
Di Batas Waktu (37)
" Kemarin Adel mendapatkan telpon dari seseorang yang mengatakan bahwa dia membawa anda ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan mobil",
" Tapi, saya tidak mengalami kecelakaan.."
" Assalamu'alaikum Mama...", teriak sepasang anak kembar berlari masuk ke dalam toko bersama seorang lelaki dewasa.
" Sakha?"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
" Bang Rizal?", Sakha tidak percaya melihat seniornya di kampus dulu ada di hadapannya. Setahunya ia sedang menjalankan perusahaan milik keluarganya di kota M. "Abang ada di sini? Bukankah Abang ada di kota M?", tanya Sakha lagi.
" Iya, aku kesini menyusul anak-anak ku", jawab Rizal sambil mendekati Sakha. " Bagaimana kabarmu?", Rizal mengulurkan tangannya.
" Alhamdulillah baik. Abang sendiri bagaimana?"
" Seperti yang kau lihat. Kau masih dengan Lisa?", tanyanya
" Sudah jadi masa lalu", jawabnya datar.
" Benarkah?", Rizal tidak percaya. Ia adalah salah satu saksi bagaimana kebucinan Sakha.
"Maaf menyela, bagaimana kalau kita duduk di sofa saja. Tidak enak kalau sambil terus berdiri", Keysa memberanikan diri memotong pembicaraan keduanya.
" Oh iya, maaf malah mengajak mu berbicara terus tanpa menyuruh duduk", Rizal dan Sakha pun pergi ke arah dimana terdapat sofa berada. Sementara Keysha pergi untuk mengambil minum setelah menyuruh anak-anaknya ke kamar.
" Jadi, Mbak Keysha itu istri Abang?"
" Lebih tepatnya sih mantan", Jawab Rizal sambil menggaruk tengkuknya. " Aku nyusul kesini rencananya mau ngajak rujuk", tambahnya.
Keysha meletakkan tiga gelas jus jeruk di atas meja dan ikut bergabung namun duduk di sofa yang berbeda.
" Oh iya, tadi maksudnya bilang gak kecelakaan gimana ya? Soalnya Adel sendiri bilang begitu. Makanya dia terburu-buru pergi", Keysha melanjutkan obrolan mereka yang tadi.
" Iya saya memang tidak kecelakaan. Saya sedang di kafe saat kejadian kecelakaan yang menimpa Adel kemarin", jelas Sakha.
" Tunggu, ini sedang membicarakan siapa?", tanya Rizal yang memang tidak tahu apa-apa.
" Adel istrinya Sakha", jawab Keysha.
" Jadi, kamu udah nikah?", Rizal tambah kaget.
__ADS_1
" Iya bang. Aku nikah sama Adel sekitar tujuh bulan yang lalu. Itupun di rumah sakit saat Almarhum Papa di rawat",
"Maksudmu, Om sudah meninggal sekarang?", Sakha hanya mengangguk mengiyakan. " Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un. Maaf baru tahu", sesal Rizal.
" Gak papa, bang"
" Lalu?",
" Kemarin Adel kecelakaan. Dia tertabrak mobil di depan toko. Aku kesini mau izin minta rekaman kecelakaan kemarin. Soalnya ada yang sedang aku selidiki", jelas Sakha.
" Selidiki? Maksudmu ini bukan murni kecelakaan?", Keysha yang dari tadi diam di buat kaget.
" Iya. Sebenarnya, sebelum ini juga Adel hampir jadi korban tabrak lari. Alhamdulillah waktu itu aku berhasil menarik Adel sebelum mobil itu menabrak Adel. Semenjak itu aku lebih waspada apalagi saat tahu siapa pemilik mobil itu", jelas Sakha panjang lebar.
" Siapa?" tanya Keysha dan Rizal bersamaan.
" Lisa".
" Ya Allah", seru Keysha kaget. " Bagaimana kondisi Adel sekarang?",
" Dia koma", lirih Sakha.
" Kandungannya?",
Rizal pun seperti halnya Keysha, dia kaget apalagi mendengar siapa pemilik mobil itu.
Keysha segera mengambil laptopnya dan menunjukkan rekaman CCTV di waktu Adel kecelakaan. Ternyata, seseorang tertangkap kamera mendorong Adel ke tengah jalan saat sebuah mobil melaju dengan cepat dan plat mobil yang menabrak pun tertangkap jelas di CCTV.
Keysha hanya menutup mulutnya, ia tak percaya kecelakaan ini benar-benar di rencanakan.
"Apa itu benar mobil Lisa?", tanya Rizal akhirnya.
" Iya", jawab Sakha yakin. "Apa aku boleh minta rekamannya, Mbak. Untuk bukti".
