DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
Cemburu


__ADS_3

Dion menempati satu kamar bersama sang papa. Dan satu kamar lagi di tempati oleh suster Rika. Suster Rika sedikit cemburu jika mengingat Evelin pernah mencium Dion dengan mesra. Menurutnya Evelin menyukai Dion. Ia hanya bisa pasrah bila akhirnya Dion akan menjalin hubungan khusus dengan Evelin.


Suster Rika sudah selesai membersihkan tubuh Rian dan mengganti bajunya.


"Mas, saya ke kamar dulu ya." dengan sopan ia permisi pada Dion.


Dion mengangguk, membiarkan suster Rika keluar.


Danu di dalam rumah utamanya, menyuruh beberapa orang pelayannya menyiapkan makan malam yang special untuk tamunya, yaitu Dion dan papanya.


Sebenarnya Danu ingin menempatkan mereka di rumah utama bersama keluarganya. Tapi ia takut itu akan membuat Dion merasa canggung dan tidak nyaman. Itulah sebabnya ia memilih mereka menempati paviliun saja.


Danu sudah menelepon putrinya untuk cepat pulang dan makan malam bersama. Dia mengatakan ada tamu istimewa di rumahnya. Tapi ia tak mengatakan bahwa tamu itu adalah Dion.


Evelin yang berada di butiknya pun siap-siap pulang karena hari sudah sore. Dan ayahnya sudah meneleponnya untuk pulang, ia pun tidak berniat untuk singgah ke mana-mana lagi seperti biasanya.


Setelah menyuruh karyawannya menutup butiknya, Evelin bergegas pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah ia di sambut hangat oleh kedua orang tuanya.


"Sayang, mandi dan bersiap-siaplah, sebentar lagi kita makan malam bersama." ucap sang mama pada Evelin.


"Siapa sih ma, tamu istimewa yang di bilang papa?" Evelin bertanya dengan antusias.


"Adalah, nanti juga kamu tahu." jawab sang mama.


Evelin pun masuk ke dalam kamarnya, ia mandi lalu kemudian menghias wajahnya dengan riasan yang tidak terlalu tebal. Ia memakai pakaian rumahan celana pendek dan kaus biasa, kakinya yang jenjang tampak putih dan mulus. Wajah Evelin memang sangat cantik di tambah matanya yang sipit membuatnya semakin menarik.


Evelin dan sang mama sudah siap di meja makan, Danu akan memanggil Dion dan Rian di paviliun mereka.


"Sebentar papa panggil tamu kita dulu.". kata Danu.


Danu telah berdiri di dapan pintu utama paviliun itu, Lalu ia mengetuknya.


Tok....tok....tok....


Pintu di buka oleh suster Rika, suster Rika menundukkan wajahnya dan memberi salam pada Danu.


"Selamat malam tuan,"

__ADS_1


"Iya, dimana Tuanmu? bisa kamu panggilkan!" perintah Danu pada suster Rika.


"Silahkan tuan duduk dulu saya panggilkan mas Dion."


"Hem, iya....,". Danu pun masuk lalu duduk di ruang tamu.


Suster Rika ke belakang lalu mengetuk kamar Dion.


Tok....tok..., dua kali ketukan saja Dion langsung membuka pintu.


"Ada tuan Danu mas, di depan." suster rika langsung memberitahu Dion.


"Oh iya, aku akan segera keluar."


Suster Rika mengangguk lalu berlalu dari hadapan Dion.


Dion membawa papanya menemui Danu.


"Ayo pah kita ketemu om Danu." Dion berkata sambil mendorong kursi roda papanya.


"Om, sudah lama menunggu?" ucap Dion setelah sampai di depan Danu.


"Tidak usah repot-repot om,"


"Ini tidak merepotkan Dion, Kami memang biasa melakukan ini, dulu jika kami datang ke villa, papamu akan menyambut kami dengan sangat meriah. Begitu pun sebaliknya jika dulu papamu sering kemari, bukankah begitu Rian?" Danu tersenyum melihat ke arah sahabatnya.


"I, iya." jawab Rian pelan.


"Wow, hebat temanku, kamu sudah mulai bisa bicara, ayo semangat kamu pasti akan sembuh." Danu menyemangati sahabatnya.


Mereka berjalan beriringan menuju rumah utama. Danu mendorong kursi roda Rian. Danu menoleh kebelakang lalu berkata pada Dion, "Ah, dion! kamu bisa mengajak pelayanmu sekalian, mungkin Rian akan mrmbutuhkannya nanti."


