
Di Batas Waktu (54)
Memang ada beberapa pasiennya yang melakukan hal yang sama yaitu meminta double print USG. Karena baik calon ibu maupun calon Ayah masing-masing ingin memilikinya.
" Jadi, kita langsung pulang ke kota J?," tanya Adel saat di parkiran rumah sakit.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Adel dan Sakha telah kembali ke kota J. tanpa berlama-lama mereka langsung memberitahukan kabar gembira ini kepada Mama Ria.
Mama Ria sangat senang mendapatkan kabar ini. Hingga akhirnya, sorenya langsung memasak banyak menu makanan kesukaan Adel.
" Ma, ini enggak terlalu banyak ya?", tanya Adel.
" Hehe. Saking senangnya Mama masak banyak", Mama Ria tertawa. " Gak apa-apa, sedikit merayakan kehamilan kamu, sayang",
" Sakha, mana?"
" Barusan lagi telponan sama Satria", jelas Adel.
Adel langsung melayani Sakha, saat sudah duduk di kursi. Mengambilkan nasi dan lauk pauk sesuai keinginan Sakha.
" Cukup, sayang", Sakha mengambil piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk.
Setelah itu, ia mengisi piringnya sendiri. Adapun Mama Ria, ia lebih suka mengisi piringnya sendiri.
Adel pun menikmati makan malam ini. Menu-menunya menggugah selera. Siapa sangka, ia bisa nambah makan.
Mama Ria senang melihat n@fsu makan Adel yang banyak.
" Oia, Del. Jadi, Lusa itu rencananya gimana?", tanya Mama Ria sambil membereskan piring di bantu oleh Adel.
" Ia, rencananya aku mau ngasihin kue ke panti asuhan, jadi lusa kita tutup tokonya. Bikin kue juga khusus buat di bagiin bukan buat di jual", jelas Adel.
" Sakha juga sekalian pesan katering, Ma. Do'a bersama di panti asuhan sekalian makan dan bagi-bagi rezeki ke anak yatim piatu", jelas Sakha. " Syukuran kehamilan juga kesembuhan kaki Adel, Ma", tambahnya.
" Iya, betul. Bagus itu", Mama Ria setuju.
" Iya, Ma. Mudah-mudahan kehamilan sekarang bisa sampai melahirkan", do'a Adel.
" Aamiin"
***
Pagi pun tiba, seperti biasa, Adel harus bulak balik karena morning sick.
Sakha terus menemani Adel, mengurut tengkuk Adel. Bahkan menggendong Adel yang sudah sangat lemas.
" Perasaan, dulu gak gini ya?", seru Sakha sambil mengusap perut Adel.
" Hmm. Setiap kehamilan kan gak selalu sama," jawab Adel sambil memejamkan mata menikmati usapan sang suami.
" Minum dulu teh jahenya", Sakha membantu Adel meminumnya. " Udah enakan?", tanya Sakha.
__ADS_1
Adel hanya mengangguk.
" Yakin mau ke toko enggak istirahat aja di rumah?," tanya Adel.
" Aku kan mau ngebahas buat acara di panti besok. Kalau via telpon takutnya kurang jelas", jawab Adel. " Lagipula tiba-tiba pengen sarapan bubur ayam yang dekat sekolah si kembar", tambah Adel.
" Berarti perginya harus agak pagi",
Bubur Ayam yang Adel mau memang suka ramai pengunjung. Apalagi akhir pekan seperti ini. Jadi, kalau ingin kebagian, ya harus datang lebih awal.
" Tapi, nanti tunggu di mobil aja, ya. Mas yang pesan", usul Sakha.
Sakha khawatir Adel malah tambah pusing kalau harus ikut mengantri.
" Ya '
Setelah berpamitan kepada Mama Ria sekaligus mengatakan akan sarapan di luar, keduanya segera pergi.
Benar saja, saat sampai sudah ada antrian disana.
Tak ingin antrian semakin panjang, Sakha segera turun. Sementara Adel menunggu di mobil sambil mendengarkan murottal di dalam mobil.
" Mau makan dimana?," tanya Sakha.
" Di taman sebelah sana saja, ya Mas. Kayaknya seger makan di bawah pohon pagi-pagi begini", saran Adel sambil menunjuk taman yang tidak jauh dari mereka berada.
" Baik, tuan putri", Seru Sakha sambil melajukan mobilnya.
Hingga akhirnya mereka melewati tempat Adel dulu hampir tertabrak. Adel langsung mengusap perutnya.
