
Pintu terbuka dan buammmmmm.... kepala botak nongol di ambang pintu.😁😁😁
"Nya , nyonya saya di suruh mengambilkan pakaian ganti untuk mas Dion, tapi tadi waktu di rumah sakit saya lupa meminta kunci kamarnya." kata si botak yang ternyata adalah pak Samsul sang supir pribadi yang berperawakan pendek, gembul, dan kepalanya botak.
"Heh....Samsul,!!! kamu sudah gila ya?? mengagetkan orang saja!!" gertak Tania yang terlihat sangat geram dengan apa yang barusan membuatnya sport jantung.
"Maaf nyonya, tadi saya sudah ketok-ketok pintu tapi nyonya nggak buka pintu jadi saya pikir tidak ada orang di kamar, makanya saya putar-putar hadel pintunya untuk memastikan." kata pak Samsul menjelaskan, karena ia takut kena marah sama Tania.
"Jadi gimana ini nyonya?" pak Samsul kelihatan bingung.
"Pergi kamu dari sini!" bentak Tania.
"Terus ini bagaimana nyonya?"
"kamu telepon dia dan tanyakan padanya!"
"Pergi dari sini sekarangggg!!!" Tania berteriak lebih kencang membuat pak Samsul ketakutan dan lari dengan cepat meninggalkan mereka.
"Baik nyonyaa" jawab pak Samsul sambil berlari.
"Sialan!!! huh, dasar botak! bikin orang terkejut aja."
"Tan, gue balik dulu ya, elo urus deh itu si botak." Evelin pun pergi meninggalkan Tania.
"Sebaiknya aku mandi dan bersiap-siap ikut pak Samsul ke rumah sakit." gumam Tania sendiri.
Tania telah rapi, ia ke dapur lalu duduk di meja makan, bik Imah telah menyiapkan makan untuknya. Setelah menghabiskan makanannya, Tania menyuruh bik Imah memanggi pak Samsul.
"Bik, tolong panggilkan pak Samsul suruh kesini."
"Baik nyonya, tunggu sebentar, saya panggil pak Samsul sekarang...." bik Imah pun pergi mencari keberadaan pak Samsul.
"Di mana.....lah si Samsul ini? selalu susah kalau di cari." monolog nya. Hingga akhirnya bik Imah melihat pak Samsul ada di pos jaga lagi ngobrol dengan beberapa security.
"Sul....Samsul...kamu ini kalau di cari susah banget." bi Imah melambai-lambaikan tangannya ke arah pak Samsul. Pak Samsul menghampiri bik Imah, "ada apa sih bik...?"
"Kamu itu di cari nyonya!"
"Alamaaaak!!! mau di apain aku sama nyonya bik hiiii..." pak Samsul bergidik ngeri membayangkan bakal di marahi Tania.
"Mau di masak kepalamu ha..ha.." bik Imah mencandai pak Samsul.
__ADS_1
"Sejak kapan nyonya jadi kanibal bik?"
"Sejak kepalamu botak...."
"ha...ha...ha..." mereka berjalan beriringan menuju dapur sambil terus bercanda.
"Sssshhhh....udah diem jaga mulut kamu nanti nyonya dengar." ucap bim Imah ketika mereka hampir sampai ke dapur.
"Saya nyonya, ada yang bisa saya bantu nyonya? kata pak Samsul di hadapan Tania.
"Pak, kamu sudah telepon Dion?" tanya Tania.
"Sudah nyonya, tapi handpone mas Dion tidak bisa di hubungi."
"Oh, mungkin handpone nya lowbet."
"Jadi gimana ya nyonya saya jadi bingung."
"Udah nggak usah bingung, kita kembali ke rumah sakit aja sekarang. Nanti saya yang nungguin bapak kesana biar Dion pulang sebentar."
"Oh, kalau begitu saya siapkan mobil dulu ya nyonya."
Tania masuk ke dalam kamarnya dan mengambil beberapa berkas penting, berkas yang sudah lama ia siapkan bersama pengacaranya yang tak lain adalah teman Bobi.
