DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
KRITIS


__ADS_3

Pagi-pagi sekali keluarga Luna sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Mereka sudah check out dari villa. Saat akan pergi Luna mencari-cari Dion, tapi ia tak menemukannya. "Ah ya sudahlah toh semalam Dion sudah tahu aku akan pulang, lalu kenapa dia tak mau menemuiku pagi ini." ucap Luna dalam hatinya. Ia membantu kakaknya memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil. Untuk apa dirinya pusing memikirkan Dion, toh dia memang bukan orang penting dalam hidupnya Dion. Kenapa dia harus memaksakan Dion untuk perduli atau perhatian padanya, Begitu pikir Luna. Luna dan seluruh keluarganya masuk ke dalam mobil dan Reza mulai menjalankan mobilnya menuju ke Jakarta.


Dion terbangun kesiangan karena acara karaokenya dengan Luna dan keluarganya semalam,setelah masuk kamarnya semalam, Dion tak langsung tidur. Ia termenung membayangkan perlakuan manis Evelin padanya yang tak bisa ia tolak. Tapi jauh di dalam hatinya ada seseorang yang selalu di perhatikannya. Suster Rikalah yang selama ini mencuri perhatiannya.


Lamunan Dion seketika buyar saat ia mendengar seseorang teriak memanggil namanya.


"Mas Dion, mas, mas Dion..."


Suster Rika terengah-engah berlari menuju kamarnya dengan sangat panik.


"Ada apa sus?"


"Bapak mas, bapak pingsan."


"Apa????" Dion segera berlari menuju kamar Rian, di ikuti suster Rika di belakangnya.


"Papah, pah, bangun pah...ayo pah bangun, lihat Dion pah...." Dion mengguncang tubuh kurus sang papa, tapi tak ada respon apapun disana. Dion tampak begitu panik, lalu ia segera menghubungi dokter Ricard, dokter pribadi keluarganya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sang dokter pun sampai. Dan segera memberikan pertolongan pertama untuk Rian. Hingga kemudian dokter itu berkata,


"Mas Dion, kita harus segera membawa pak Rian ke rumah sakit agar bisa mendapatkan perawatan yang lebih intensif."


"Baik dok, saya ikutin saran dokter. Lakukan yang terbaik untuk papa saya dok!!" jawab Dion yang terlihat sangat frustasi.

__ADS_1


"Saya akan menelpon karyawan saya di klinik agar segera membawakan ambulans kemari."


"Silahkan dok."


Dion duduk di samping ranjang sang papa. Ia tak kuasa menahan kesedihannya. Buliran bening tampak jatuh dari kedua netranya. Suster Rika tak tega menyaksikan semua itu. Ia pun ikut larut dalam kesedihan orang yang selama ini diam-diam ia kagumi. Suster Rika mendekati Dion, Ia menadap sendu majikannya itu.


"Sabar mas, mas Dion harus kuat. Saya yakin bapak akan pulih seperti semula." ucap suster Rika dengan lirih.


Dion meraih tangan sang suster dalam genggamannya, "Makasih ya sus."


Suster Rika pun tak kuasa membendung air matanya, ia begitu larut dalam kesediahan sang tuan muda itu.


Jangan kita lewatkan Tania. Sang ibu tiri pun tergopoh-gopoh lari untuk melihat suaminya yang lagi sekarat itu. Meskipun dalam hatinya ada rasa puas karena usahanya sudah membuahkan sedikit hasil. Tapi juga ada rasa panik yang menghinggapinya, ia takut jika suaminya mati sebelum semua harta berpindah tangan padanya. Ia harus segera mencari akal.


"Ayo dok, cepat selamatkan suami saya..." mohon Tania pada dokter Ricard.


*Miu...miu...miu....* suara ambulans memasuki halaman villa.


