Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 49 Janji di Depan Pusara


__ADS_3

Di Batas Waktu (49)


Sakha dan Adel mulai pergi menuju ke makam yang letaknya cukup jauh dari rumah Adel. Sebelum masuk ke area makam, Adel membeli bunga dari penjual bunga yang selalu ada berjualan di sekitar makam. Setelah mendapatkan bunga yang di butuhkan, keduanya segera melangkah ke arah makam yang di kelilingi oleh pohon-pohon yang rindang.


Adel dan Sakha bersimpuh di depan makam kedua orang tua Adel yang di makamkan bersebelahan.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Adel dan Sakha mengucapkan salam sebelum menaburkan bunga dan menyiramkan air di atas pusara kedua orang Adel.


Mereka berdua lalu mengirimkan do'a untuk keduanya.


" Ayah, Bunda, kenalkan ini Mas Sakha, suami Adel ", Adel mulai bercerita.


" Maaf baru sempat mengunjungi ayah dan ibu", Adel tiba-tiba menangis. Ia ingin menceritakan banyak hal, namun tercekat di tenggorokan.


Sakha meraih pundak Adel dan mengusapnya.


" Ayah, sebenarnya dari dulu Adel sangat berharap jika menikah nanti, Ayah yang akan menyerahkan Adel pada suami Adel, namun kenyataannya, Ayah malah lebih dulu menyusul bunda", ucapnya di sela-sela tangisnya.


Bagi Adel, Ayahnya adalah sosok luar biasa. Memilih menjadi single parent setelah sang bunda meninggal sesaat setelah melahirkan Adel karena mengalami pendarahan.


Mengingat jalan kematian sang bunda, Adel tiba-tiba teringat bahwa ia pun sempat merasakan yang namanya hamil walaupun hanya sesaat. Lagi-lagi air matanya mengalir.


" Bunda, mengingat bagaimana Bunda berjuang untuk bisa melahirkan Adel, Adel jadi teringat bahwa Adel pun sempat merasakan kehamilan. Kalau saja Adel punya kesempatan memilih seperti bunda, Adel memilih untuk menyelamatkan janin itu. Namun, Adel tidak punya pilihan seperti bunda".


Bunda Adel sebenarnya tahu kemungkinannya kecil untuk bisa selamat jika mempertahankan janin yang ia kandung. Namun, Bunda Adel memilih mempertahankan kandungannya. Sekalipun akhirnya ia tak bisa melihat wajah anak yang ia perjuangkan.


" Kalau saja Bunda masih ada, pasti Adel akan meminta Bunda mendo'akan Adel. Agar Adel bisa cepat di berikan penggantinya. Lagi-lagi itu hanya khayalan Adel. Namun, Adel yakin seandainya Bunda masih ada, tanpa Adel minta pun, Bunda akan mendo'akan yang terbaik untuk Adel", Adel pun tak lagi bercerita. Ia sudah tak mampu berkata-kata.


Melihat Adel yang hanya menangis, Sakha akhirnya mulai bicara.

__ADS_1


" Ayah, Bunda, aku Sakha, suami Adel. Seharusnya aku menemui kalian sebelum menikahi Adel namun, saat itu situasinya tidak memungkinkan. Semua serba mendadak", diam sejenak.


" Maaf bila pada awal pernikahan, bukan kebahagiaan yang ia dapatkan. Namun hanya ada air mata karena aku yang seharusnya menjaga malah melukainya", Adel melihat ke arah suaminya. Ia tak menyangka Sakha akan menceritakan hal tersebut.


" Namun, insya Allah untuk kedepannya hanya akan ada kebahagiaan", Sakha mengikrarkan janjinya di hadapan pusa kedua mertuanya.


" Bunda, terimakasih sudah melahirkan Adel. Perempuan luar biasa yang mau bertahan padahal ia punya kesempatan untuk pergi. Ayah, terimakasih telah mendidiknya menjadi wanita tangguh", Sakha mengutarakan rasa terima kasihnya.


***


Sakha dan Adel kini sedang menikmati es kelapa muda di sebuah warung tenda di pinggir jalan. Warung tenda yang ada di dekat sekolah mereka dulu.


" Kenapa? Apa di wajahku Dada kotoran?", tanya Sakha menyadari Adel memperhatikannya dari tadi.


Adel hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. " Tidak ada", jawab Adel singkat.


