Di Batas Waktu

Di Batas Waktu
DBW 40 Pilihan Tari


__ADS_3

Di Batas Waktu (40)


" Baiklah. Perempuan itu memang kelihatannya pantang menyerah", jawab Satria di sertai kekehan.


Tiba-tiba ponsel Sakha berbunyi. Ada panggilan dari nomor yang tidak di kenal.


" Assalamu'alaikum", salam Sakha.


***


Tari sedang sangat bahagia. Dia berhasil mengundang Sakha makan malam. Alasannya tentu sebagai sambutan kepada rekan bisnisnya. Ia memang menjadikan proyek itu sebagai alat untuk mendekati Sakha.


Secara bisnis, proyek itu memang menguntungkan. Tapi secara pribadi pun memberikan keuntungan yang banyak karena bisa selalu berdekatan dengan Sakha.


Tari memang tak habis pikir, di saat banyak orang mendekatinya, Sakha seolah tak peduli. Ia benci karena dari dulu Lisa jadi pusat perhatian Sakha bahkan ketika keluarga Lisa jatuh miskin, sikap Sakha tetap tak berubah.


" Sekarang, kamu akan jadi milikku, Sakha", gumam Tari sambil memandang hidangan yang sudah tersedia di atas meja.


Setelah beberapa menit berlalu, seseorang datang menghampiri Tari.


" Kamu....?" , Tari melotot melihat orang yang datang bukan Sakha.


" Maaf nona, berhubung undangan anda dalam rangka proyek kerjasama kita, maka mulai sekarang apapun yang berhubungan dengan proyek ini, bisa hubungi saya. Saya adalah wakil yang di pilih Pak Sakha", jelas Satria dengan sopan.


Ya, yang datang adalah Satria. Sakha melimpahkan semua yang berkaitan dengan proyek ini kepada Satria. Ia ingin meminimalisir sesuatu yang tak terduga yang akan terjadi kedepannya.


Ia menyadari semua hanya akal-akalan Tari. Karena itu, ia hanya akan mengikuti permainan Tari dengan tetap menjalankan proyek ini namun berusaha untuk tidak terjebak di dalamnya.


Akhirnya, seperti yang di lakukan oleh Pak Arman, ia melakukan hal yang sama. Lagi pula tidak melanggar perjanjian sama sekali.


Ponsel Tari berbunyi.


" Sakha, apa maksud kamu?" , Tari tetap mencoba bertanya dengan nada serendah mungkin. Jangan sampai Sakha mendengar nada suaranya yang terdengar kesal.


" Seperti yang di lakukan oleh Pak Arman, aku menjadikan Satria wakilku. Jadi, untuk sesuatu yang berhubungan dengan proyek ini, silahkan hubungi Satria saja", jelas Sakha to the point.


" Tapi.."


Tuutt.. Tuutt.. Tuutt..


Sakha mematikan sambungan telepon sebelum Tari selesai berbicara.


Tari hanya menggenggam erat ponselnya. Ia kesal namun tidak bisa apa-apa. Karena dalam perjanjian pun tidak ada larangan untuk mewakilkan proyek ini.


Tari hanya menyesali keb0d0hannya yang tidak menyadari hal itu.


" Bagaimana nona?", tanya Satria kemudian.


" Mari kita lanjutkan makan malamnya", walaupun kesal, ia tidak mau tujuan aslinya ketahuan.


Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai menyantap hidangan yang disajikan, mereka baru memulai obrolan. Terdengar hanya sekedar basa-basi menurut Satria. Tapi, ia dengarkan saja.

__ADS_1


Sementara Sakha kini melajukan mobilnya untuk kembali ke kota J. Setelah Tari menelponnya untuk mengaajak makan malam, Sang bunda menelponnya memberitahukan kondisi Adel yang sudah sadar dari koma.


Tak ingin kehilangan momen yang di nantikan, tanpa pikir panjang Sakha segera pulang. Urusan proyek sudah ada solusinya. Jadi, Sakha bisa di tenang.


***


Malam sudah sangat larut, saat Sakha sampai di rumah sakit.


" Sakha, kamu sudah sampai, Nak?" tanya Mama Ria yang baru keluar dari kamar mandi.


" Iya , Ma", jawab Sakha yang sedang duduk di kursi samping ranjang.


" Adel sudah tidur lagi".