Degggg! jantung Dion berdetak sekali, tapi terasa cukup sakit. Ada rasa sakit saat Danu mengatakan pelayan pada kekasihnya. Tapi kenyataannya memang seperti itu, bahwa suster Rika ada suster sekaligus pelayan papanya.


"Iya om." sahut Dion, kemudian ia menoleh pada suster Rika yang terlihat menutupi kesedihannya.


Suster Rika mengangguk dan tersenyum. Lalu berjalan di belakang mereka.


Mereka tiba di ruang makan keluarga Danu. Ruang makan mewah bernuansa emas, dengan meja makan yang terbuat dari jati dan di atasnya kaca berbentuk oval memanjang dengan ukiran berwarna emas.

__ADS_1


Evelin terperanjat melihat siapa yang datang. Ia bangkit dari duduknya.


"Dion???" seru Evelin heran.


"Iya sayang, tamu istimewa kita adalah Dion dan om Rian."


"Om....," dengan takut-takut Evelin menyalami Rian.


"Huh, untung saja saat aku membantu Tania menjalankan aksinya, om Rian tidak pernah tahu, kalau saja ia tahu bisa repot urusannya." ucap Evelin dalam hati.


"Mari kita makan dulu, nanti baru kita cerita." ajak Danu pada mereka semua yang ada di meja makan.


Mereka semua menikmati makanan di piringnya masing-masing. Suster Rika menyuapi Rian yang sudah bisa makan langsung tanpa selang lagi.


Sesekali Dion mencuri pandang pada suster Rika. Dion merasa kasihan padanya, "Rika pasti sangat lapar, dari pagi dia belum makan." lirih Dion dalam hati.


Setelah selesai makan, Dion mengajak Danu dan yang lain untuk ngobrol di depan rumahnya.


"Om, bisakah kita ngobrol di teras saja biar lebih santai."


"Tentu saja Dion, ayo kita ke depan."


"Iya om, oh iya, bolehkah suster Rika makan dulu, kasihan dari pagi dia belum makan, saya takut dia sakit lalu bagaimana dia akan mengurus papa." Dion mencari alasan agar suster Rika bisa makan.


"Oh iya silahkan, makan saja bersama pembantu yang lain." ucap Danu yang membuat muka Dion berubah sendu seketika. Ia selalu sedih setiap orang yang memandang kekasihnya layaknya pembantu.


Evelin menggandeng tangan Dion, ia terlihat santai walau kepalanya di penuhi banyak pertanyaan tentang apa yang terjadi pada Dion dan papanya dan juga tentang apa yang sudah dilakukan Tania. Ia menutupi semuanya dengan bersikap biasa aja. Dia nggak mau bertanya macam-macam takut Dion curiga padanya.


Danu mendorong kursi roda Rian, dan Dion berjalan bergandengan denga Evelin. Pemandangan yang membuat hati suster Rika bergetar, ia merasa cemburu. Tapi ia pasrah.


Setelah kepergian mereka, suster Rika membantu para pelayan Danu membereskan meja makan. Setelah itu suster Rika pun makan bersama mereka. Air matanya menetes setiap kali ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Suster Rika sedih memikirkan masib mereka kedepannya. Bagaimana dengan Dion dan ayahnya, bagaimana hubungannya dengan Dion, lalu bagaimana juga dia menafkahi keluarganya, bagaimana dengan pengobatan ibunya? selama ini Tania lah yang memberikan gaji besar padanya. Lalu bagaimana nanti siapa yang akan menggajinya.


Suster Rika bingung dengan situasi ini. Ia juga tak tega kalau harus meninggalkan Dion dalam keadaan seperti ini. Apalagi ia sudah menjadi kelasih Dion sejak di rumah sakit itu. Dia juga sedih orang-orang selalu memandangnya sebagai pelayan, walau kenyataannya memang begitu. Apalagi melihat Evelin yang menggandeng Dion dengan mesra. Rasa cemburu menguasainya. Hatinya terasa sakit.


Makan malam dua keluarga ini seperti perjodohan untuk Dion dan Evelin saja. Mereka begitu baik pada Dion dan papanya. Danu juga sangat menyayangi Dion. Bisa apa suster Rika jika memang mereka akhirnya di jodohkan.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2