Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 46 Akhirnya pergi berdua


__ADS_3

DBW (46)


" Kalau Bu Adel sudah bisa berjalan, berarti pergi ke kota B nya gak akan lama lagi dong?", tanya Satria. Karena itu artinya tugas untuk mengelola Kafe selama Sakha pergi akan beralih kepadanya.


" Menunggu beberapa waktu lagi sepertinya. Biar bisa lebih leluasa", jawab Adel. Karena kalau masih berganti pada kursi roda, rasanya kurang nyaman karena geraknya jadi terbatas.


" Pasti mau bulan madu ya?", tebak Tari.


***


Adel hanya tersenyum.


" Iya, kita mau menghabiskan waktu berdua. Apalagi setelah menikah kita belum pernah punya quality time", jelas Adel.


" Kita pulang sekarang?", tanya Sakha yang sudah selesai dari toiletnya.


" Iya langsung aja ", jawab Adel.


" Satria, Tari kita pulang duluan ya", pamit Sakha.


" Ok ", jawab Satria singkat.


" Senang bisa ketemu sama kamu", ucap Tari tulus.


" Terimakasih "


" Assalamu'alaikum", salam Adel dan Sakha berbarengan.


" Wa'alaikumsalam ",


Adel dan Sakha meninggalkan Satria da Tari berdua. Mereka berjalan beriringan.


" Beda banget ya, sama Lisa!?", seru Tari sambil kembali duduk.


" Iya ", jawab Satria yang memang sempat tahu seperti apa Lisa walaupun hanya sebentar karena ia saat itu baru masuk kerja dan Lisa yang kemudian menghilang di susul dengan pernikahan Sakha dengan Adel.


" Masih berniat menjadi orang ketiga?", tanya Satria menggoda


" Gak lah. Ngapain sibuk ngerebut punya orang kalau punya sendiri udah ok", jawab Tari.


" Benarkah?"


Tari mengangguk.


" Emang gak malu kalau sama berondong?".


Walaupun hanya beda dua tahun, tetap saja lebih muda Satria.


" Cinta bukan masalah umur. Tapi masalah hati ", ucap Tari bijak.


" Tapi, kita berbeda", Satria tetap tidak percaya diri bersama dengan Tari. Dia orang biasa sementara Tari terlahir dari keluarga kaya.

__ADS_1


" Kita sama. Yang kaya itu orang tuaku".


Tari paham 'berbeda' yang Satria maksud itu apa. Menurutnya, mereka sama.


Satria mungkin lebih muda usianya. Namun masalah hubungan dia bukanlah tipe orang yang suka senang-senang semata. Dia orang yang serius akan hubungan. Ingin sampai jenjang pernikahan. Karena itu, ia harus bisa memastikan akan sampai ke tahap itu dari sekarang.


Jika kenyataannya hubungan mereka tidak akan sampai pada tahap pernikahan, lebih baik berhenti dari sekarang. Saat belum terlalu cinta, dan tidak akan terlalu sakit bila berpisah. Ia juga tak mau malah jadi penjaga jodoh orang. Satria merasa tidak sebaik itu.


***


Setelah kunjungan ke dokter hari itu, Adel selalu membiasakan berjalan di dalam rumah dengan tetap memperhatikan yang dikatakan dokter. Ia akan terus melatih kemampuan kakinya tanpa memaksakan kehendaknya.


" Duduk saja, kan belum boleh berdiri terlalu lama. Kamu bantu Mama potong sayur saja", Mama Ria mengajak Adel duduk. " Biar Mama yang menggoreng", tambahnya.


" Baik, Ma", Adel menurut.


Padahal, Adel juga tidak terus-menerus berdiri. Tapi, di selingi duduk karena ia juga tidak ingin kakinya kenapa-kenapa. Namun, lebih baik melakukan apa yang diminta Mama Ria daripada keras kepala beradu argumen. Mama Ria melakukan itu semata-mata karena ia sayang padanya.


Tidak lama terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.


" Adel ke depan dulu ya, Ma", pamit Adel.


" Iya",


Adel ke depan membukakan pintu. Setelah Adel mulai bisa beraktivitas tanpa kursi roda, Sakha kembali bekerja ke kafe. Sekalipun ia pemiliknya, ia harus datang dan memastikan sendiri bahwa keadaan kafe baik-baik saja.


Belum lagi rencananya yang akan ke kota B membuatnya harus mempersiapkan agar semua tetap terkendali sekalipun ia tidak ada.


" Assalamu'alaikum",


" Kamu sedang membantu Mama memasak?", tanya Sakha meliha Asdl yang memakai celemek.


