
"Kenapa gue harus cemburu?" Luna bermonolog di dalam kamarnya. "Ouuugh, memalukan sekali!"
"Masa, sih, gue cemburu?"
"Bukannya kita cuma temenan?"
Butir-butir penyesalan mulai meresap dalam hati Luna begitu pertanyaan-pertanyaan itu meluncur bagai air hujan di kepalanya.
Luna ingin mengosongkan pikirannya, Ia ingin melupakan kepahitannya. Ia juga ingin menghilangkan bayangan Dion yang berciuman dengan Evelin. Ia ingin menghapus semua itu dari benaknya.
Ceklek....
Pintu kamar Luna di buka. Tampak Reza berdiri di ambang pintu. Luna yang tadinya melamun sontak terkejut. "Kakak bikin kaget aja." Luna menoleh melihat sang kakak.
"Lagian elo tadi bilang mau cari kue buat bunda, kok malah tiduran di kamar?" Reza menatap adiknya, Ia melihat ada raut kesedihan di wajah Luna. Dan ia juga melihat ada sisa air mata di sudut mata sang adik.
"Elo kenapa Lun?" tanya Reza heran, ia mendekat dan mengusap kepala Luna.
"Nggak apa-apa kak, ayo kita turun ke sekitaran villa ini, kita cari kue untuk bunda."
"Kamu yakin nggak apa-apa?"
"Nggak kak...."
Mereka pun keluar dari villa untuk mencari kue ulang tahun buat sang bunda. Saat keluar Luna sempat berpapasan dengan Dion dan Evelin di lobbi. Tapi Luna pura-pura tak melihat. Bahkan saat Dion memanggilnya pun dia pura-pura tidak mendengarnya. Reza menyadari ada sesuatu yang tidak biasanya dengan sang adik.
Mereka masuk ke mobil dan berkeliling mencari toko kue. Reza yang masih penasaran bertanya lagi pada Luna, "kamu kenapa sih? kok sedih gitu mukaknya?"
"Nggak papa kak, udah deh jangan tanya macam-macam." Luna mulai kesal dengan pertanyaan kakaknya. Dan ia pun kesal dengan dirinya sendiri, hingga akhirnya Rezalah yang jadi tempat pelampiasan amarahnya.
"Kamu cinta dengan cowok itu?" Reza bertanya dengan pertanyaan yang lebih menekankan.
"Nggak....dia temen kuliah Luna kak, Dia juga udah punya pacar." jawab Luna tanpa menoleh ke arah Reza.
"Sebelum janur kuning melengkung Luna...masih bisa, masih ada kesempatan kalau kamu mencintainya. Kejar cintamu."
"Apa sih..." Luna tersenyum melihat kakaknya.
Mobil berhenti di sebuah toko kue. Reza dan Luna masuk kedalam toko itu, dan memilih-milih kue yang akan mereka beli. Pilihan mereka jatuh pada kue berbentuk love berwarna pink muda dengan hiasan bunga di sudutnya.Mereka ke kasir untuk membayarnya dan membuat tulisan happy b'day bunda di kue itu. Setelah mendapatkan apa yang di cari mereka segera kembali ke villa. Luna sudah berusaha melupakan perasaannya tentang Dion. Dia sudah mulai tenang.
Mereka menyimpan kuenya. Lalu mereka ke lobbi dan memesan satu ruangan karaoke keluarga untuk acara kejutan buat sang bunda. Ruangan itu di hias sedemikian rupa cantiknya untuk merayakan ulang tahun sang bunda. mereka ingin membuat kejutan untuk bundanya. Membuat kenangan yang indah dan tak terlupakan.
__ADS_1
Semua sudah siap. Mereka berdua kembali ke kamar Lalu manggil ayah dan bundanya.
"Yah kita karaoke yuk." ajak Luna.
"Boleh." jawab sang ayah.
" Ayah, bunda ayok kita kesana kak Reza udah boking tempatnya." seru Luna.
Mereka semua menuju ruang karaoke itu. Saat semua udah sampai di dalam. Mereka memesan makanan dan minuman. Bunda dan ayah mereka menyanyikan lagu-lagu kesukaannya.Luna pun menyanyikan satu lagu.
Selesai bernyanyi, Luna langsung ke luar untuk pergi ke lobbi mengambil kue yang di titipkannya. Ia bertemu Dion disana yang sudah sendirian tanpa Evelin. Dion sedang bicara dengan para pegawai villa itu. Saat Luna datang Dion melihat Luna mengambil kue ulang tahun. Dion pun mendekat dan bertanya, "Siapa yang ulang tahun Lun?"
"Bunda." jawab Luna singkat. Ia tak ingin marah lagi sama Dion, karena memang Dion tidak bersalah apa-apa padanya.
