! tetutama dari villa yang sebentar lagi menjadi milikku."


"Kemana suster Rika, kenapa lama sekali....?"


"Sebentar biar aku panggil, kamu disini saja." kata Tania lalu berdiri dan berjalan ke luar ruangan. Hingga teriakanya yang kemudian membuyarkan harapan sang suster.


****


Tania berjalan masuk ke ruangan Rian dan di ikuti oleh suster Rika di belakang. Lalu Tania menyerahkan handpone pada Dion.


"Ini..." ucap Tania sambil tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih Tania, kenapa lama sekali sus?" Dion menerima ponselnya dari tangan Tania, lalu pandangannya beralih ke suster Rika, dan kemudian bertanya padanya.


"Saya lupa mengecasnya di mana mas." jawab suster Rika berbohong.


"Oh iya, tidak apa-apa."


"Maaf mas," suster Rika menundukkan wajahnya.


"Dion....pulanglah dengan pak Samsul, selesaikan urusanmu di villa kemudian baru kembali kesini, biar aku dan suster Rika yang menjaga papa." ucap Tania meyakinkan Dion.


"Baiklah kalau begitu, aku titip papa ya." kata Dion sambil merangkul pundak Tania.


"Oke..." jawab Tania dengan senang hati.


Dion melangkah pergi meninggalkan ruangan Rian. Ia mencari keberadaan pak Samsul. Setelah tiba di parkiran rumah sakit, Dion melihat pak Samsul lalu memanggilnya, "pak....pak Samsul...."


"Iya mas, saya." pak Samsul berlari kecil menghampiri Dion.


"Ada apa mas?" tanya pak Samsul begitu sampai di hadapan tuan mudanya itu.


"Ayo pak, antar saya kembali ke villa." jawab Dion.


"Oke pak, saya kesana dulu."


Pak Samsul bergegas masuk ke dalam mobil, dan memutar mobil agar keluar dari parkiran. Begitu Sampai di depan Dion, ia hendak turun untuk membukakan pintu untuk Dion. Tetapi sang tuan muda yang baik hati itu melarangnya, dengan gerakan tangan menyetop, ia menyuruh pak Samsul agar tetap duduk di dalam saja. Lalu Dion membuka pintunya sendiri dan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju menuju villa.


Dari balik pintu lobby rumah sakit itu Tania mengamati mobil yang membawa Dion sudah meninggalkan halaman rumah sakit. Tania tersenyum licik, lalu ia kembali berjalan menuju ruangan Rian.


Sesampainya di dalam ruangan Rian, Tania menatap suster Rika yang duduk diam di sudut ruangan.


"Heh bodoh!!! apa yang kamu lakukan disitu."


"Maaf bu, ada yang bisa saya bantu?" suster Rika berjalan mendekat ke arah Tania.


"Erika Larasati, aku ingatkan sekali lagi, kamu mempunyai hutang seratus juta dengan saya, dan satu lagi dengan bunga yang ku berikan setiap bulan maka hutangmu makin bertambah! kamu mau aku jebloskan ke penjara???" tangan Tania bersidekap, ia berjalan memutari suster Rika dengan angkuhnya.


"Jangan bu, maafkan saya....saya akan menuruti semua perintah ibu." mendengar kata penjara membuat suster Rika bergidik ngeri, ia mengiba, memohon pada Tania.

__ADS_1


"Makanya, kamu itu jangan macam-macam. ikuti perintah saya jangan melawan!!" Tania menyentuh kening suster Rika dengan telunjuknya sampai kepala sang suster mendongak ke atas. Tania duduk di sofa ruangan itu tangannya memainkan gawainya dan suster Tania ia merapikan barang-barang di laci nakas di samping ranjang Rian.


"Sus....kemari." perintah Tania.


"Iya bu ada apa?" suster Rika menghampiri Tania.


"Kamu tolong belikan saya nasi di restorant xxx ini, saya suka makan disini." kata Tania lalu ia membuka dompet dan mengeluarkan uang lima ratus ribu.


"Dimana ini restorantnya bu? apakah jauh dari sini?" suster Rika bertanya dengan polos.


"Kamu naik taxi aja dari depan rumah sakit ini, kamu tanya saja sama supir taxi, mereka tahu tempatnya."


"Ohh....iya bu." suster Rika tak kunjung pergi, sehingga membuat Tania murka.


"Hei, gadis idiot! cepat lah kamu pergi, kamu mau bikin saya kelaparan hah!" bentak Tania.


Dengan langkah gontai suster Rika keluar ruangan Rian. Ada perasaan berat meninggalkan Rian. Ia takut Tania berbuat yang tidak-tidak pada sang tuan.


Setelah berada di luar rumah sakit, di bibir jalan itu suster Rika menyetop taxi. Lalu ia masuk ke dalam taxi dan berkata, "ke restorant xxx ya pak."


"Oh, baik non."


"Apakah restoranya jauh dari sini pak?"


"Iya non jauh, sekitar tiga puluh menit kita baru akan sampai."


"Oh, iya ya pak, tapi kok majikan saya menyuruh saya membelikan nasi di situ?"


"Mungkin majikan non lagi nyidam, menu di restorant itu memang enak banget non, tak ada lawan."


Suster Rika manggut-manggut mendengar penjelasan si supir taxi. Bahkan dalam hatinya berkata, "apa benar ya ibu lagi hamil? makanya bawaannya begitu emosian. Tapi hamil dengan siapa sedangkan bapak sudah tiga bulan sakit tak berdaya begitu, hiiii." suster Erika merasa ngeri karena ia jadi seudzon sendiri pada Tania. Mobil pun terus melaju menuju restorant.


Sementara itu Tania yang berada dalam ruangan Rian, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emasnya. Dengan sigap ia mengambil semua berkas-berkas yang sudah di siapkanya dari villa sebelum ia kemari. Di keluarkanya semua peralatannya. Kemudian dengan hati-hati ia mulai menempelkan ibu jari Rian ke tinta lalu menempelkanya pada berkas. Dia ulang-ulang seperti itu terus sampai akhirnya semua berkas sudah tertempel cap jempol Rian. Tania tertawa puas, "ha...ha...ha...akhirnya aku berhasil!"


Sementara suster Rika, dia telah tiba di testorant. Lalu ia segera memesan apa yang di inginkan Tania. Suster Rika menunggu pesananya di siapkan ia terdiam dan melamun. "Apakah mungkin ibu sengaja mengecohkan aku, dengan sengaja menyuruhku membeli makanan sejauh ini?" monolognya dalam hati.


Dan Tania, setelah semua urusannya selesai ia akan segera memasukkan semua berkas dan barang-barangnya ke dalam tas. Saat belum semuanya masuk, tiba-tiba ia di kejutkan oleh suara Dion.

__ADS_1


"Aku datang...."


Bersambung....


__ADS_2