Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 53 De Javu


__ADS_3

Di Batas Waktu (53)


" Kamu jelaskan saja padanya. Tidak apa-apa jika yang memotivasi dia untuk berubah adalah kamu. Hanya saja kamu bisa meluruskan kembali niatnya tanpa harus mematahkan semangatnya.


Syifa mengangguk.


Pembicaraan mereka terhenti saat Yudi dan Sakha menghampiri mereka berdua.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Adel dan sakha kini sudah berada di sebuah kamar hotel di kota B. Hotel yang sama tempat di mana sahabatnya, Fathia akan melangsungkan pernikahan.


Waktu masih menunjukkan pukul 03.00 pagi namun Adel sudah terbangun. Ia berjongkok di depan kloset sambil berusaha mengeluarkan isi perutnya.


Hooek.. Hoeek..


Adel duduk bersandar ke tembok wajahnya sudah dipenuhi dengan peluh. Sekuat apapun ia berusaha memuntahkan isi perutnya, namun tidak ada sedikitpun yang keluar selain cairan kuning yang terasa pahit di lidah Adel.


Adelyang sudah tidak mampu untuk kembali ke tempat tidur hanya terduduk lemas Ia pun tidak berani membangunkan Sakha karena merasa kasihan.


Tidak lama Sakha terbangun. Tangannya meraba-raba kasur yang ada di sampingnya. Namun, kasur itu kosong tidak ada sosok sama istri.


Hingga kemudian ia mendengar suara dari arah kamar mandi.


Saat sampai ke kamar mandi ia melihat Adel yang sudah duduk dengan lemas dan bersandar ke tembok.


" Kamu kenapa, sayang?," tanya saka perhatian.


Adel hanya menggeleng. " Aku merasa mual namun tidak ada sedikit memakan yang keluar selain cairan kuning yang rasanya sangat pahit,"


Melihat Adel yang kepayahan, Sakha segera membopong tubuh Adel dan merebahkannya di atas kasur.


Sakha segera mencari minyak kayu putih dan membalurkan ke tengkuk Adel juga ke lehernya.


" Pusing nggak?," tanya saka.


Adel menggangguk


" Sini!! ," Sakha meminta Adel untuk tidur dan menjadikan pahanya sebagai bantal.


Adel menurut. Setelah itu, iamemejamkan matanya.


Dengan pelan, Sakha memijit kepala Adel.


Sebenarnya, Adel sudah merasakan pusing dan mual sebelum pergi ke kota B. Namun, Ia yang tidak ingin mengecewakan Tia memaksakan diri untuk tetap pergi.


" Bagaimana kalau besok kita ke dokter saja?," ajak Sakha.


" Tapi, pernikahan Tia?,"


Bagaimanapun Adel tetap ingin datang dan menyaksikan ijab qobul sang sahabat.


Sakha hanya menghela nafas, " Baiklah, setelah pernikahan Tia, kamu harus mau ikut aku ke dokter,"


Adel menggangguk setuju.


Setelah merasa nyaman, Adel kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan saka yang ada di sampingnya.

__ADS_1


***


Adel dan Sakha sudah bersiap-siap untuk pergi ke acara ijab qobul Fathia.


" Kamu masih mual, sayang?," tanya Sakha.


" Sedikit," jawab Adel.


Mereka pun duduk di kursi yang sudah dipersiapkan. Tidak lama kemudian Ayu beserta keluarga kecilnya duduk berdekatan dengan keduanya. Disusul dengan Syifa yang mengajak Yudi.


Setelah menunggu, akhirnya kedua mempelai datang dan acara pun dimulai.


Semua terharu setelah mendengarkan ijab kabul yang mampu diucapkan dengan satu tarikan nafas oleh Ridwan, laki-laki yang kini berstatus suami Tia.


" Alhamdulillah. Barakallah Tia," ucap Adel sambil memeluk Tia.


" hei akhirnya, melepas masa lajang juga," timpal Aisyah.


" Ya, tinggal aku yang masih single," ujar Syifa.


" 'kan lagi OTW. Buktinya, tuh datang sama calonnya", goda Tia.


Amin jawab semuanya serempak


Setelah melakukan sesi foto bersama, mereka pun menikmati hidangan makanan yang sudah tersedia.


" Sayang, kamu mau makanan yang mana?," tanya Sakha.


Adel hanya menggeleng ia menutup hidungnya juga mulut karena merasa sedikit mual.


" Aku sepertinya masuk angin. Dari kemarin, aku muntah-muntah terus sampai tidak ada yang bisa aku keluarkan," keluh Adel.


" Sejak kapan?," tanya Aisyah penasaran.


" Dari sebelum aku pergi ke sini sih. Cuma kan nggak enak kalau sampai nggak datang ke nikahan Tia".