Berkas itu ialah berkas yang ia buat sedemikian rupa, yang berisi soal pengalihan kepemilikan seluruh aset berharga milik Rian. Baik itu villa, kebun teh, mobil-mobil mewah dan kebun-kebun serta tanah yang dimiliki Rian. Bersama pengacaranya Tania telah bekerja sama membuat surat pengalihan kepemilikan. Dan sekarang surat-surat aslinya dia sudah dapatkan. Tinggal satu langkah lagi untuk mendapatkan semuanya. Tinggal membubuhkan cap jempol Rian karena ia sedang sakit tentunya tak bisa menanda tangani berkas itu.Setelah sidik jari Rian menempel di atas berkas-berkas itu maka semuanya akan berubah. Tania tersenyum membayangkan semua itu.
"Ayo pak, jalan." perintah Tania saat dirinya sudah berada di dalam mobil.
"Baik bu," pak Samsul pun melajukan mobil yang mereka tumpangi.
Setelah satu jam perjalanan mereka tiba di rumah sakit.
"Dion, gimana kondisi papa?" Tania menghampiri dan memeluk Dion.
"Belum ada perubahan." ucap Dion lirih.
"Semoga papa cepat pulih." ucap Tania lagi.
"Iya Tania, semoga saja."
"Tadi pagi, aku pulang karena aku meninggalkan obatku di villa."
__ADS_1
"Tidak apa-apa."
"Oh ya Dion, tadi pak Samsul menghubungimu, aku yang menyuruhnya tapi kenapa handpone mu tidak bisa di hubungi?"
Dion merogoh saku celananya dan mengambil gawainya. Dan ia baru sadar rupanya ponselnya mati. Dion menunjukkannya pada Tania.
"Ya sudah kamu suruh suster Rika isi daya bateraimu dulu."
"Sus...tolong isikan daya baterai handpone ini dulu." kata Dion seraya menyerahkan ponselnya pada suster Rika.
"Iya mas...."
"Dion, kami tidak membawakan pakaianmu, karena tadi pak Samsul lupa meminta kunci kamarmu. Itulah sebabnya aku menyuruhnya untuk menghubungimu tadi."
"Oh....iya." Dion menepuk keningnya pelan.
"Jadi gimana, apa kamu mau pulang saja, biar papa aku yang jaga."
Mendengar ucapan Tania membuat suster Rika merasa was-was. Ia khawatir Tania melakukan sesuatu pada tuannya. Tapi ia pun tak bisa mencegah Tania. Posisi suster Rika benar-benar serba salah. Ia tidak tega pada Rian, kasihan pada Dion tapi ia juga tidak berani melawan Tania, karena dia mempunyai hutang pada Tania.
"Ya sudah, aku pulang sebentar tapi nti setelah papa di pindah ke ruang vip." kata Dion.
Dalam hati Tania berkata, "Oh bagus itu kalau Rian di pindahkan dari icu ke vip, jadi aku lebih leluasa melakukan apa saja."
Sementara suster Rika dia semakin merasa khawatir, "bagaimana ini kalau ibu sampai mencelakai bapak." gumamnya dalam hati.
Dion pergi ke ruang administrasi mengurus semuanya. Kemudian secara khusus Rian di pindahkan ke ruang vip. Tetap dengan seluruh alat bantu yang menempel di tubuhnya.
Dion, suster Rika, dan Tania, mereka semua mengikuti para perawat yang mendorong brankar yang di atasnya terbaring Rian tak berdaya. Rian di pindahkan ke ruang vip dengan tetap menggunakan semua alat medis di tubuhnya yang kurus dan lemah itu.
Setelah semua dokter mengecek Rian dan para perawat pun pergi tinggalah mereka bertiga. Tania memainkan sandiwaranya dan mengeluarkan air mata buayanya demi meyakinkan Dion bahwa dia bisa di percaya untuk menjaga Rian.
"Dion, pulanglah dulu, siapkan semuanya lalu kembali kesini, jangan khawatir aku akan menjaga papa dengan baik."
"Tunggu Tania, aku ingin disini dulu nungguin papa."
"Suster Rika, tolong ambilkan ponselku." perintah Dion pada sang suster.
Suster Rika keluar ruangan untuk mengambil ponsel Dion yang tadi dia isi daya baterai di ruang recepsionis. ia tampak gelisah, ia mondar-mandir sambil mengibas-ibaskan tangannya, "aduh....gimana ini ya, gimana caranya memberitau mas Dion?" lirihnya. Lama ia di luar berharap Dion akan menyusulnya, dan ia akan menceritakan semuanya tak perduli apa yang akan Tania lakukan padanya.
Bersambung...
__ADS_1