Sakha yang memperhatikan perubahan raut wajah Adel langsung menggenggam tangan kanan Adel dengan tangan kirinya. Namun matanya masih fokus pada jalan di depan.
" Aku akan selalu menjaga kalian", ucap Sakha melihat sekilas ke arah Adel sambil tersenyum.
Perkataan Sakha membuat Adel merasa tenang. Ia percaya suaminya adalah suami siaga. Itu sudah terbukti saat kehamilan pertamanya. Namun, sekuat apapun usaha Sakha menjaganya, jika takdir berkata lain, manusia tidak bisa berbuat apa-apa. Itulah mengapa Allah menilai usaha seseorang, bukan hasil dari usaha itu sendiri.
" Pelan-pelan, makannya. Nanti tersedak", Sakha geleng-geleng kepala melihat cara makan Adel.
" Maaf",
Adel hanya tersenyum. Entah kenapa, sarapan kali ini rasanya nikmat sekali.
" Kalau masih lapar, ini masih ada", Sakha menunjukkan satu porsi bubur lagi yang memang belum ia makan.
" Itu kan buat Mas Sakha, mas juga harus sarapan", tolak Adel.
" Kamu harus makan banyak".
Ternyata benar, setelah bubur milik Adel sudah habis, Adel melanjutkan makan bubur milik Sakha. Namun, ia tak mau makan sendiri. Akhirnya ia makan berdua sambil menyuapi Sakha.
***
" Hari ini jadinya kita buka sampai tengah hari?", tanya Fitri.
__ADS_1
" Iya, biar bisa mempersiapkan untuk acara besok. Untuk kue yang akan kita kirim ke panti, sudah aku catat ya. Kakak minta kamu yang handle untuk masalah kue, jadi besok kita langsung ketemu di panti", jelas Adel. Fitri mengangguk.
" Oh, iya kamu tahu tempat yang jual soto ayam yang enak. Tiba-tiba pengen makan soto ayam ",
" Soto ayam?", Fitri diam sejenak. " Oh iya, yang di belokan sana juga ada. Rasanya enak",
" Ya, udah. Kakak mau kesana dulu ya", Adel sudah berdiri dari duduknya ",
" Kak, Kak Sakha kan berpesan kalau kakak tidak boleh kemana-mana ", Fitri mengingatkan.
Adel diam. Ia baru ingat kalau Sakha berpesan seperti itu kepadanya. Ia teringat saat tidak patuh pada perintah suaminya dan berakhir dengan kehilangan janinnya. Sekalipun saat itu ia sedang di landa kegelisahan.
Akhirnya Adel berniat menelpon Sakha terlebih dahulu untuk meminta izin. Namun, Sakha menolaknya. ia bilang ia yang akan membelinya dan membawanya ke toko saat makan siang.
" Maaf,menunggu lama, sayang",ucap Sakha sambil membawa bungkusan soto ayam di hadapan Adel.
" Iya gak apa-apa", jawab Adel.
Sakha mengeluarkan soto ayam dan memasukkan ke dalam wadah yang di berikan Fitri.
" Ayo makanlah selagi hangat",Sakha memberikan soto ayam itu ke hadapan Adel.
Adel menerimanya dengan senang hati.
" Ayo mas, makan bersama", ajak Adel.
Setelah mengucap basmalah, mereka pun makan satu mangkuk berdua. Adel merasa lebih nikmat makan berdu begini. Hingga akhirnya satu porsi soto ayam habis tak bersisa.
" Mau lagi?," tanya Sakha menawarkan.
Adel mengangguk.
Sakha mengeluarkan lagi satu porsi soto ayam dan memasukkannya ke dalam mangkuk. Untuk sekarang, Adel makan sendiri karena Sakha sudah merasa kenyang.
Adel menikmati makanannya sementara Sakha hanya memperhatikan. Ia senang saat bisa melihat Adel makan banyak.
" Mas, boleh beliin sesuatu enggak?," tanya Adel.
" Masih lapar?," tanya Sakha kaget. Karena setelah menghabiskan satu porsi soto ayam lagi, Adel pun meminum air kelapa muda yang ia beli.
Adel hanya tersenyum.
" Aku tiba-tiba pengen rujak ...", ucapnya.
TBC
...----------------...
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak...
...Like, komentar dan subscribe...
...Terimakasih atas dukungannya...
__ADS_1
...🥰🥰🥰...