" Jangan-jangan kamu lagi isi, Del?,"


Adel diam, ia mengingat-ingat kapan terakhir Ia datang bulan. Hingga akhirnya dia teringat, harusnya sudah satu minggu yang lalu dia datang bulan.


" Jangan-jangan aku?," Adel menutup mulutnya.


Sakha yang mendengarkan pembicaraan keduanya pun berharap bahwa dugaan mereka benar.


" Ya sudah nanti cepat periksa. Mudah-mudahan aja benar," Aisyah mengelus perut Adel yang masih rata.


" Aamin ", jawab Adel dan Sakha bersamaan.


Akhirnya, Sakha hanya mengambil satu piring makanan, karena Adel sendiri tidak yakin bahwa, makanan yang ia ambil akan masuk ke dalam perutnya.


Adel sendiri hanya mengambil aneka buah-buahan yang ada.


merasa kondisi tubuhnya semakin tidak nyaman akhirnya adil dan saka izin untuk pulang duluan mereka akan langsung pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Adel


Lebih dari 30 menit, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit. Setelah melakukan pendaftaran dan menunggu antrian, akhirnya nama Adel pun dipanggil.


Dengan perasaan yang berdebar, keduanya masuk ke dalam ruangan periksa di mana ada seorang dokter perempuan yang duduk di depan meja kerjanya.

__ADS_1


Dokter itu bertanya beberapa hal mengenai data Adel.


" Sebelumnya, ada keluhan?," tanya Dokter Imelda.


" Sudah beberapa hari ini saya merasakan pusing juga mual di pagi hari," jawab Adel.


" Terakhir datang bulan kapan?,"


" Satu bulan yang lalu dan seharusnya seminggu yang lalu sudah datang bulan," jelas Adel.


Sang dokter menggangguk. Setelah mengukur tekanan darah dan menimbang berat badan, Dokter mengarahkan Adel ke ranjang pemeriksaan agar bisa segera diperiksa.


Adel pun kemudian berbaring. Sebagian tubuhnya ditutupi selimut yang ada di sana. Suster yang ada pun membantu untuk menyingkap pakaian Adel dan mengoleskan gel di atas permukaan perut Adel.


Adel terdiam. Ia merasa Dejavu. Teringat saat dulu pertama kali memeriksakan kehamilannya. Namun, perbedaannya saat ini Adel tidak datang seorang diri, melainkan bersama dengan suaminya.


Dokter pun mengarahkan alat dan memutar-mutarnya di atas permukaan kulit perut Adele.


Sebuah gambar hitam putih muncul di layar monitor. Gambar yang tidak terlalu bisa dipahami oleh mereka yang tidak paham termasuk Adel dan juga Sakha.


Dokter menunjuk sebuah titik putih.


" Selamat Bu, Anda memang sedang mengandung. Usia kandungan Anda baru memasuki 4 Minggu. Lihatlah! titik putih ini adalah janin yang sedang berusaha untuk berkembang di rahim anda,"


Adel terharu, ternyata Allah masih mempercayakan Ia kembali untuk mengandung. Setelah pemeriksaan Adel kembali duduk di kursi tepat di samping Sakha berhadapan dengan dokter Imelda.


" Kehamilan di trisemester pertama ini, masih cukup riskan. Karena itu, harus berjaga-jaga apalagi sebelumnya pernah ada riwayat keguguran,"


" Unttuk janinnyy sendiri kondisinya sehat'


" Bagaimana dengan rasa mual juga pusing yang dialami oleh istri saya dok," tanya Sakha.


" Itu umum dialami oleh ibu hamil, apalagi di trisemester pertama dan sampai saat ini saya melihat morning sick yang dialami oleh Ibu Adel masih terkategori normal. Untuk itu, saya akan meresepkan obat mual. Selain itu, saya meresepkan vitamin juga asam folat dan obat penambah darahnya. Tolong jangan lupa diminum ya!, Demi kesehatan ibu dan janin yang dikandungnya," pesan dokter Imelda.


'" Baik, dok," jawab keduanya.


Dokter pun memberikan hasil print foto USG kandungan Adel.


" Maaf dok, boleh saya minta double print-an nya ?," pinta Sakha.


Dokter pun mengangguk sambil tersenyum.


Memang ada beberapa pasiennya yang melakukan hal yang sama yaitu meminta double print USG. Karena baik calon ibu maupun calon Ayah masing-masing ingin memilikinya.


" Jadi, kita langsung pulang ke kota J?,* tanya Adel saat di parkiran rumah sakit.


TBC


...----------------...


...Jangan lupa tinggalkan jejak!!...


...Like, komentar dan subscribe....


...Terimakasih atas dukungannya...


...🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2