Beberapa pria berpakaian serba putih segera turun dari mobil ambulans itu. Mereka mendorong brankar menuju ruangan Rian, Lalu dengan cekatan pula mereka memindahkan Rian dari tempat tidurnya ke atas brankar itu. Lalu memasukkannya ke dalam mobil ambulas itu. Tania, Dion, dan suster Rika tampak buru-buru mengikuti mereka. Tapi mereka tak bisa ikut masuk ke dalam mobil ambulans, karena sudah ada beberapa perawat disana. Hanya Dion yang ikut dalam mobil ambulans itu. Suster Rika dan Tania mereka mengikuti mobil itu dari belakang, dengan pak Samsul yang menyetir mobil yang mereka tumpangi.


Dalam perjalanannya Tania terus menatap sinis suster Rika yang terus menangis. Ia merasa sia-sia saja membayar mahal suster Rika. Ia pun merasa suster Rika tak berguna karena tak bisa mendukungnya, Dan tak bisa berada di pihaknya.


"hhhhhmmmm" Tania menarik nafas untuk melepaskan kekesalannya. Ingin rasanya ia menjambak rambut sustet itu, tapi ia tak bisa melakukan apapun karena ada pak Samsul dalam mobil itu, yang bisa aja jadi curiga. Tapi Tania berpikir setidaknya kalau ada apa-apa dengan Rian dan dokter tahu obat nya telah di tukar, suster Rikalah orang pertama yang akan ia jadikan kambing hitam. Tania bisa aja mengatakan kalau suster Rika dendam padanya karena sering memarahinya dan juga ia bisa mengatakan kalau suster Rika sudah bosan merawat suaminya dan ingin terbebas dari hutangnya.

__ADS_1


"Hemmm....ide yang bagus." Tanpa di sadarinya tiba-tiba Tania bergumam sediri saat ia sedang memikirkan suster Rika. Hingga pak Samsul dan suster Rika pun spontan menoleh ke arahnya. Tania menjadi salah tingkah karena ulahnya sendiri, hingga tanpa sadar ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"ouwgh, ide yang bagus segera membawa papa ke rumah sakit, semoga papa cepat sadar" lirihnya kemudian untuk mengelabuhi suster Rika dan pak Samsul.


Mobil ambulans yang membawa Rian menepi di sebuah rumah sakit besar dan ternama di kota itu.Di ikuti mobil yang membawa Tania dan suster Rika. Para perawat tampak sibuk mengeluarkan Rian dari dalam ambulans dan membawanya masuk ke ruangan IGD. Dion terus mengikuti kemana sang papa di bawa, begitupun suster Erika dan Tania.


Setelah Rian mendapatkan pelayanan darurat di IGD, Dion pun segera mengurus administrasi sang papa, karena akan segara di pindahkan ke ruang icu.


Beberapa perawat dan dokter tampak membawa Rian memasuki ruang icu. Di ruangan itu seorang dokter terlihat sedang melakukan CPR terhadap Rian.


"satu, dua, tiga...satu, dua, tiga...satu, dua, tiga..." dokter itu menekan-nekan dada Rian dengan gerakan yang sama. Tak berapa lama kemudian tampak dada Rian naik turun yang menandakan ia mulai bernafas. Setelah itu dokter memerintahka para perawat untuk memasang semua peralatan medis yang harus di pasangkan di tubuh Rian, dari mulai selang oksigen dan lainya.



Dokter terlihat memasang alat rekam jantung pada tubuh Rian. Disana, di layar monitor itu terlihat grafik yang seperti nada musik.


Tidak ada yang di perbolehkan masuk di ruangan itu. Kecuali dokter dan para perawat khusus. Dion terlihat begitu gelisah menunggu di luar ruangan icu. Ia terus mondar-mandir tak jelas. Suster Rika menghampirinya, lalu memberikanya sebotol air mineral.


"Mas, ini minum dulu...Jangan panik mas, berdoa semoga bapak cepat sadar dan segera pulih kembali."


"Terimakasih sus" ucap Dion, ia menerima botol air itu dari suster Rika dan saat suster Rika memberikanya Dion pun menggenggam tangan sang suster yang memegang botol itu.


Suster Rika mendongakkan kepalanya menatap Dion dengan sendu. Darahnya berdesir saat jari tangannya bersentuhan dengan jari tangan Dion. Tapi ia tahu ini bukan waktunya untuk mengekspresikan perasaannya.Karena kondisi Rian yang sedang kritis.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2