Adel mengangguk lalu menggandeng lengan Sakha .


Mereka masuk ke dalam kamar tamu yang masih mereka tempati. Sekalipun Adel sudah bisa berjalan, terlalu riskan membiarkan Adel naik turun tangga di kondisinya yang belum seratus persen pulih.


" Mau aku bikinin teh manis dulu?", tawar Adel sambil membantu sang suami melepaskan pakaiannya.


Mandi setelah pulang kerja adalah kebiasaan yang selalu Sakha lakukan.


" Boleh. Aku mau mandi dulu",


" Nanti aku simpan di atas nakas aja ya, mas", ucapnya.


" Mau kemana lagi?",


" Mau bantu Mama masak lagi. Bi Nur kan sedang mengunjungi anaknya jadi, gak ada yang bantu Mama", jelasnya.


" Ya sudah, tapi jangan terlalu lelah", pintanya.


" Iya, aku cuma bantu motongim sayuran. Sambil duduk pula", jawab Adel.

__ADS_1


Adel kembali ke dapur untuk membuatkan Sakha teh manis.


" Adel anterin ini dulu ya ,Ma. Nanti, Adel bantu lagi", Adel membawa satu cangkir teh manis didalam nampan yang ia bawa.


" Iya. Kalau kamu lelah, kamu istirahat dulu saja. Lagipula tinggal sedikit lagi juga selesai".


" Gak apa-apa, Ma. Nanti, Adel kesini lagi. Adel bosan kalau diam di kamar terus".


" Kalau memang kamu merasa tidak lelah sih gak apa-apa. Tapi, kalau sudah lelah, jangan sungkan untuk bilang. Jangan gak enakkan"


" Iya , Ma", Adel berlalu dan kembali masuk ke kamar.


Kamar masih tampak kosong. Namun, terdengar suara gemericik air di kamar mandi.


Setelah menyimpan cangkir di atas nakas, Adel mengambil pakaian Sakha di lemari dan meletakkan di atas kasur.


Bisa kembali melayani kebutuhan suaminya adalah sebuah kebahagiaan untuk Adel. Apalagi, selama ia hanya bisa terbaring di atas kasur, ia tidak bisa melakukan apapun.


Bahkan Sakha yang melayaninya. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, semua tak lepas dari bantuan Sakha.


" Semuanya sudah selesai, Ma?", tanya Adel melihat sayuran yang tadi sedang ia potong sudah tidak ada.


" Ini yang terakhir", jawab Mama Ria memperlihatkan sayuran yang tadi di potong Adel sudah ada di atas penggorengan.


" Ya sudah, Adel bantu mencuci piring saja",


" Kamu gak usah cuci piring, sayang. Beresin ini ke atas meja makan saja. Kan tidak boleh terlalu lama berdiri", Mama Ria mengingatkan.


" Ya sudah, Adel menyiapkan makanan ini ke atas meja makan makan saja", Adel membawa makanan yang sudah di masak ke atas meja.


Setelah semuanya selesai, mereka pun mulai berkumpul di meja makan. Sakha yang sudah selesai mandi pun sudah ikut bergabung.


" Ma, berapa hari lagi kita akan ke kota B. Berhubung Adel sudah cukup sehat, jadi aku percepat keberangkatan kita ke kota B", jelas Sakha saat mereka sudah selesai makan. " Mama gak apa-apa aku tinggal pergi?", tanyanya lagi.


" Aish kamu ini, Mama kan sudah bilang gak apa-apa. Lagipula mama minta Bi Nur untuk tinggal disini selama kalian pergi.


" Sakha cuma gak mau Mama kesepian ",


" Emangnya kalian mau Mama ikut?", tanya Mama Ria tersenyum. " Mama gak mau jadi obat nyamuk kalau ikut kalian", ucap Mama Ria terkekeh.


Wajah Adel bersemu merah. Sakha pun hanya menggaruk tengkuknya.


" Sudah, gak apa-apa. Mama ada Bi Nur disini", Mama Ria berusaha menepis kekhawatiran Sakha.


Akhirnya, hari yang di nanti pun tiba. Adel dan Sakha sudah ada di dalam perjalanan menuju rumah orang tua Adel. Tentu setelah memastikan Bi Nur sudah ada di rumah untuk menginap menemani Mama Ria selam Sakha dan Adel pergi.


Mereka baru saja sampai.


Adel turun lebih dulu dari mobil memandangi rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Dari luar saja sudah kelihatan bahwa banyak yang harus mereka bersihkan.


" Assalamu'alaikum", seseorang datang menghampiri keduanya.

__ADS_1


Keduanya berbalik badan melihat siapa yang datang.


__ADS_2