DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI

DI BALIK CINTA SEORANG ISTRI
Berangkat ke Jakarta


__ADS_3

Malam berlalu berganti pagi yang cerah. Dion membuka jendela dan udara segar menyeruak masuk ke dalam kamarnya.


"Selamat pagi pa....," Dion menghampiri papanya baru membuka mata.


"Pagi sayang....," jawab Rian pelan. Semakin hari perkembangan kesehatan Rian memang semakin membaik.


Dion mengulas senyumnya di hadapan sang papa.


"Pah, apa papa udah siap? hari ini kita akan ke Jakarta."


Rian menganggukkan wajahnya perlahan, sebagai tanda persetujuannya atas rencana putranya.


Tok...tok...tok...pintu kamar di ketuk dari luar. Dion langsung bergegas membuka pintu. Dan suster Rika sudah berdiri di ambang pintu.


"Selamat pagi mas Dion, pak Rian..." suster Rika memberi salam pada mereka berdua.


"Pagi sus," jawab Dion singkat.


Sementara Rian ia melihat ke arah suster Rika yang sedang sibuk menyiapkan semua barang yang akan di bawa.


"Sus, saya ingin bicara." Ucap Rian pada suster Rika.


"Oh iya, ada apa pak?" tanya suster Rika.


"Ah, nanti saja, kerjakan saja tugas suster." Rian mengurungkan niatnya untuk menanyakan sesuatu pada suster Rika, padahal pertanyaan ini telah lama ia simpan dan sangat ingin ia tanyakan. Dan karena hal ini pula ia sedikit kurang suka dengan suster Rika.


Dion yang dari tadi memperhatikan mereka jadi penasaran, ia ingin l-jangan tahu sesuatu."


Dion terus memperhatikan suster Rika dengan penuh tanda tanya. Hingga lamunannya membuyar saat mendengar pintu yang di ketuk dari luar.


Tok....tok....tok....


Dion beranjak dari tempatnya. Ia berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.


Ceklek. Pintu terbuka.


Evelin berdiri di ambang pintu dengan semangkok bubur di tangannya.


"Hai, good mornig," sapanya pada Dion.


"Good morning Eve."


"Apakah om Rian sudah bagun?"


"Sudah, suster Rika sedang menyiapkannya."

__ADS_1


"Oh, aku tunggu disini saja," Evelin meletakkan mangkok di atas meja lalu duduk di ruang tamu.


"Ada apa Eve?"


"Enggak, aku hanya ingin mengajak om Rian jalan di taman rumah aja, sambil menyuapinya bubur. Sebelum kalian berangkat nanti ijinkan aku berbakti pada om Rian, karena beliau seperti saudara bagi papaku."


"Silahkan Eve, justru aku sangat senang kalau kamu begitu perhatian dengan papa."


Suster Rika mendorong kursi roda Rian keluar kamar. Di atas kursi roda, duduklah Rian yang telah rapi. Suster Rika terkejut melihat Evelin sudah berada di ruangan itu bersama Dion. Apalagi mereka terlihat begitu akrab.


Evelin berdiri dan meraih kursi roda Rian. Lalu menggantikan suster Rika mendorong kursi roda itu.


"Sus, tolong bawakan buburnya," perintah Evelin pada suster Rika.


Suster Rika mengangguk lalu mengambil mangkok bubur itu dan berjalan mengikuti Evelin.


Sebelum pergi Evelin menoleh pada Dion dan berkata, "Dion, sarapanmu sudah siap, tadi aku sendiri yang membuatnya untukmu. Sebentar lagi pelayan akan mengantarnya kesini, tadi aku tidak bisa membawanya sekalian."


"Tidak perlu repot-repot Eve, kamu baik sekali, aku pasti memakan sarapan buatanmu." Dion tersenyum menatap mereka.


Suster Rika menyuapkan bubur ke mulur Rian.


"Om, gimana buburnya? enak?"


"Sangat enak, terimakasih nak," jawab Rian, ia sekarang sudah mulai lancar bicara.


Evelin pamit kembali ke rumahnya, Setelah ini ia ingin menjumpai Tania di villa. Semalam ia sudah mengatur rencananya ini. Apalagi Bobi yang terus menghubunginya, karena Tania berhenti memfasilitasi dia di dalam penjara.


Sementara di dalam paviliun, Rian sudah di berikan obat oleh suster Rika. Rian pun sudah beristirahat.


Pelayan yang di suruh Evelin mengantar sarapan untuk Dion, ia sudah datang sejak tadi, sejak Evelin membawa Rian jalan-jalan. Tapi Dion belum menyentuh makanan itu sedikitpun. Ia menunggu suster Rika untuk makan bersamanya.


"Pa, papa istirahat dulu, sore nanti kita berangkat."


"Iya nak," jawab Rian.


"Dion sarapan dulu ya pah." kata Dion.


Rian mengangguk.