" Ya tentu saja boleh. Orang itu harus mendapatkan balasan yang setimpal agar jera", ucap Keysha sambil menggeser laptop dan membiarkan Sakha mengambil rekaman CCTV nya.
Sakha tidak lama di tempat Keysha. Ia segera ke toko Adel untuk meminta rekaman CCTV saat Adel kecelakaan. Ia pun melakukan hal yang sama pada pemilik toko yang kemungkinan besar memiliki rekaman CCTV serupa.
Sakha bahkan menghubungi penjual gorengan yang mengingat jelas plat mobil yang hampir menabrak sebelumnya. Meminta kesediaannya untuk bersaksi seandainya di butuhkan.
Sakha tahu, ini semua bukan tugasnya. Namun, apa salahnya ia membantu. Jika ini bisa membuat Lisa cepat di tangkap oleh polisi.
Setelah buktinya terkumpul, Sakha segera mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan. Ia tidak ingin membiarkan Lisa bebas berkeliaran lagi di sekitarnya. Ia merasa bahaya masih mengintai jika membiarkan ini terlalu lama.
__ADS_1
Tak terasa hari sudah sore. Sakha kembali ke rumah sakit. Rasa lelahnya seolah terobati saat melihat wajah Adel yang terlihat tenang
" Sayang, maafkan aku. Ini semua salahku. Kalau saja dari awal aku mau mendengarkan perkataan mama dan putus dengan Lisa sebelum menikah denganmu, mungkin ini tidak terjadi," ucapnya sambil menciumi tangan Adel yang terbebas dari selang infus.
" Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Ini sudah takdir. Ini bukan kesalahanmu. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk menjaga Adel dan kandungannya. Namun, sebaik apapun penjagaan mu, tetap tidak bisa menghentikan takdir yang sudah Allah tentukan", Mama Ria mengusap pundak sang anak.
" Kalau kamu terus begini, itu artinya kamu menyalahkan takdir yang sudah Allah tetapkan. Bersabarlah, ini ujian untuk kita semua. Mama harap kamu selalu ingat, apapun yang terjadi pada kita sejatinya itu adalah yang terbaik bagi kita"
Sakha hanya mengangguk membenarkan setiap ucapan sang Mama.
" Mama pulang dulu, besok mama kesini lagi", pamit mama Ria sambil memeluk dan mencium kepala Sakha yang masih setia duduk di samping Adel.
" Mama pulang dulu ya, sayang. Cepatlah bangun", Mama Ria mencium kening Adel. "Assalamu'alaikum", Mama Ria segera keluar dari ruang rawat Adel seorang diri. Ia melarang Sakha untuk mengantarnya walaupun hanya sampai ke depan pintu.
Tidak lama kemudian, Aisyah dan suaminya berkunjung ke rumah sakit. Ia langsung menemui Adel sementara Sakha dan suaminya mengobrol di depan ruang rawat Adel.
Aisyah terus memandangi wajah Adel yang tenang dalam tidurnya. Seperti halnya Syifa, ia pun sangat sedih melihat Adel yang terbaring lemah.
" Adel, apa mimpimu sangat indah sampai kau tak ingin bangun?", tanyanya. "Bangunlah. Bukankah suami yang kau harapkan cintanya sudah mencintaimu. Kau bilang ingin memiliki seorang anak yang tampan seperti Fatih. Kalau kau terus tidur, kapan kau bisa mewujudkan keinginanmu?", tanyanya.
" Mungkin ketika kau bangun kau akan merasakan mimpi terburuk seorang ibu. Merasakan kehilangan seorang anak walaupun masih berbentuk janin," diam sejenak. " Namun, kamu harus selalu ingat, kami semua akan selalu ada bersama mu. Menemanimu melewati semua ujian ini". Ucap Aisyah yang kini hanya mampu terdiam dalam tangisnya.
***
Lisa masih tertidur dengan pulas di bawah selimutnya padahal matahari sudah mulai beranjak naik. Namun, ketenangannya terusik saat seseorang memencet bel nya berulang kali.
Ting Tong.. Ting Tong..
Walaupun tak kunjung di bukakan, orang itu terus menekan bel.
Lisa yang merasa terganggu dengan suara bel yang tak kunjung berhenti akhirnya membukakan pintu tanpa melihat dulu siapa yang ada di balik pintu.
Hingga matanya akhirnya membola saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Ia benar-benar tidak percaya. Mulutnya terbuka lebar saking terkejutnya
TBC...
...----------------...
Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan. Author nya masih pemula, masih harus banyak belajar.
Terimakasih untuk dukungannya. Tinggalkan like , komentar dan favorit juga ya.
🥰🥰🥰
__ADS_1