" Atau kamu sedang mengagumiku. Baru sadar suamimu ini tampan", tanyanya menggoda.


" Ya, aku akui suamiku memang tampan", jawab Adel.


" Terimakasih karena telah berjanji pada orang tuaku untuk membahagiakan ku".


" Kenapa harus berterima kasih? Sudah jadi kewajibanku untuk membahagiakanmu. Saat aku mengucapkan ijab kabul, di saat itu pula aku mengambil alih tanggung jawab yang di emban pamanmu setelah kepergian ayah".


Walaupun sempat menodai janji suci pernikahannya, Sakha bersyukur Adel masih di beri kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


" Setelah ini, kita mau kemana?", Sakha meminta pendapat Adel.


" Kita pulang saja, rumah juga kayaknya sudah selesai di bersihkan ", usul Adel apalagi hari sudah sore.


Sakha dan Adel memang menghabiskan cukup banyak waktu saat di makam tadi. Selain berdo'a dan bercerita di makam kedua orang tua Adel, keduanya juga sedikit berbincang dengan penjaga kebersihan di makam.

__ADS_1


Sementara di rumah kedua orang tua Adel, rumah sudah selesai di bersihkan. Sekarang sudah tampak nyaman di tempati.


Orang-orang yang di pekerjakan untuk membersihkannya rumahnya pun sudah tak nampak sama sekali. Sakha memang tadi sudah menitipkan uang sebagai upah kepada Bu Indah.Jaga-jaga kalau ia pulang terlambat. Dan ternyata ia dan Adel memang pulang terlambat.


***


" Syifa, saya serius ingin menikah denganmu", ucap Yudi yang baru melamar Syifa untuk menikah dengannya.


" Kalau bapak serius, bapak datangi kakak laki-laki saya saja", ucap Syifa tak kalah serius.


Ia sebenarnya bukan perempuan yang tidak peka akan sekitarnya. Syifa tahu kalau bosnya memiliki rasa padanya. Terlihat dari sikap yang selama ini di tunjukkan. Namun, ia pun tak ingin gegabah. Sehingga ia selama ini bersikap biasa saja.


" Itu artinya kamu mau menerima lamaran ku?", tanya Yudi antusias.


" Sebenarnya saya agak ragu. Bagaimana pun saya tahu posisi kita, juga entah kenapa saya merasa ada yang mengganjal", jawab Syifa jujur.


Yudi diam.


" Bagaimana pun ini rasanya terlalu cepat. Anda mungkin tahu saya bahkan latar belakang saya. Namun itu berbanding terbalik dengan saya yang malah tidak tahu apa-apa tentang anda", jelas Syifa panjang lebar.


" Kita jalani saja dulu untuk saling mengenal satu sama lain. Apa pun yang ingin kamu tahu, tanyakan langsung pada saya jangan pada orang lain. Saya akan menjawab jujur apapun pertanyaan kamu ", jelas Yudi akhirnya.


" Baiklah, kita saling mengenal dulu saja sampai jika saya sudah benar-benar yakin, maka kita temui kakak saya", timpal Syifa setuju.


" Kalau begitu, pakai ini sebagai tanda kamu milikku", Yudi menyematkan sebuah cincin yang sungguh indah di jari manis Syifa.


" Tapi, jangan terlalu berharap dulu. Masa untuk saling mengenal lebih dalam ini bisa berakhir di pelaminan atau malah justru perpisahan ", ucap Syifa. Ia tak ingin memberi harapan apapun. Karena intinya ia ingin mengenal lebih dekat sosok yang ingin menikahinya. Adapun di teruskan sampai ke pelaminan atau tidak, tergantung nanti.


Yudi hanya mengangguk. Setidaknya ia masih ada kesempatan untuk memperjuangkan Syifa terlebih dahulu terlepas apapun hasilnya nanti.


Ia pun berjanji akan jujur mengenai keberadaan anaknya dari Lisa. Takkan menyembunyikan apapun karena berharap Syifa bisa menjadi ibu sambung bagi anaknya kelak.

__ADS_1


Syifa memandangi cincin indah yang kini tersemat di jarinmanisnya. Seperti halnya perempuan pada umumnya, ia pun berharap untuk bisa menikah secepatnya apalagi usianya sudah cukup untuk hal itu. Namun, bukan berarti ia akan langsung menerima siapapun yang melamarnya.


TBC


__ADS_2