"Kamu tak mengundangku?" tanya Dion sambil tersenyum, ia merasakan ada yang aneh dengan Luna. Tak seperti Luna yang biasanya selalu ceria, selalu bercanda bila sedang bicara dengannya. Bahkan tadi Luna tak menyahut waktu di tegurnya.
"Kenapa Luna? apa dia ada masalah?" lenguh Dion dalam hatinya.
"Boleh aku ikut masuk ke dalam?" tanya Dion masih tetap dengan senyuman tampannya. Luna meletakkan kue di atas meja dan Dion membantu menyalakan lilin. Kemudian mereka masuk ke ruangan itu.
Luna meletakkan kue ulang tahun itu di hadapan sang bunda. Lalu mereka semua mulai bernyanyi.
"Happy birthday bunda, happy birthday bunda, happy birthday dear bunda, happy birthday to you !"
"Ayo bunda, tiup lilinnya!" Luna mulai ikut mendesak.
Sebentar sang bunda mulai memejamkan matanya, memohon sesuatu, lalu....
"Fuuuuuuuuh"
Lilin yang di tiupnya mati semua.
"Terimakasih semuanya! hari ini bunda seneng banget.Nggak nyangka kalian ingat ulang tahun bunda.
"Terimakasihnya sama Luna dan Reza aja karena ini ide mereka." sang ayah menjelaskan.
"Selamat ulang tahun tante." Dion menyalami ibunya Luna.
"Terimakasih." sahut ibu Luna.
"Maaf saya menggangu ikut masuk kesini." ucap Dion karena Luna tak segera mengenalkan dia pada keluarganya. Luna sadar lalu ia pun mulai mengenalkan Dion pada keluarganya.
__ADS_1
"Oh iya, kenalin bun, ayah ini Dion temen kuliah Luna. Dion ini putra dari pemilik villa ini yah."
"Dion..." ucap Dion saat bersalaman secara bergantian dengan keluarga Luna.
Dion di sambut baik oleh keluarga Luna. Mereka pun berbincang dan bernyanyi bersama. Dion menyanyikan sebuah lagu. Luna menatap Dion dengan perasaan yang hanya bisa dia mengerti sendiri. Kemudian, ketika Dion balas memandangnya tiba-tiba saja Luna merasakan irama jantungnya berdetak lebih cepat. Luna melihat Dion tersenyum ke arahnya. Nggak seperti biasanya, senyum Dion terlihat manis sekali. Lalu terdengarlah suara Dion yang bernyanyi.
Meskipun tak punya sayap, Melihat tatapan mata Dion yang tak pernah berpaling darinya selama bernyanyi membuat Luna serasa terbang di angkasa. Seumur hidupnya ia baru merasakan perasaan seperti ini.
Selesai bernyanyi, Dion langsung duduk di sebelah Luna. Reza yang diam saja dari tadi memperhatikan adiknya. Dia dapat menyimpulkan kalau Luna jatuh cinta pada pemuda bernama Dion itu.
Setelah acara itu selesai malam yang semakin larut mereka pun kembali ke kamarnya masing-masing. Dan luna sebelum ia pergi meninggalkan Dion, ia meraih tangan Dion dan berkata, "Thank you Dion."
" Your welcom" sahut Dion.
"Besok gue balik ke Jakarta, gue bakalan rindu tempat ini dan....elo." kata luna.
"Aku juga akan selalu merindukanmu Luna, elo temen baik gue."
"Temen....?" lirih Luna.
"Maksud elo?"
Luna tiba-tiba teringat ucapan kakaknya tadi siang yang mengatakan sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan. Sebelum terlambat kenapa ia tak mencoba.Itu batin Luna.
"Dion...." lirih Luna pelan hampir tak terdengar.
"Iya Luna, ada apa?" tanya Dion masih penasaran.
Eh....tiba-tiba keberanian Luna hilang sudah. Ia tak berani lagi untuk mengungkapkan perasaanya pada Dion. Ia merasa lebih baik menyimpan perasaannya.
"Enggak, gue mau nanya aja?" kata Luna menutupi perasaannya.
"Tanya apa?"
"Tadi gue lihat elo sama cewek, siapa sih dia? cewek elo? kok nggak loe kenalin ke gue? Luna pura-pura bertanya dan sekalian ingin menghilangkan rasa penasarannya.
"Bukan, itu temen gue....sama seperti elo temen gue."
"Temen....?
Dalam hati Luna mengomel, "temen kok ciuman sampe segitunya"
__ADS_1
Dan satu yang selalu luna benci karena Dion selalu menekankan kata teman untuk dirinya. Seolah tak ada harapan dia untuk masuk ke hati Dion.