Dion akan keluar dari kamar Rian, lalu ia memanggil suster Rika yang sedang sibuk merapikan nakas.


"Sus, ayo keluar dulu."


"Iya mas," jawab suster Rika.

__ADS_1


Lalu mereka berjalan beriringan menuju meja makan. Dion mengambil sepiring nasi goreng yang di antar pelayan Evelin. Lalu menyerahkan piring itu pada suster Rika. Suster Rika duduk dan matanya tak berkedip menatap wajah Dion sambil menerima piringnya. Pikirannya teringat ucapan Evelin tadi yang mengatakan dia telah membuat sarapan khusus buat Dion.


"Mas, inikan di buat non Evelin khusus buat mas Dion?"


"Nggak apa-apa, makan saja."


"Mas, aja yang makan aku masih kenyang."


"Kita makan berdua," ucap Dion lalu mengambil piring berisi nasi goreng itu dan menyuapkannya pada suster Rika.


Mata suster Rika berkaca-kaca, ia terharu dengan perlakuan Dion yang begitu manis padanya.


"Makasih ya mas, mas Dion juga harus makan," suster Rika mengambil satu sendok lagi, lalu menyuapkan nasi ke mulut Dion. Dion tersenyum bahagia. Ia merasa setidaknya ia masih punya cinta walaupun sudah kehilangan semua hartanya. Cinta yang bisa menjadi pelipur hatinya di saat ia menghadapi masalah yang begitu berat dalam hidupnya.


Selesai sarapan Dion menyuruh suster Rika segera mengemasi dan menyiapkan segala keperluan mereka.


Dion masuk ke kamar papanya dan bersiap-siap.


"Papa, udah siap? setengah jam lagi kita berangkat."


"Papa siap nak,"


"Terimakasih pa, papa hebat."


Waktu berlalu dan segala keperluan sudah siap. Dion mendorong papanya di ikuti suster Rika yang menenteng beberapa barang. Dan barang lainnya pelayan-pelayan Danulah yang membantu mengangkatnya.


Danu beserta keluarga sudah berdiri di depan rumahnya untuk mengantar keberangkatan mereka. Dion dan yang lain pun berada disana. sopir menyiapkan mobil dan memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.


"Semuanya telah siap pak, tinggal berangkat saja," ucap sopir Danu di hadapan bosnya sambil membungkukkan badannya dengan sopan.


Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, Danu memeluk erat Rian dan berkata, "sampai jumpa lagi kawan, semangat untuk sembuh."


"Terimakasih Danu, aku tidak akan melupakan kebaikanmu," ucap Rian, bulir benin menetes di sudut netranya.


"Jangan bersedih, aku sudah mentransfer uang di rekening putramu, kalian bisa gunakan untuk kebutuhan kalian disana, dan jangan segan-segan untuk menghubungiku jika kalian dalam kesulitan, aku pasti membantumu," bisik Danu di telinga Rian, dan membuat Rian merasa sedikit lega, karena mereka memang tak memiliki uang sepeserpun.


Evelin memeluk Dion dengan erat.


"Hati-hati disana Dion, aku akan merindukanmu," ucap Evelin pada Dion seraya mencium kedua pipinya, dan semua itu di dengar dan di lihat oleh suster Rika. Suster Rika tak bisa berkata apa-apa, ataupun berbuat apa-apa. Ia hanya bisa pasrah kekasihnya di peluk-peluk dan di cium-cium orang lain. Walaupun sebenarnya hatinya sangat sakit. Tidak ada yang memeluknya, ataupun mengucapkan salam perpisahan padanya. Ia sadar siapa dirinya, kedudukannya sama dengan seorang pelayan.


Mereka sudah masuk kedalam mobil. Sebelum mobil itu meninggalkan kediaman Danu, Evelin dan keluarganya terus melambaikan tangan pada mereka, dan begitupun Dion yang duduk di depan.


Mobil terus melaju menyusuri jalanan puncak yang masih asri. Hari ini Rian dan putranya berangkat ke Jakarta meninggalkan daerah yang selama ini telah membesarkankan namanya, dan membuatnya kaya raya. Tapi di daerah ini juga dia di buat menjadi tak punya apa-apa. Semuq telah habis di kuasai Tania tanpa tersisa.


Rian menatap keluar mobil melalui kaca, pandanganya jauh menyapu pinggiran jalanan yang penuh dengan pepohonan, Pemandangan ini dulu yang selalu membuat hatinya nyaman dan ingin menetap di puncak. Lain dengan hari ini, pemandangan ini justru membuatnya begitu sedih dan pikiranya dipenuhi rasa penyesalan.

__ADS_1


Rian merutuki dirinya sendiri. Sekarang ia benar-benar menyesal telah mengenal Tania, menikah dengannya dan meninggalkan Dion kecil serta Emilia wanita yang begitu mencintainya.


Bersambung.....


__ADS_2