" Iya , Ma. Aku sebenarnya tidak sabar Ingin berbicara dengannya. Tapi, aku juga tidak ingin mengganggu waktu istirahatnya", jelas Sakha sambil menggenggam tangan Adel.


" Apa dia bertanya tentang kandungannya?", tanya Sakha kemudian.


" Iya. Tapi, mama belum sempat menjelaskan apapun karena dokter datang untuk melakukan pemeriksaan dan akhirnya mama mengalihkan pembicaraan sampai dia tertidur lagi karena pengaruh obat.


Sakha menghela napas.


" Kamu jelaskan pelan-pelan. Mama rasa kamu yang lebih berhak menjelaskan semuanya", ucap Mama Ria sambil mengusap pundak Sakha.


***


Tari termenung di kamar hotelnya. Tari memang hanya menginap di kamar hotel, seperti halnya Sakha, ia pun tinggal di kota J. Namun sudah satu tahun tinggal di negara A karena permintaan sang nenek yang memang tinggal di sana.


Namun, perkataan Satria setelah selesai makan malam tadi terngiang di kepalanya.


Flashback on


" Nona, boleh saya bertanya sesuatu di luar pekerjaan?," tanya Satria sopan.


" Boleh," jawab Tari setelah berpikir sejenak.


" Sepertinya anda kenal dengan Lisa juga. Apa anda tahu yang terjadi padanya?", tanya Satria mencoba mencari tahu.


"....", Tari hanya diam.


" Dia di penjara karena dengan sengaja menabrak seseorang..," Satria menggantung ucapannya dan mengamati ekspresi wajah Tari.


Satria tersenyum, terlihat jelas bahwa Tari tidak kaget sama sekali, yang artinya Tari sudah tahu berita itu.


" Melihat ekspresi wajahmu, sepertinya anda sudah tahu", diam sejenak. " Apa anda juga tahu siapa yang ia tabrak dan siapa yang melaporkannya?", tanya Satria kemudian.


" Siapa?", tanya Tari yang tiba-tiba penasaran.


" Orang yang di tabrak Lisa adalah Adel istri Pak Sakha dan orang yang melaporkannya adalah Pak Sakha sendiri".


Tari tercengang. Sungguh ia tak percaya Sakha bisa melakukan itu.

__ADS_1


" Kau tahu apa alasan Lisa?"


" Tentu saja cemburu karena Sakha memilih menikahi orang lain", jawab Tari yakin.


" Betul. Lisa tidak terima Sakha bisa melupakannya. Apalagi istri Pak Sakha bisa membuatnya berpaling hanya dalam waktu hitungan bulan".


Tari kaget dengan apa yang ia dengar. Tapi, kemudian ia bingung kenapa Satria menceritakan itu semua.


" Apa maksudmu menceritakan semua itu?".


" Saya tahu anda menyukai Pak Sakha. Terlihat jelas dari sikap anda"


"Apa?", Tari jadi salah tingkah.


" Anda cantik, dari keluarga terhormat juga, rasanya tidak pantas jika bercita-cita jadi p3lakor"


Tari diam.


" Saya hanya tidak ingin anda bernasib sama seperti Lisa. Melakukan berbagai cara agar bisa kembali pada Pak Sakha",


" Pak Sakha sudah sangat mencintai istrinya bahkan menjadi garda terdepan saat istrinya terluka. Lisa yang sempat sangat ia cintai saja tidak mampu menggoyahkan cintanya pada Bu Adel apalagi orang yang bahkan tidak ia cintai sama sekali. Daripada membuang waktu lebih baik mencari cinta yang lain", tambah Satria.


Flashback off


***


Sakha terbangun saat merasakan gerakan tangan Adel. Adel ternyata terbangun dan berusaha mengambil minum.


" Sayang, kamu haus", tanya Sakha.


Adel hanya mengangguk.


" Biar aku ambilkan ", Sakha mengambil air minum di atas nakas dan membantu Adel untuk minum.


Setelah selesai, Sakha menyimpan kembali ke atas nakas.


" Masih jam tiga pagi. Kamu tidur lagi ya", pinta Sakha namun, Adel hanya menggeleng.


" Mas, aku mau nanya. Tolong jawab jujur ya?!", pinta Adel.


Sakha menghela napas. Ia bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh Adel padanya.


" Iya, insya Allah aku akan menjawabnya dengan jujur"


" Bagaimana kandungan aku?"


TBC


...----------------...


Mohon dukungannya ya semua... 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2